art

100 Hari Meninggalnya Mbah Kasman, Hadirkan tari spiritual hantarkan Mbah Kasman ke syurga

Dimuat Redaktur Feb 5th, 2010 dalam Kategori FEATURES, FOTO, GALERI, INFOTAINMENT, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Salah satu bentuk wayang ukur yang ditampilkan dalam film dokumenter mengenang Mbah Kasman yang dilakukan pada saat peringatan 100 hari meninggalnya pencipta wayang ukur ini, 3/2/2010.

Salah satu bentuk wayang ukur yang ditampilkan dalam film dokumenter mengenang Mbah Kasman yang dilakukan pada saat peringatan 100 hari meninggalnya pencipta wayang ukur ini, 3/2/2010.

Tak terasa, Rabu (3/2) Sigit Sukasman, penemu wayang ukur itu telah genap 100 hari menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Pihak keluarga besar bersama teman-teman dekat Mbah Kasman (panggilan akrab menggelar acara 100 hari meninggalnya Mbah Kasman di kediaman Almarhum di daerah Mergangsan.

Acara yang dilakukan di pendopo dalam rumah Mbah Kasman itu diisi dengan beberapa acara untuk menapak tilasi kehidupan Sigit Sukasman yang diawali dengan pemutaran film dokumenter yang berisi beberapa materi seperti foto-foto Sigit Sukasman saat ia memainkan wayang ukurnya juga saat ia berada di luar negeri mempertontonkan wayang ukurnya kepada masyarakat Belanda.

Film dokumenter ini juga berisi pendapat-pendapat dari seniman, dalang, eks dalang, pengajar seni, mahasiswa yang pernah berkenalan, dekat, bekerjasama dengan pria yang hingga meninggalnya belum menikah itu. Pendapat-pendapat mereka beragam (pro dan kontra) tentang sosok Sigit Sukasman.

Saat Henry masih sadar dan bersiap memasuki alam bawah sadarnya. Ini awal Henry melakukan tarian spiritual menghantar Mbah Kasman ke syurga.

Saat Henry masih sadar dan bersiap memasuki alam bawah sadarnya. Ini awal Henry melakukan tarian spiritual menghantar Mbah Kasman ke syurga.

Ada pendapat-pendapat memuja kepada Mbah Kasman. Seperti apa yang dikatakan Bambang Paningron, Mbah Kasman adalah seorang maestro karena mampu menciptakan karya wayang yang belum mempunyai petunjuk sama sekali.

“Mbah Kasman adalah sosok sangat jenius meski di beberapa hal tetap ada kelemahan namun hal itu wajar,” kata Bambang Paningron sembari menambahkan Mbah Kasman mempunyai komitmen luar biasa terhadap dunia wayang sehingga mampu mengembangkan wayang dan menemukan sesuatu yang luar biasa pada wayang.

Pengajar Seni Pedalangan IS Yogyakarta , Yoyok Abdi Wahyono memandang, Mbah Kasman mampu menghadirkan sinematografi dalam wayang sehingga penonton seperti diajak menonton film. “Ini yang tidak ada di wayang kulit sekalipun,” kata Yoyok.

Sementara itu, Yunus Nugroho mengatakan Mbah Kasman telah menciptakan jaman baru pada wayang dengan mempertajam kembali grafis wayang yang telah ada. “Ini sesuatu yang luar biasa dan tiudak semua orang mampu menampilkan hal tersebut,” kata Yunus.

Henry Purwanto mulai melakukan hubungan dengan alam bawah sadar (kosmis) pada dirinya dengan gerakan kepala hingga menyentuh tanah.

Henry Purwanto mulai melakukan hubungan dengan alam bawah sadar (kosmis) pada dirinya dengan gerakan kepala hingga menyentuh tanah.

Tahun 79 saya ketemu beliau yang baru membentuk-bentuk wayang ukur tapi belum mendekati ukuran yang diharapkan namun sudah menjadi kreasi baru, “ kata Murdoko, mantan dalang kenalan Mbah Kasman.

Murdoko bercerita saat itu ia memberikan komentar-komentar tentang pencarian-pencarian bentuk wayang ukur yang dilakukan Mbah Kasman. Tapi Mbah Kasman terus mencari-cari untuk menemukan bentuk wayang ukur sedikit demi sedikit.

“Pada tahun 82-an baru bisa mendekati bentuk yang ia anggap sesuai. Awalnya ia stress karena belum ada yang memainkan wayang buatannya. Membuat wayang sebagus ini tapi para dalang tidak mau memainkannya. Sampai akhirnya diadakan pameran,” ungkap Murdoko.

Henry yang kawan dekat Mbah Kasman ini harus hati-hati berhubungan dengan jagad cilik dan jagad gede yang ada dalam dirinya karena ia sendirian dalam melakukan tarian spiritual ini.

Henry yang kawan dekat Mbah Kasman ini harus hati-hati berhubungan dengan jagad cilik dan jagad gede yang ada dalam dirinya karena ia sendirian dalam melakukan tarian spiritual ini.

Penolakan terhadap apa yang dilakukanMbah Kasman juga hadir dalam film documenter ini. Seorang dalang, Ki Timbul misalnya, ia mengakui memang tidak mau memainkan wayang ukur yang diciptakan MBah Kasman karena merasa wayang itu memang bentuknya sudah tetap seperti yang ada saat ini.

“Tapi ya mau gimana lagi, dunia wayang yang saya mainkan yang wayang biasa itu. Bukan yang begitu (wayang ukur karya Mbah Kasman,” kata Ki Timbul seraya tersenyum.

Kritik tajam hadir pada komentar seniman Karsidi Hadi Prayitno. Ia mengatakan secara lahir organologi wayang ukur tidak nyaman kalau harus dipakai. Misalnya saja karakter buto yang diberi tambahan bentuk baru.

Henry berdo'a kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga Mbah Kasman mendapat tempat terbaik disisi-Nya.

Henry berdo'a kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga Mbah Kasman mendapat tempat terbaik disisi-Nya.

“Karena dia (Mbah Kasman) bukan pedaling tapi praktisi yang ngga bisa manggung. Kalau seni rupa dalam wayang ukur Mbah Kasman memang bagus,”

Karsidi menceritakan jaman dulu Mbah Kasman itu dikata-katai perkataan yang membuat malu, ‘kamu mati wayang kamu modar’. “Lha gimana Dosomuka diberi macem-macem,” kata Karsidi.

Setelah itu ditampilkan tarian spiritual “menghantar Mbah Sukasman ke syurga” yang dilakukan Herry Purwanto, teman dekat Mbah Sukasman dengan diiringi gendhing Ibu Pertiwi. Tarian spiritual ini banyak memperlihatkan situasi kosmis yang terjadi pada diri jagad cilik dan jagad gede seorang Henry Purwanto.

Henry menerangkan 80-90 persen tarian spiritual yang ia lakukan berada di alam kosmis (tidak sadar) . Ia masih sadar pada satu-dua menit awal sambil berdoa agar dibimbing mendapatkan gerakan yang tidak disukai.

“Dalam keadaan sadar penuh itu saya memegang dada dalam keadaan duduk awal, saya menunggu tubuh saya digerakkan alam (makro kosmos) atau jagad gede saya,” kata Henry.

Setelah itu Henry terlibat dalam ‘perang” antara alam bawah sadar dan alam sadar dalam dirinya. Sangat berbahaya jika dirinya dikuasai alam bawah sadarnya karena dalam tarian ini, tak ada satu pun orang yang mengawasi.

“Saya merasakan satu aura beliau yang terus bergerak bergerak horisontal kekiri berusaha mencari sesuatu sehingga saya harus mencari pegangan agar kuat menahan gerakan semacam aura sinar yang ada disana.

“Saya berfikir apakah Mbah Kasman sedang menyampaikan sesuatu. Kebetulan hingga meninggal,beliau ini belum menikah. Nah mungkin saja hal itu salah satu hal yang menyebabkan aura Mbah Kasman meluap-luap bebas,” kata pria yang menyebut dirinya adalah teman’aneh” Mbah Kasman

Menurut Henry Purwanto, tarian spiritual ini dilakukan sebagai do’a dzikir kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Mbah Kasman mendapat tempat terbaik disisi-Nya.“Saya membaca ayat-ayat permohonan kepada Allah.”

Pada peringatan 100 hari meninggalnya Mbah Kasman ini, juga ditampilkan tembang mocopat Sinom yang diciptakan (rakitan) Ki Bancak dan kelompok Dwija Madya Wiyata 5 Ngayogyakarta. Tembang mocopat Sinom ini berisi gambaran kepintaran Mbah Kasman menemukan wayang ukur.

Sowan jangkep satus dino,

Ugi Samyo den Pengeti,

Ki Sukasman trampil ngreko,

Amimbuhi cengkok seni

Sanggit wadana ringgit,

Mantesi mekar budyayu,

Aniti solah bawa

Numusi telenging gati

Wayang ukur riptane nggograke jagad. (The Real Jogja/joe)

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau