Tumbukan batu gamping keras dan semen membentuk kerucut dengan tancapan-tancapan gelagah dibagian atasnya ini dimaknai Hari Prajitno sebagai bentuk Linggayoni laki-laki.
Bagi Hari Prajitno, bentuk linggayoni tidak seperti pemahaman yang dimiliki orang kebanyakan yang memahami Linggayoni adalah soso€k sepasang pengantin lambang kesuburan karena mereka akan memunculkan keturunan baru.
Namun bagi seniman Surabaya ini, Linggayoni tidak berbentuk pengantin laki-laki dan perempuan . tapi berbentuk tumpukan batu membentuk hampir kerucut dengan tancapan-tancapan batang tebu muda dibagian atasnya serta anyaman-anyaman gelagah (tebu muda kering) membentuk seperti sarang burung.
Linggayoni aneh ini adalah karya seni instalasi Hari Prajitno yang dipamerkan di ruang pamer Museum Dan Tanah Liat di Menayu Kulon No 55 Bantul. Pecinta seni rupa bisa menyaksikan karya tersebut 3-12 Februari 2010 mendatang.
Beberapa pengunjung sedang menyaksikan bagian dalam bentuk sarang burung dari anyaman gelagah yang dimaknai Hari Prajitno sebagai Linggayoni perempuan.
“Saya sudah disini (Museum Dan Tanah Liat) dua minggu. Ini sih karena kegilaan Ugo aja,” kata Hari menunjuk nama pemilik Museum, Ugo Untoro.
“Yang ini…,” kata Hari Prajitno seraya menunjukkan linggayoni “laki-laki” yang berbentuk kerucut dari batu gamping keras yang dibagian atasnya sudah ditancapi puluhan gelagah. Oleh Hari Prajitno, Linggayoni “laki-laki itu seolah menyemprotkan semacam “air mani” melewati tembok pembatas ruangan pamer. Pengunjung tidak akan melihat bentuk “air mani” yang disemprotkan Linggayoni pria yang berada di sisi kakan tembok pembatas.
Barulah saat pengunjung melihat bentuk linggayoni satunya, linggayoni “perempuan” yang ada di sisi kiri tembok, terlihatkan lemparan “air mani” itu dalam bentuk anyaman-anyaman gelagah bergelembang hingga saat jatuh ditanah anyaman-anyaman gelagah itu sudah membentuk seperti sarang burung.
Dosen Seni Kriya Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya ini mengakui mencipta instalasi seperti linggayoni seperti yang ia pamerkan ini adalah persoalan lama untuk dirinya. Sejak masih mengerjakan TA kuliahnya jaman dulu ia sudah berhubungan dengan penciptaan seni kriya yang berhubungan dengan ukuran dan cara-cara menjepit (menganyam).
anyaman gelagah berbentuk gelombang yang muncul dari tembok pembatas inilah yang dipersepsikan Hari Prajitno sebagai "air mani" yang disemprotkan Linggayoni laki-laki kepada Linggayoni perempuan.
“ Sebenarnya sejak kuliah juga saat mengerjakan TA sudah pakai jepitan kayu seperti itu. Itu memang ada kecenderungan.
Sudah menjadi persoalan lama pula bagi Hari Prajitno untuk menciptakan seni kriya dimulai dari bahan yang harus dicari dan tidak harus dibeli berasal dari bahan alam. Sebab bagi Hari, bahan alam mempunyai karakter sendiri misalnya ada bau yang ditimbulkan atau bisa retak jika kering.
“Yang dipakai batu gamping keras, tanah sawah, gelagah beserta daunnya sekalian. Tapi ini semua pakai kerangka kayu agar tidak roboh saja,” jelas seniman yang pamerannya di Museum Dan Tanah Liat ini adalah pameran tunggalnya yang ke sepuluh.
Hari mengatakan dirinya tidak membawa konsepl apapun. Misalnya dia melemparkan sesuatu mirip sperma keatas tembok dia tidak meniatkan sperma itu diterima linggayoni perempuan. “Ya saya tidak menerjemahkan yang perempuan mau menerima apa tidak,” ujar Hari seraya menambahkan dirinya telah membuat sketsa karya instalasinya itu agar pengunjung paham pembuatan serta maknanya.

Inilah bagian dalam Linggayoni perempuan yang terbuat dari anyaman gelagah.
Tetapi kreasi Hari Prajitno tidak berhenti disitu. Pada tembok pembatas antar linggayoni itu, ia membangun “suasana” dari “hubungan” antar linggayoni itu. Sehingga oleh Hari, tembok pembatas yang tingginya lebih dari tiga meter itu dilumuri lumpur dalam banyak bentuk lumuran seperti bentuk-bentuk retakan, lelehan, guratan yang spontan.
“Suasana aja yang membedakan antara sisi dinding yang kanan dan yang kiri. Ngga ada gambar tertentu. Lain kalau saya nulis i love you ke siapa gitu..,” terang Hari.
Ia juga membangun suasana alam yang lebih intim pada ketika dihadirkan tumpukan sekam yang memenuhi ruang pamer.” Dinding ruang pamer inipun sebenarnya juga menjadi bagian dari karya instalasi ini,” ujar Hari Prajitno sembari tangannya mengetuk-ngetuk dinding putih ruang pamer.

Inilah bagian atas linggayoni laki-laki yang ditancapi gelagah membentuk kuncup.
Apa yang diciptakan Hari Prajitno ini, menurut Agus Burhan adalah pengejawantahan dari konsepsi seni rupa yang sekarang sedang berkembang yaitu seni rupa kontemporer yang mempunyai banyak rupa serta fase penciptaan.
“(Seni kontemporer) mempunyai ciri tersendiri dengan tetap menampilkan idiom lama namun juga menampilkan idiom-idiom baru yang tajam dan kontroversial sehingga menghasilkan karya yang mempunyai nilai orisinalitas kuat,” kata Dekan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta yang membuka pameran ini.
Karya instalasi “Something We’ve Built“ Hari Prajitno ini, menurut Agus Burhan, pengunjung dikejutkan dengan idiom-idiom yang sudah familiar namun sekaligus bisa melihat pergulatan seniman dalam menafsirkan konsep dengan memanfaatkan bahan yang ada
“Sekaligus memaknaianya dalam bentuk visual yang dekat dengan kita. Karya ini, juga mempunyai kontradiksi jika dikaitkan dengan konteks sosial serta feminisme,” kata Agus Burhan.
Agus Burhan juga memunculkan pemahaman tentang unsur tabu bagi seniman kontemporer jika menciptakan karya yang sama dengan seniman lain dalam menilai karya instalasi Hari Prajitno ini.
Namun melihat karya instalasi milik Hari Prajitno ini yang hadir adalah tidak hanya mendeformasi bentuk Linggayoni tapi sudah membuat bentuk baru dari Linggayoni itu sendiri. (The Real Jogja/joe)









