
Beberapa pengunjung pameran mendiskusikan karya seni grafis chromolitografi tentang penambangan intan di sungai Martapura dengan menggunakan alat Linggang dari kayu Ulin. Mereka harus sabar dan berpantang agar bisa mendapatkan intan. Bahkan mereka harus segera menyimpan intan didalam mulutnya agar tidak berubah lagi menjadi batu biasa.
Pada awal tahun ini, Bentara Budaya Yogyakarta menampilkan pameran seni rupa yang agak berbeda dengan pameran-pameran biasa. Bentara Budaya Yogyakarta menggelar pameran seni grafis yang menampilkan karya-karya kebudayaan serta kesenian masyarakat Borneo pada satu setengah abad lalu dalam tajuk Pameran Seni grafis Borneo 1843.
Hermanu, Direktur Operasional Bentara Budaya Yogyakarta menerangkan Bentara Budaya Yogyakarta selalu berupaya menampilkan karya-karya kebudayaan tanah air yang telah lampau maupun yang sedang ramai dibicarakan saat ini.
“Sudah menjadi tugas Bentara Budaya Yogyakarta untuk mewartakan kepada pecinta seni budaya serta masyarakat luas tentang kemajemukan seni budaya serta arsip-arsip seni lama berupa buku, manuskrip, benda-benda kuno sebagai kajian kita untuk masuk dalam masa dimana benda-benda tersebut dibuat para empu atau seniman pada jamannya,” jelas Hermanu.

Seorang pengunjung sedang memperhatikan karya grafis Suku Dayak yang sedang bekerja menjadi pandai besi di pinggiran sungai Barito.
Maka setelah sebelumnya menampilkan karya budaya suku Asmat Papua pada tahun 2008 lalu, awal tahun 2010 ini, Bentara Budaya Yogyakarta memamerkan karya seni grafis tentang pulau Borneo atau pulau Kalimantan pada tahun 1843 yang diciptakan seniman grafis Belanda C.W Mieling.
Sebanyak 21 karya seni grafis CW Meiling ini menampilkan obyek karya berupa pemandangan di danau, gunung, sungai, kampung air, pemukiman asli Dayak, Cina serta Banjar, suasana upacara tradisional suku Dayak seperti upacara penyembuhan penyakit, perang, kematian serta mengenai Sultan, kraton dan perburuan rusa.
CW Meiling mendapatkan sajian warna-warni bentuk kebudayaan tradisional Dayak dari hulu sampai hilir dua sungai besar di Kalimantan Selatan yaitu Sungai Barito dan Kahayan. Karya-karya seni grafis yang dipamerkan ini, diambil dari buku tentang Borneo tulisan D.C.A.L.M Schawer, seorang peneliti Hindia Belanda waktu itu.

Beberapa pengunjung sedang memperhatikan karya grafis yang menampilkan kehidupan sehari-hari masyarakat suku Ngajau Borneo.
Seniman asal Mandumai Kalimantan, Rokhyati yang membuka pameran ini menceritakan, kelestarian alam Borneo sejak jaman dulu hingga tahun 70-an tetap terjaga keindahannya. Hutan masih lebat menghijau dan terjaga. Anak-anak masih mandi di Sungai Kapuas yang jernih.
“Hampir seluruh kebutuhan manusia bisa diperoleh dari alam. Jaman dulu, saat orang mau menikah tinggal pergi ke belakang rumah sebentar untuk mendapatkan seekor kijang guna keperluan pesta,” kata Rohkyat.
Karya-karya seni grafis ini menyimpan nuansa dramatis sekaligus romantis dengan bentuk karya yang relatif kecil ukurannya (13X23cm). Proses kreatif penciptaan karya seni grafis ini dilakukan dengan menggunakan batu (lithografi) yang berwarna (chromolithografi).

Pengunjung dengan seksama melihat karya grafis tentang perang antarsuku di Borneo yang dilakukan selalu dilakukan pada malam hari.
Karena faktor kecilnya ukuran karya sehingga kurang bisa menggugah suasana atau aura tentang Bornoe pada masa lalu, maka pihak Bentara Budaya Yogyakarta menampilkan dua karya sekaligus, berdampingan antara karya asli dengan karya “tiruan” dalam bentuk lebih besar dengan rekayasa digital printing.
Selain kepentingan untuk menampilkan kemajuan seni-budaya masyarakat Borneo ratusan tahun silam kepada masyarakat luas, pameran ini adalah semacam pameran kontemplasi bagi semua pihak tentang kondisi Borneo jaman dulu dengan jaman sekarang.
Dalam sambutan pembukaannya Romo Shindunata mengatakan pameran ini adalah tentang realitas hidup di Kalimantan terutama di sungai Barito dan Kahayan di masa lampau yang begitu indah disaksikan.

Seorang pengunjung sedang mengabadikan karya grafis C.W Meiling berupa perlengkapan rumah tangga dan berburu yang dimiliki masyarakat suku Borneo.
Pameran ini sekaligus bisa dijadikan nostalgia terhadap Borneo di masa lampau sehingga semua pihak menjadi sadar bahwa masa lampau Borneo mempunyai nilai kehidupan luar biasa terutama dalam bentuk air serta sumber daya alam yang lain.
Sayangnya keadaan sekarang tidak seperti dulu lagi karena diobrak-abrik kepeintingan bisnis semata.Melimpahnya sumber daya alam tidak bisa digunakan penduduk asli. Hutan yang begitu luas ukurannya sekarang menjadi gundul akibat eksploitasi berlebihan.
“Penduduk setempat pun hanya mendapat debu-debu dari truk-truk pengangkut batubara yang entah dibawa kemana,” kata Romo Sindhunata.

Bekas pepohonan dari hutan di Kalimantan juga dipamerkan untuk semakin menggugah pengunjung mengetahui lebih banyak kehidupan masyarakat di pulau Kalimantan.
Rokhyat menjelaskan kerusakan alam di Kalimantan semakin hari semakin menjadi. Manusialah yang merusak dan mengganggu harmonisasi alam dengan mengeksploitasinya tanpa berfikir menjaga kelestariannya.
“Selain hutan digunduli, tanah Kalimantan juga digali untuk diambil batubaranya,” kata Rokhyat seraya menambahkan masyarakat Kalimantan sendiri cenderung membiarkan tanah kelahirannya diambil orang lain.
Masyarakat Kalimantan, kata Rokhyat, begitu toleran. Mereka lebih memikirkan agama dan kepercayaan mereka daripada kehidupan dunia. “Barangkali juga mereka percaya akan karma,” ujar Rohkyat. (The Real Jogja/joe)

Banyak pengunjung Pameran Seni Grafis Borneo 1843 saling berdiskusi setelah melihat karya-karya grafis kromolitografi karya C.W Meiling.









