art

Golden Dragon Band, penjaga terakhir lagu Mandarin di Yogyakarta

Dimuat Redaktur Feb 3rd, 2010 dalam Kategori FEATURES, KIPRAH, KISAH, KIPRAH, GAYA HIDUP. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Personil lengkap grup band pelantun lagu-lagu Mandarin dari Yogyakarta saat Jumpa Pers di Melia Purosani, Senin (2/2).

Personil lengkap grup band pelantun lagu-lagu Mandarin dari Yogyakarta saat Jumpa Pers di Melia Purosani, Senin (2/2).

Untuk warna oriental, Yogyakarta tak sekentara Bandung, Jakarta apalagi Surabaya, kota yang begitu kental dengan warna orientalnya. Sehingga tak aneh jika ada grup musik (band) dengan warna oriental dari Yogyakarta, selalu saja dianggap dari kota yang lain.

Itulah yang begitu sering dialami Golden Dragon Band, sebuah grup band Mandarin (oriental) ketika manggung di kota-kota lain di Indonesia. “Banyak yang ngga percaya. Seringnya sih kita dianggap dari Surabaya. Karena memang Surabaya adalah kota dengan warna oriental paling kelihatan,” kata I Cun Lin, vocalist Golden Dragon Band.

Bisa dikatakan, kelompok musik yang muncul pertama kali 5 Februari 2000 ini adalah penjaga terakhir budaya Oriental khususnya lagu-lagu berbahasa China, di dan dari Yogyakarta. Sebab seperti yang diungkapkan I Cun Lin, tinggal grup band inilah satu-satunya grup band berciri oriental di Yogyakarta. “Dulu sih masih ada beberapa, tapi sekarang sudah tidak ada. Tinggal kita-kita ini,” kata pria berambut perak ini, Selasa (2/2).

Kenyataan ini tentu amat disayangkan I Cun Lin. Bagaimanapun adalah kebanggaan kalau bagian dari pemilik kebudayaan mampu mempertahankan budaya yang dimiliki dari pendahulu. “Lagu-lagu Mandarin adalah kebanggaan kita,” ujar pria yang juga manager band ini.

I Cun Lin akhirnya menjadi sosok sentral dari kelompok musik yang beranggotakan tujuh orang ini. Menurut pengakuan I Cun Lin, sekarang ini, tinggal dirinya yang bisa berbahasa Mandarin diantara teman-temannya. Sementara anggota band lain, belum banyak menguasai bahasa Mandarin tapi lancar berbahasa Indonesia.

Dari sisi popularitas, jangan ditanya. Meski tanpa kawan menekuni jalur musik Mandarin di Yogyakarta, namun popularitas Golden Dragon Band cukup disegani. Mereka dalah setahun mampu melakukan pentas 60-70 kali dengan berkeliling ke kota-kota besar di tanah air seperti Pontianak, Bandung, Jakarta, Medan serta Surabaya.

Diawal-awal tahun ini saja sudah ada 20-30 pentas dan rencana pentas. Untuk perayaan imlek kita sudah ada 8 rencana pentas,” ungkap I Cun Lin.

Mereka pun telah menciptakan album musik oriental dengan menempuh jalur indie dan beberapa kali lagu-lagu mereka diminta perusahaan mayor label dijadikan hit single. Sebanyak lima album telah diciptakan Golden Dragon Band. Album pertama mereka buat pada tahun 2003. Selain itu, grup band ini juga diminta Indosiar untuk menciptakan theme song acara kontes pencarian bakat penyanyi mandarin pada tahun 2008 lalu.

Kemampuan bermusik kelompok musik ini, tentu saja sudah tidak diragukan lagi. Mereka mampu membawakan berbagai jenis musik dan lagu seperti rap, hip-hop, pop hingga klasik Mandarin. Mereka juga mampu membuat lagu-lagi Mandarin sendiri meski menurut pengakuan I Cun Lin, kebanyakan lagu orang yang mereka mainkan.

Golden Dragon Band digawangi oleh I Cun Lin, Sanley Zhong dan Steve Zhang sebagai vocalist, kemudian aada Bertho Yu (keyboard), Dhanny Ji (gitar), Andre Wu (bass) dan Henz Wei (drum). Seperti grup band umumnya, mereka sudah tidak terhitung mengalami pergantian personil sejak awal berdirnya. Pergantian personil ini merata terjadi di semua alat musik.

“Sekarang pun kita sedang mencari satu vocalist wanita,” ungkap Cun, nama akrab I Cun Lin.

Meski harus sendirian di Yogyakarta, I Cun Lin sangat optimis dengan eksistensi Golden Dragon Band di masa depan. Selain itu, masih banyak keinginan yang ingin anggota kelompok band ini yang ingin di raih misalnya saja bisa rekaman di level mayor label.

Kita terus berada di band ini. Sampai kapanpun,” kata I Cun Lin bersemangat. Karena kita bisa hidup dari band ini.” (The Real Jogja/joe)

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau