
Pengunjung pameran sedang memperhatikan sebuah foto fotografi berjudul "Ungkapan Rasa" karya Muhammad Washal Fallah dari LSM Mutiara Bunda yang menjadi salah satu foto yang ditampilkan dalam Pameran Fotografi Inklusifisme Gitu Aja Kok Repot di Badan Sosial Mardi Wuto Yogyakarta.
Ideologi inklusivisme barangkali saja masih menjadi isme baru bagi masyarakat. Isme baru itu pun dinilai sangat “eksklusif” karena banyak yang menilai inklusivisme adalah kelompok masyarakat yang tidak mempunyai nilai tawar seperti kelompok manusia difabel (cacat). Diffently able people
Pandangan salah kaprah tersebut ingin dihilangkan oleh Dria Manunggal, sebuah lembaga penelitian, penguatan dan pembangunan untuk masyarakat difabel, bersama beberapa LSM yang peduli terhadap isu difabilitas dan sosial dengan menyelenggarakan kegiatan Pameran Foto “Inklusivisme” Difabilitas Tanpa Bingkai #2 bertempat di Badan Sosial Mardi Wuto Jl. Cik Ditiro No. 5A Yogyakarta .
Ketua Panitia Pameran, Salamun Triwidadi menerangkan tema inklusivisme ini diambil karena sampai saat ini kelompok-kelompok masyarakat yang terbentuk masih didasarkan atas kesamaan (eksklusifitas) sehingga terjadi friksi dengan masyarakat yang mengedepankan perbedaan dalam masyarakat (inklusifitas) yang menyebabkan terpinggirkannya kelompok-kelompok kecil masyarakat.

Seorang pengunjung sedang memperhatikan deretan fotografi yang menampilkan dunia inklusivisme kaum difabel yang dipamerkan di Badan Sosial Mardi Wuto Yogyakarta 30 Januari- 2 Februari 2010.
“Kelompok difabel merupakan salah satu kelompok di tanah air yang masih menerima perlakukan diskriminatif karena dipandang sebagai kelompok lemah yang tidak mempunyai nilai tawar.”
Pernyataan Salamun tentang inklusifisme itu terasa begitu dekat dengan sosok seorang Abdurahman Wahid yang telah meninggal beberapa waktu lalu. Gus Dur dianggap banyak pihak adalah ‘Bapak Inklusivisme’ karena paradigma dan perilaku tanpa menbedakan golongan masyarakat yang selama hidupnya terus ia jalankan.
Maka Pameran Foto Inklusivisme inipun dilakukan dalam rangka memperingati jelang 40 hari meninggalnya Gus Dur. Tema pameran pun akhirnya menjadi cukup panjang, Pameran Foto Inklusivisme Gitu Aja Kok Repot.Difabillitas Tanpa Bingkai #2.
Karya fotografi “Gus Dur-Children” milik Wahid Institute turut dipamerkan dalam pameran yang juga dilakukan untuk memperingati jelang 40 hari meninggalnya Gus Dur, Bapak Inklusifisme.
Pameran fotografi dengan tema inklusifisme yang digelar Dria Manunggal dan jaringan LSMnya ini sudah pernah dilakukan pada tahun 2004 yang lalu. Pameran ini tidak menghadirkan karya fotografi dengan nilai artistik yang tidak begitu berlebih karena memang semangat pameran ini adalah untuk menyosialisasikan ideologi inklusifisme agar tumbuh dan berkembang di masyarakat.
“Kita menyosialisasikan ideologi,” kata Salamun. “ Dengan ideologi inklusivisme ini terjadi saling menghargai antaranggota masyarakat dari berbagai latar belakang termasuk difabel.”
Selain Dria Manunggal, ada pula Mutiara Bunda, Indeed (Aceh), Helen Keller International (Jakarta) juga Wahid Institute milik Gus Dur, Arbeiter Samariter-Bund Deutscland (ASB) yang memamerkan sekitar 50 karya foto dan karikatur yang pernah dibuat oleh anggota LSM-LSM tersebut.

Karya karikatur tentang impian persamaan hak hidup antara anak difabel dan anak normal seperti karikatur berjudul "Could Be Like This?" ini juga ditampilkan oleh anggota Dria Manunggal.
Karya-karya fotografi serta karikatur yang dipamerkan semua berwarna hitam putih. Karya-karya tersebut terpasang dalam panel-panel yang digantung pada bambu-bambu serta langit-langit ruang pamer.
Wahid Institute misalnya memamerkan foto-foto tentang kegiatan didalam negeri maupun di luar negeri misalnya saat Gus Dur bertemu Bill Clinton, Yassier Arafat serta Paus Yohanes Paulus II. Tak ketinggalan pula dipamerkan foto Gus Dur bercengkerama dengan anak-anak difabel.
Sementara anggota Helen Keller International menghadirkan foto-foto kegiatan kaum difabel yang mengikuti program pemberdayaan kaum difabel yang diselenggarakan LSM internasional ini. Ada foto “Annisa-Tuna Rungu” yang memperlihatkan bocah perempuan sedang berprakarya bersama teman-temannya.

Sebuah foto berjudul " Pendidikan Pengurangan Resiko Bencana ABK" juga dipamerkan LSM Arbeiter Samariter-Bund Deutscland (ASB). Foto ini menampikan pengajaran tentang cara untuk mengurangi resiko menjadi korban bencana kepada siswa berkemampuan kurang.
Sama dengan Helen Keller International, Arbeiter Samariter-Bund Deutscland (ASB) juga memamerkan fotografi berisi kegiatan-kegiatan penguatan kaum difabel yang mereka lakukan. Dalam karya foto berjudul “Nanti Pulangnya Bareng Ya “ diperlihatkan tentang suasana keakraban antara anak-anak difabel dalam kehidupan sehari-hari mereka di sekolah.
Juga ada foto “Pendidikan Pengurangan Resiko Bencana untuk ABK” yang memperlihatkan pengajaran tentang pengurangan resiko bencana seorang guru kepada murid-murid berkemampuan kurang didalam kelas.
Sebagai pemrakarsa pameran ini, Driya Manunggal menampilkan banyak sekali foto yang menampilkan kegiatan-kegiatan pemberdayaan kaum difabel yang mereka lakukan serta karikatur mengenai cita-cita menjalani hidup yang sama dengan anggota masyarakat lainnya.

Foto "Try, Find, and Feel It" milik Dria Manunggal juga turut dipamerkan pada pameran foto tentang inklusifisme yang sudah dilakukan dua kali ini.
Dalam foto “Try, Find, and Feel It” diperlihatkan tentang kaum difabel yang tak bisa melihat yang diminta untuk merasakan tampilan program didalam sebuah komputer. Ada pula ambar karikatur “Could Be Like This?” yang dibuat Dayat yang menggambarkan anak difabel bermain ayunan timbangan dengan anak normal. Tentu saja Dayat sangat berkeinginan adanya kesetaraan menjalani hidup yang bisa diperoleh kaum difabel.
Sebuah foto hitam putih cukup menarik ditampilkan Muhammad Wassal Fallah anggota LSM Mutiara Bunda berjudul “Ungkapkan Rasa”. Foto ini menampilkan seorang bocah laki-laki difabel yang ingin berdekatan dengan bocah perempuan yang berparas manis. Foto ini amat kuat menampilkan kesan begitu alaminya persahabatan dua bocah yang harus mempunyai “nasib” berbeda.

"Annisa-Tuna Rungu" karya fotografi milik anggota Helen Keller Internasional.
Selain itu hadir foto-foto karya individu yang tidak menyebutkan nama lembaga mereka. Ada Frederick Gadhauna dalam foto “Jangan Halangi Aku Untuk Maju”, “Who Said I Can’t Do” karya Mila, “Bermain Bersama” karya Yudhi Asmara dan “I’m So Comfortable” karya Teuku Arfa.
Sekali lagi, foto-foto itu menunjukkan tentang kemampuan anak-anak serta orang dewasa difabel yang sesungguhnya mampu mengerjakan kegiatan yang dilakukan anggota masyarakat umumnya. Persis seperti makna dari kata difabel itu yang berarti Differently Able People. Bahwa kaum difabel mampu melakukan apapun seperti yang orang umum lakukan. Cuma caranya saja saja yang berbeda. (The Real Jogja/joe)

Tulisan-tulisan tentang teori inklusifisme juga dihadirkan panitia pameran untuk menyambut pengunjung Pameran Fotografi Inklusifisme Gitu Aja Kok Repot. Tulisan-tulisan itu sengaja dibuat sebagai penutup lampu sehingga jika lampu tersebut dihidupkan pada malam hari tulisan-tulisan tersebut akan terlihat.










keren….sayang saya tidak sempat lihat, karena gak tau infonya….