art

Museum Dan Tanah Liat Akan Gelar Pameran Tunggal Seni Instalasi Karya Hari Prajitno.

Dimuat Redaktur Feb 1st, 2010 dalam Kategori FEATURES, FOTO, GALERI, INFOTAINMENT, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Karya Instalasi berupa tumpukan bebatuan yang membentuk tonggak atau menara yang bisa menjadi penanda siapa penatanya, adalah salah satu karya instalasi Hari Prajitno yang akanm dipamerkan dalam pameran tunggalnya di Museum Dan Tanah Liat, 3-21 Februari 2010 mendatang.

Karya Instalasi berupa tumpukan bebatuan yang membentuk tonggak atau menara yang bisa menjadi penanda siapa penatanya, adalah salah satu karya instalasi Hari Prajitno yang akanm dipamerkan dalam pameran tunggalnya di Museum Dan Tanah Liat, 3-21 Februari 2010 mendatang.

Mengawali tahun 2010 ini, Museum Dan Tanah Liat akan menggelar pameran tunggal seni instalasi dengan menampilkan karya-karya seni instalasi Hari Prajitno, Dosen Seni Murni Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.

Pameran tunggal Hari Prajitno ini akan dilangsungkan Rabu, 3-21 Februari 2010 pukul 20.00 WIB di ruang pamer Museum Dan Tanah Liat di Menayu Kulon No.55 Kasihan Bantul.

Judul “Something We’ve Built” akan menjadi bingkai karya-karya seni instalasi Hari Prajitno yang diciptakan dari berbagai bahan seperti batu, rumput, kawat serta tanah liat.

Hari Prajitno juga akan menampilkan karya seni instalasi tumpukan rerumputan/ilalang membentuk semacam rumah burung ini.

Hari Prajitno juga akan menampilkan karya seni instalasi tumpukan rerumputan/ilalang membentuk semacam rumah burung ini.

Hari Prajitno menerangkan konsep karya seni instalasi “Something We’ve Built” ini berasal dari kejadian atau benda sehari-hari yang sangat mungkin disepelekan keberadaannya. Benda-benda itu antara lain bebatuan dan rerumputan/ilalang.

“Padahal apapun di sekeliling akan memiliki nilai bahkan makna; mengapa mereka harus bersanding di sekeliling dimana kita tinggal dan hidup,” kata Hari.

Misalnya saja. Kata Hari Prajitno, segenggam tanah liat (lempung) misanya bila dibuat lubang ditengahnya maka akan tercipta ruang yang bisa digunakan sebagai wadah. Atau mangkok porselin adalah sebuah wadah yang tidak mudah terkontaminasi sekalipun dituangi racun dan juga tahan akan suhu tinggi, tetapi porselin amatlah rentan benturan dan mudah pecah.

“Tumpuklah berkeping-keping batu hingga tersusun menyerupai tonggak atau menara, disitulah kegunaan bebatuan, mereka akan menjadi penanda siapa penatanya. Begitulah peran sebagai penanda hendak mengisi mangkok dengan apa, atau bagaimana cara membawa/ merawat/ menghormati tergantung padanya,” jelas seniman berusia 42 tahun ini.

Pameran tunggal yang kali ke sepuluh yang akan dilakukan Hari Prajitno ini akan dibuka oleh Agus Burhan, Dekan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. (The Real Jogja/joe)


Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau