art

Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong “Cecak Nguntal Cagak, bentuk kethoprak kontemporer yang diminati publik

Dimuat Redaktur Jan 31st, 2010 dalam Kategori FEATURES, FOTO, GALERI, INFOTAINMENT, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Adegan saat pemain gamelan menjadi wartawan yang berebut meminta keterangan Tumenggung Nistura (Den Baguse Ngarso) soal penyelidikan yang ia lakukan terhadap Patih Digdoyo (Sronto) dimana akhirnya penyelidikan tidak bisa dilanjutkan karena patih Digdoyo sakit.

Adegan saat pemain gamelan menjadi wartawan yang berebut meminta keterangan Tumenggung Nistura (Den Baguse Ngarso, berbaju kuning) soal penyelidikan yang ia lakukan terhadap Patih Digdoyo (Sronto, berbaju merah) dimana akhirnya penyelidikan tidak bisa dilanjutkan karena patih Digdoyo sakit.

Kalau kontemporer dimaknai sebagai keterkinian yang selalu berubah-ubah, maka pertunjukan kethoprak yang ditampilkan kelompok Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong pada Sabtu malam (30/1) di concert hall Taman Budaya Yogyakarta amat bisa menjadi bentuk dari kethoprak kontemporer itu sendiri.

Pertunjukkan kethoprak dengan lakon ”Cecak Ngunthal Cagak” ini hadir dengan gaya baru berkethoprak dengan hadirnya bentuk pementasan yang di dunia teater dinamai dramaturgi, atau secara gampang disebut sebagai bisnis akting. Peran musik yang dalam kethoprak konvensional menjadi salah satu faktor yang wajib muncul untuk menghidupkan pentas, pada pertunjukan semalam, peran itu telah surut. Musik seperti menjadi pelengkap saja.

Tata artistik panggung kethoprak konvensional yang sebisa mungkin menghadirkan simbol atau tanda tempat, lokasi yang mirip dalam cerita aslinya, pada kethoprak ringkes ini, hal-hal tersebut tidak muncul sama sekali. Tema-tema pertunjukan yang ingin disampaikan dalam kethoprak ringkes ini lebih membicarakan persoalan kekinian, begitu berbeda dengan tema-tema kethoprak konvensional yang selalu bercerita tentang kehidupan masa lalu dalam bentuk cerit-cerita babad kerajaan di tanah Jawa.

Pementasan Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong ini banyak menampilkan adu akting yang sangat menghibur penonton. Diantaranya adalah adegan Den Baguse Ngarso (Tumenggung Nistura) dengan Yu Ningsih (Yu Beruk) yang saling mengecek tentang umur mereka yang sama-sama sudah tua dan tidak punya vitalitas lagi.

Pementasan Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong ini banyak menampilkan adu akting yang sangat menghibur penonton. Diantaranya adalah adegan Den Baguse Ngarso (Tumenggung Nistura) dengan Yu Ningsih (Yu Beruk) yang saling mengecek tentang umur mereka yang sama-sama sudah tua dan tidak punya vitalitas lagi.

Semua itu bisa dihadirkan dengan begitu apik oleh anggota kelompok kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong yang mempunyai pengalaman bermain teater, bermain kethoprak yang mumpuni. Nama-nama seperti Marwoto ”Kawer”, Susilo Nugroho ”Den Baguse Ngarso”, Sudiharjo ”Sronto”, Yu Ningsih ”Mbok Beruk” Nano Asmorodono adalah nama-nama mumpuni itu. Mereka didukung oleh beberapa pemain-pemain kethoprak generasi terbaru Yogyakarta yang potensial seperti Ari Purnama serta Rini Widyastuti.

Judul pementasan ”Cecak Nguntal Cagak”, sebuah cerita carangan karya Susilo Nugroho menjadi ”sarana” untuk menampilkan sederet bentuk baru kethoprak kontemporer ala kelompok kethoprak yang digawangi Susilo Nugroho tersebut.

Jika dramaturgi dalam dunia teater dimaknai aksi yang terdiri dari tingkah laku yang disengaja dan mempunyai maksud namun tidak bertujuan, hal tersebut mampu dihadirkan dengan cukup luwes oleh Ari Purnomo yang berperan sebagai raja Prabu Kasmala Negara saat berinteraksi-berkomunikasi berjalan wira-wiri meminta dukungan warganya untuk mendengarkan pidatonya (namun warga emoh mendengarnya).

Inilah adegan yang paling banyak membuat penonton pementasan kethoprak pada Sabtu malam (30/1) tertawa terpingkal, saat dua seniman panggung pengalaman Den Baguse Ngarso dan Marwoto beradu akting memainkan plot kethoprak dan dagelan dalam yang penuh kelucuan saat mereka membahas 12 anak Patih Digdoyo yang terlibat dalam penyelewengan uang negara. Mereka menggunakan kaki, tangan dan anggota badan lainnya untuk membangun adegan yang menghibur.

Inilah adegan yang paling banyak membuat penonton pementasan kethoprak pada Sabtu malam (30/1) tertawa terpingkal, saat dua seniman panggung pengalaman Den Baguse Ngarso dan Marwoto beradu akting memainkan plot kethoprak dan dagelan dalam yang penuh kelucuan saat mereka membahas 12 anak Patih Digdoyo yang terlibat dalam penyelewengan uang negara. Mereka menggunakan kaki, tangan dan anggota badan lainnya untuk membangun adegan yang menghibur.

”Biasanya dalam kethoprak konvensional raja selalu duduk di singgasana untuk menunjukkan kewibawaannya tapi disini Ari selalu bergerak kesana kemari,” kata Agus Prasetyo, sutradara pementasan ”Cecak Ngguntal Cagak”.

Demikian pula saat Rini Widyastuti yang berperan Raden Ayu Ratimaya menendang kaki suaminya Tumenggung Nistura yang tergeletak mati (ia bunuh sendiri) bagi Agus, itulah ’bisnis akting’ dalam dunia teater.

Musik dalam pementasan kethoprak Sabtu malam itu, ditampilkan sebagai perekam suasana atau sebagai efek suara dan sama sekali tidak punya pengaruh banyak dalam pementasan selayak pentas kethoprak konvensional.  ”Tidak ditampilkan misalnya iringan musik yang berbarengan dengan dialog pemain yang sering muncul pada banyak pentas kethoprak konvensional,” kata Agus.

Adegan Sronto dan Den Baguse Ngarso juga mengundang tawa penonton yang diingatkan akan peran dua seniman panggung ini dalam drama bahasa Jawa televisi "Mbangun Desa" yang pernah populer tahun 1990-an.

Adegan Sronto (Patih Digdoyo) dan Den Baguse Ngarso (Tumenggung Nisturo) juga mengundang tawa penonton. Mereka berdua terlibat dalam adegan pemeriksaan dugaan penyelewengan uang negara oleh Patih Digdoyo.

Memang kemunculan musik dalam pentas semalam bisa dihitung dengan jari tangan. Pemain musiknya malah ikut bermain menjadi wartawan yang mewawawancarai pemain utama kethoprak ini. Misalnya Mereka mewawancarai Tumenggung Tisnura atau raja Prabu Kasmala Negara.

Tata panggung pementasan kethoprak kelompok Ringkes itu juga sangat minimalis.Tak ada properti panggung seperti tempat duduk raja, ruangan tempat pertemuan agung kerajaan, aneka bunga atau tumbuhan penghias setting suasana.

Yang ada adalah properti kayu tempat duduk dibuat seperti bangku tempat duduk, “tempat duduk” raja yang hanya berbentuk undak-undakan tempat raja berdiri. Untuk dekorasi ruangan pentas pun hanya digunakan kain warna hitam yang biasa dipakai untuk pentas teater.

Adegan meminta data  simpanan bank oleh Tumenggung Candramawa kepada Sarjono, begitu enak ditonton berkat akting watak yang mempesona dari dua seniman kethoprak senior Sarjono dan Marwoto.

Adegan meminta data simpanan bank oleh Tumenggung Candramawa kepada Sarjono, begitu enak ditonton berkat akting watak yang mempesona dari dua seniman kethoprak senior Sarjono dan Marwoto.

Judul, cerita, lakon pertunjukan kethoprak ini pun menjadi penanda dari kampanye keberadaan kethoprak yang memasuki era kontemporer. Sudah tidak ada lagi cerita tentang kerajaan Demak Bintara misalnya, atau kerajaan Blambangan seperti pentas kethoprak konvensional. Yang muncul adalah cerita rekaan (carangan) yang menampilkan realitas kehidupan sosial-ekonomi-politik tanah air yang dicoba dimasukkan dalam ranah kesenian tradisional yang begitu erat kaitannya dengan kehidupan jaman dulu.

Maka lahirlah cerita tentang Cegak Nguntal Cagak” yang menceritakan tentang terjadinya penyelewengan uang negara yang melibatkan petinggi-petinggi negara yang nama-namanya dibuat begitu Jawa. Ada sang raja bernama Prabu Kasmala Negara (Ari Purnama), ada dua penyidik Tumenggung Nistura (diperankan Den Baguse Ngarso) serta Tumenggung Candramawa (dimainkan Marwoto), pencari fakta (Raden Ayu Ratimaya) serta Patih Digdoyo (Sudiharjo “Sronto”).

Walaupun tak sama persis awal, selama dan berakhirnya cerita, judul Cecak Nguntal Cagak dapat ditebak dengan mudah oleh penonton sebagai cerita yang mirip persoalan Bail out Bank Century yang diindikasikan melibatkan beberapa petinggi negara.

Raden Ayu Ratimaya (diperankan Rini Widyastuti) tega membunuh suaminya sendiri Tumenggung Nistura (Den Baguse Ngarso) untuk bisa menduduki jabatan tinggi di kerajaan.

Raden Ayu Ratimaya (diperankan Rini Widyastuti) tega membunuh suaminya sendiri Tumenggung Nistura (Den Baguse Ngarso) untuk bisa menduduki jabatan tinggi di kerajaan.

Selebihnya, pertunjukkan kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong ini sukses karena kepintaran berakting kethoprak anggota kelompok ini yang sudah puluhan tahun bermain dalam seni panggung. Publik pecinta seni panggung Yogyakarta dijamin akan terhibur dengan adu akting seniman panggung papan atas seperti Marwoto, Den Baguse Ngarso, Sronto dan Yu Beruk.

Penonton tertawa terpingkal melihat adegan Den Baguse Ngarso yang selalu menyalahkan setiap kalimat jawabab Yu Beruk yang diberikan kepada pada saat dirinya menginterogasi Yu Beruk karena mencuri semangka tetangganya.

Demikian pula saat Marwoto beradu akting dengan Den Baguse Ngarso. Pergantian Plot peran dan bahasa dari plot kethoprak menjadi plot dagelan, dari suasana serius menjadi bercanda berhasil dibawakan dua seniman panggung populer itu nyaris sempurna.

Adegan perang antara Prabu Kasmala Negara (Ari Purnama) dengan Tumenggung Candramawa (Marwoto) yang terjadi karena sang raja tidak bersedia mengakui keterlibatan dirinya dalam kasus penggelapan uang negara.

Adegan perang antara Prabu Kasmala Negara (Ari Purnama) dengan Tumenggung Candramawa (Marwoto) yang terjadi karena sang raja tidak bersedia mengakui keterlibatan dirinya dalam kasus penggelapan uang negara.

Penulis naskah Cecak Nguntal Cagak, Susilo Nugroho mengakui pihaknya mengambil bahan cerita yang sudah ada di hadapan publik yang berisi pesan-pesan sosial yang kemudian dipraktekkan dalam seni pertunjukan.

“Seni kethoprak sesungguhnya kesenian yang sangat akomodatif terhadap perubahan, dengan menggunkan bahasa yang komunikatif serta isi cerita yang tidak formal sekali,” katanya.

Penuhnya penonton yang mengisi kursi pertunjukan di concert hall TBY Sabtu malam lalu dimana mereka selalu tertawa saat adegan lucu dan banyak yang ikut menebak-nebak alur cerita (dengan teman nonton disebelahnya) adalah bukti bahwa konsep baru berkesenian kethoprak dari kelompok kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong mampu menjadi alternatif baru menyaksikan seni kethoprak di Yogyakarta. ( The Real Jogja/joe)

Akhirnya sang Raja Kasmala Negara turun tahta dengan sendirinya akibat malu karena sudah tidak dipercaya satupun penduduknya yang tak bisa percaya lagi dengan dirinya karena keterlibatan dirinya dalam penyelewengan uang negara.

Akhirnya sang Raja Kasmala Negara turun tahta dengan sendirinya akibat malu karena sudah tidak dipercaya satupun penduduknya yang tak bisa percaya lagi dengan dirinya karena keterlibatan dirinya dalam penyelewengan uang negara.

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau