
Beberapa guru dan remaja putri sedang melagukan titi laras Slendro Pathet Songo dalam workshop macapat di Karta Pustaka, Kamis (28/1).
Dengan menggunakan ruang dalam Karta Pustaka, Lembaga Kebudayaan Indonesia Belanda itu menyelenggarakan workshop macapat untuk masyarakat umum, Kamis (28/1). Workshop macapat ini adalah bagian dalam rangkaian kegiatan Pameran Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar Indonesia”, sebuah pameran yang memamerkan berbagai macam bentuk pusaka benda (tangible) tak benda (intangible) serta perpaduan alam dan benda (saujana).
Workshop macapat diasuh oleh Suharyono, seorang penatar budaya Jawa tingkat Provinsi DIY dan diikuti guru-guru bahasa Jawa serta beberapa remaja dan anak-anak. Workshop ini diselenggarakan sebagai upaya ngleluri kebudayaan Jawa berupa tembang macapat sebagai salah satu bentuk pusaka tanah air tak benda (intangible).
Workshop macapat ini dilakukan dengan dua cara. Pertama pemberian pemahaman mengenai sejarah dan seluk beluk macapat dan kedua berlatih melagukan (nembang) macapat. Bagian pertama disampaikan oleh Suharjono tentang sejarah kemunculan macapat serta kapan masyarakat jaman dulu mulai mengenal macapat masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Begitu pula dengan jumlah metrum (jenis) macapat.

Workshop macapat ini diasuh oleh Suharjono, seorang penatar budaya Jawa tingkat Provinsi DIY dari Bantul.
Suharyono menyampaikan pengertian yang disampaikan beberapa ahli budaya Jawa masa lalu. Misalnya Purbatjaraka yang mengatakan macapat lahir bersamaan dengan syair berbahasa Jawa tengahan, Sementara tentang kapan macapat mulai dikenal, Suharyono menyampaikan pendapat ahli budaya Jawa lain, Pigeud yang berpendapat tembang macapat digunakan pada awal periode Islam.
Istilah macapat sampai sekarang juga masih mengalami silang pendapat. Ada yang berpendapat kata Macapat berasal dari kata “ma” dan “cepat” artinya membacanya harus cepat. Ada pula pendapat lain bahwa macapat dimaknai dengan macane papat-papat,” kata Suharyono.
Tentang jumlah metrum tembang macapat juga masih menjadi perdebatan. Menurut Suharyono, ada yang berpendapat jumlah metrumnya 11 ada pula 15. Yang sebelas itu adalah Dhandanggula, Sinom, Asmaradhana, Kinanthi, Pangkut, Mijil, Maskumambang, Durma, Pocung, Gambuh dan Megatruh.
Seorang remaja putri tampak sedang serius melagukan slendro pathet songo pada tembang macapat jenis dolanan.
“Yang 15 itu memasukkan metrum Balabak, Wirangrong, Jurudemung dan Girisa. Pun masih ada tembang macapat lain lagi namanya Manggal,” ungkap Kepala Sekolah SDN Pundong Bantul ini.
Selain menerangkan sejarah macapat Suharjono juga menerangkan tentang seluk beluk macapat antara lain tentang watak 11 tembang macapat, guru gatra (jumlah baris dalam satu bait macapat), guru wilangan (jumlah suku kata (wanda) dalam setiap baris tembang) serta guru lagu (jatuhnya suara vokal di setiap akhir bari (gatra)).
Watak tembang Dhandanggula itu manis, luwes dan memukau. Sinom berwatak senang, gembira dan memikat. Asmaradana menyiratkan sedih, rindu dan mesra. Kinanthi menampilkan watak terpadu, gembira serta mesra. Pangkur berwatak gagah, perwira, bergairah dan bersemangat. Mijil berwatak terharu dan terpesona.
“Maskumambang itu wataknya susah, sedih, terharu, merana, penuh derita. Durma bersemangat, keras dan galak, Pocung santai dan seenaknya. Gambuh itu wajar, jelas dan tanpa ragu-ragu. Megatruh wataknya susah, sedih, kecewa dan menerawang,” jelas pria bersuara berat ini.

Seorang remaja pria juga terlihat sungguh-sungguh melagukan titi laras slendro pathet songo pada lagu macapat dolanan.
Selain itu, kepada peserta juga diterangkan tentang aturan tembang Macapat seperti Panca Purba yang berisi lima cara melagukan macapat yaitu laras, titi laras, pedhotan, andegan dan pathet. Laras adalah nada atau tatanan suara yang ajeg (tetap). Titi laras adalah cara menulis tembang menggunakan laras agar laras mudah dikuasai. Pedhotan adalah istilah untuk tempat pemberhentian (andhing lagu), agar tidak terkesan krenggosan.
Andhegan adalah pemberhentian tembang ing akhir gatra. Pathet berguna untuk pathokan laras tembang untuk menentukan tinggi rendahnya suara atau mendudukkan lagu/tembang.
“Jam pitu mang… kat sekolah.itu boleh dilakukan tapi harus cepat. Mung sedilit banget (berhentinya), “ kata Suharyono kepada peserta saat menerangkan pedhotan kenceng yaitu pedhotan ditengah kata yang tidak utuh.
Bagian kedua dari workshop macapat adalah berlatih melagukan tembang macapat. Untuk melatih peserta, Suharyono dibantu koleganya, Parjilan, guru SDN Kepalan Jetis Bantul. Mereka berdua menghadirkan titi laras slendro pathet 9 untuk melagukan lagu dolanan Kamit, lagu Bang-Bang Wis Rahino dengan titi laras Pelok Nem serta Manuk Prenjak bertiti laras pelok pathet barang.

Beberapa anak juga mengikuti workshop macapat ini.
Sebelum ke beberapa lagu dolanan itu, Suharjono mengajak peserta melagukan titi laras Slendro Pathet songo pada lagu Bendrong yang titi larasnya: 5-3-5-2-5-2-5-3 hingga dua kali. Kemudian 5-3-5-2-5-2-5-2-5-6, 1-6-1-5-1-5-1-6 dua kali serta 2-3-2-1-6-5-2-3.
Suharyono mengajak peserta untuk melagukan titi laras itu dengan bahasa Jawa lengkap dengan bunyi pathet (tinggi rendahnya titi laras) dengan mengambil dua huruf terakhir dari angka-angka titi laras itu sehingga menghasilkan bunyi: mo-lu-mo-ro-mo-ro-mo-lu dan seterusnya.
Agar peserta bisa hafal titi laras Slendro Pathet Songo, maka mereka diajak untuk mengulangi titi laras dua kali-dua kali dan dengan cara dibalik.
“Hayo kamu sing ikhlas. Sing ikhlas koyo nek ngguyu neng kelas kae,” kata Suharyono memberi arahan kepada beberapa remaja putri yang belum juga dapat pathet yang pas.

Lagu macapat dolanan "Kamit" dengan menggunakan titi laras Slendro Pathet Songo ini yang dipelajari peserta workshop macapat yang berlangsung selama 3 jam ini.
Dalam prakteknya pula, secara berurutan diminta untuk melagukan titi laras itu dua orang dua orang setelah itu diulangi bersama-sama kemudian dibaca lagi dua orang dua orang. “Halah malah ‘yess’. Engko.bar iki giliranmu,” kata Suharyono kepada seorang remaja putri yang mengepalkan tangannya ketika tidak ditunjuk melagukan titi laras. Suasana pun pecah oleh tawa peserta.
Untuk beberapa titi laras itu, Suharyono meminta Parjilan melagukannya. Seperti pada titi laras 5-3-5-2-5-2-5-6 atau 1-6-1-5-1-5-1-6. Untuk memberi pengingat kepada peserta, Parjilan pun menulis titi laras itu yang tidak mengikutkan angka 4 dan 7 itu di papan tulis.
Setelah dirasa cukup menguasai, dengan beberapa kali melakukan pembenaran pada cara membaca tinggi rendahnya titi laras berbahasa Jawa yang dilakukan peserta, Suharjono mengajak peserta untuk melagukan tembang dolanan “Kamit” dengan laras Slendro Pathet Songo.
Nama kula kamit. Kula dados dhokter. Nambani sesakit. Kula inggih pinter. Ragi Kaleresan. Kulo sakit wudun. Jampinipun enggal. Kedah dipun jagur. Badan kulo lungkrah. Sak enjing ndharedheg.Jampinipun mirah. Dhahar Sekul Gudeg.
“Lagu dolanan ini mempunyai pesan agar anak kita punya kepercayaan diri yang kuat terhadap apa yang akan mereka lakukan,” kata Suharjono kepada peserta.( The Real Jogja/joe)










Apakah Pak Suharjono yg dari bantul memberikan pelajaran mocopat di daerah mbantul ??? atau adakah media multimedia yg dipunyai Jogja News >> mhn info
Seharusnya kegiatan macapat juga digalakkan terutama pada generesi penerus karena inti macapat adalah mengajak untuk berlatih kesabaran, ketepatan, mengasah kecerdasan analisa dan dapat memperbaiki moral. Sayang Pemda Jogjakarta tidak serius dalam menggarap budaya luhur yang penuh pembelajaran moral. Bisa dibedakan orang yang belajar benar macapat dan yang setiap hari main kediskotik………… moralnya, unggah-ungguhnya, cara menghormati orang tua dan lain sebagainya. MAJU TERUS MACAPAT DEMI MORAL BANGSA (mantan juara macapat jogja dan jabodetabek)