art

Pameran Seni Rupa “Matahari”, respon kreatif terhadap fenomena kekinian

Dimuat Redaktur Jan 27th, 2010 dalam Kategori FEATURES, FOTO, GALERI, PAMERAN DAN FESTIVAL, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Seorang pengunjung sedang memperhatikan lukisan karya Muhammad Nik berjudul " Si Nik" yang menceritakan kisah hidup Manohara.

Seorang pengunjung sedang memperhatikan lukisan karya Muhammad Nik berjudul " Si Nik" yang menceritakan kisah hidup Manohara.

Seorang bapak itu sampai harus bersimpuh bertumpu pada tempurung kaki untuk menyaksikan lukisan jagung yang mirip dengan jagung asli yang dibawa seorang anak perempuan

Iki loh… mirip banget iki loh..nyampurnya sempurna ini..yang namanya sinar, anatomi, sinar, dimensi masuk semua….” kata bapak PNS ini mengomentari lukisan Sito Pati berjudul “Jangan Tinggalkan Anakku”.

Karya Sito Pati itu adalah satu dari 50 lukisan yang dipamerkan kelompok seniman Persatuan Paguyuban di ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta 26-30 Januari 2010. Pameran bersama ini membawa tema “Matahari” sebagai pameran ketiga yang pernah diselenggarakan oleh kelompok yang berdiri pertengahan 2009 lalu ini.

Dua pengunjung sedang menikmati lukisan berjudul "Young Artist" karya Felix S. Wanto.

Dua pengunjung sedang menikmati lukisan berjudul "Young Artist" karya Felix S. Wanto.

Lulus Sartono, anggota Persatuan Paguyuban menerangkan MataHari itu berarti “mata” dan “hari” yang mempunyai maksud kesaksian hidup sehari-hari melalui visual. Seniman tidak akan membiarkan hidup dari hari ke hari ini berlalu begitu saja sehingga tetap harus ada yang direkam.

“Kalau bahasa Jawanya nogo dino. Tapi sebenarnya itu hanya tematik saja. Subtitle saja,” ujar Lulus yang mengaku dirinya hanya sebagai dinamisator kelompok Persatuan Paguyuban.

Tema “Matahari” sesungguhnya tidak menjadi semacam garis merah dari karya-karya yang ditampilkan para anggota kelompok Persatuan Paguyuban karena sama sekali tidak muncul satu lukisan pun yang berbentuk matahari dalam pameran ini.

Sosok Mbah Surip muncul lagi dalam seni rupa Yogyakarta pada awal tahun ini. Kali ini Rujaman menghadirkan senyum khas Mbah Surip itu dengan judul "I Love You Full"

Sosok Mbah Surip muncul lagi dalam seni rupa Yogyakarta pada awal tahun ini. Kali ini Rujaman menghadirkan senyum khas Mbah Surip itu dengan judul "I Love You Full"

Seniman Yaksa Agus dalam catatan pamerannya menempatkan matahari dalam konteks pameran ini sebagai harapan, impian dan cita-cita yang harus diraih oleh para seniman yang berada di dalam kelompok Persatuan Paguyuban ini.

“Justru yang terlihat disini bukanlah matahari, melainkan teman-teman yang sedang berusaha menjilat matahari dan berusaha meraihnya. Matahari adalah harapan, impian dan cita-cita…,” kata Yaksa yang juga ikut berpameran.

Karya-karya yang ditampilkan pun akhirnya begitu beragam baik secara bentuk maupun (katakanlah) aliran melukisnya dengan menampilkan ragam visualisasi dari kehidupan yang dialami, disaksikan atau dilihat oleh para seniman anggota Paguyuban Persatuan itu tadi

Seorang bapak tampak takjub dengan lukisan Sito Pati berjudul "Jangan Tinggalkan Anakku".

Seorang bapak tampak takjub dengan lukisan Sito Pati berjudul "Jangan Tinggalkan Anakku".

Lukisan “Jangan Tinggalkan Anakku” karya Sito Pati yang dikagumi bapak-bapak tadi itu misalnya adalah hasil dari pengalaman anaknya yang ingin ikut ke kebun membawakan makanan tapi ditinggal saudaranya. Gambar tangan yang menunjuk dalam lukisan itu adalah petunjuk bagi anak itu menuju tempat yang dimaksud.

Karya realis Sito Pati ini memang cukup sempurna dari sisi pewarnaan. Warna jagung serta kaos yang dipakai anak pada gambar itu nyaris sama seperti aslinya. Si bapak yang terkagum-kagum itu sampai harus beberapa kali menyaksikan lukisan yang ia anggap nyaris perfect itu walaupun ia sudah melihat lukisan-lukisan lain yang dipamerkan.

Ada lagi karya Muhammad Nik yang berjudul Si Nik yang menampilkan wajah Manohara yang pada pertengahan tahun 2009 menyedot perhatian masyarakat di tanah air karena melarikan diri dari istana Kelantan Malaysia dengan alasan mendapatkan kekerasan oleh sang suami, Tengku Fakhry.

tubuh perempuan banyak ditampilkan dalam pameran Kelompok Persatuan Paguyuban. Salah satunya oleh Sumarjono berjudul "Port" ini.

tubuh perempuan banyak ditampilkan dalam pameran Kelompok Persatuan Paguyuban. Salah satunya oleh Sumarjono berjudul "Port" ini.

Wajah ayu Manohara itu oleh Muhammad Nik dilukisi kondom dikepalanya dengan latar belakang bendera Malaysia dengan alis kanannya diganti dengan cabe hijau. Muhammad Nik menceritakan ide lukisannya ini berawal dari dirinya yang melihat di TV saat Manohara menceritakan kekerasan rumah tangga yang ia dapatkan dari suaminya.

“Jadi mungkin harapan saya semacam titik awal bagi kaum hawa untuk melawan terhadap kekerasan rumah tangga. Kalau kondom itu simbol hubungan seks. Kalau ditaruh dikepala agar lebih artistik,” kata seniman kelahiran Riau ini.

Fenomena Mbah Surip yang terjadi tahun 2009 lalu juga dimunculkan dalam pameran ini oleh Rujiman dengan judul lukisan “I Love u Full”. Mbah Surip dalam lukisan ini muncul dengan tertawa terbahak.Saat tertawa itulah dari dalam mulutnya keluar beberapa ikan koki dengan membentuk kata “i love u full”.

Nana Tedja, pemilik Galeri Biasa juga menampilkan lukisannya berjudul "I Love Bali".

Nana Tedja, pemilik Galeri Biasa juga menampilkan lukisannya berjudul "I Love Bali".

“Ada kenangan sama bersama Mbah Surip saat bersama-sama di Ancol tahun 2009 lalu,” kata bendahara kelompok Persatuan Paguyuban ini. Rujiman mengatakan ikan-ikan koki yang membentuk kata-kata “i love u full” melambangkan hoki yang didapatkan Mbah Surip dalam rentang waktu singkat karirnya sebagai seniman.

Seniman Ben Hendro juga dalam catatan pameran ini mengatakan karya-karya yang ditampilkkan dalam wujud presentasi pameran ini berada dalam koridor seni rupa yang kreatif serta sangat khas dengan karakteristik masing-masing senimannya.

“Dalam setiap suguhan karya ini, dapat dilihat berbagai respon kreatif untuk menyampaikan pesan kritis terhadap imaji ruang sebagai fenomena kekinian dan berupaya memberi kesadaran baru untuk mencermati perubahan jaman…,” urai Ben Hendro. (The Real Jogja/joe)

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau