Lomba memanah tradisional Mangayubagyo Tinggalan nDalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX
January 27th, 2010 | 13:21

Beberapa peserta sedang berkonsentrasi agar anak panah yang akan dilepaskan bisa mengenai target yang jaraknya mencapai 35 meter.
Salah satu kebudayaan peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang sampai saat ini masih lestari dilakukan adalah tradisi memanah tradisional. Dalam bahasa Jawa lomba ini disebuat lomba Jemparingan. Dari asal kata jemparing yang berarti panah atau memanah.
Dalam bentuknya pada jaman sekarang, tradisi itu muncul dalam lomba memanah tradisional gaya Mataraman Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.. Selasa (26/1) lomba memanah tradisional itu kembali diselenggarakan di lapangan Kemandungan Alun-Alun Kidul yang terletak di belakang Sasana Hinggil Kraton Yogyakarta.
Salah satu panitia lomna KRT Maryoso Wasito, menceritakan tradisi memanah tradisional gaya Mataraman ini sudah muncul sejak tahun 1934. Saat itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX memberi perintah kepada kerabat kraton beserta abdi dalem untuk menyelenggarakan kegiatan memanah tradisional gaya mataraman.
Share on Facebook
Tweet
Category : FOTO, HEADLINE | 376 views
Tags : jemparing, memanah tradisional.










