art

Musik bambu yang “klenik” dari Wukir Suryadi

Dimuat Redaktur Jan 17th, 2010 dalam Kategori FEATURES, KIPRAH, KISAH, KIPRAH, GAYA HIDUP. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Bambu bisa menghasilkan aneka ragam musikalisasi bila berada di tangan orang yang punya kreatifitas tinggi. Dan orang itu adalah Wukir Suryadi. Seniman muda ini berhasil memunculkan “kehidupan” baru pada bambu dengan memunculkan suara-suara yang bisa disepadankan dengan bebunyian musik elektrik pada bambu itu.

Bambang Wukir saat memainkan komposisi "Distorsi Ruang Hampa" kepada pengunjung Biennale Anak di TBY, Minggu (17/1)

Wukir Suryadi saat memainkan komposisi "Distorsi Ruang Hampa" kepada pengunjung Biennale Anak di TBY, Minggu (17/1)

Wukir Riyadi menampilkan kreatifitas besarnya itu dihadapan publik Yogyakarta yang sedang mengunjungi program Biennale Anak di Taman Budaya Yogyakarta (17/1) tentu dengan menggunakan bambu yang sudah ia ubah menjadi alat musik berdawai (string) menyerupai gitar.

Musikus asli Malang ini menampilkan tiga komposisi musik yang pada setiap komposisinya berhasil menampilkan musikalisasi berbeda. Pengaruhnya pun luar biasa bagi audience. Ketika komposisi ketiga diperdengarkan, ada seorang ibu yang merasa merinding dengan permainan gitar Wukir Suryadi

Setidaknya itulah yang disampaikan Herman ketika memberikan keterangan mengenai musikalisasi yang dihasilkan bambu wukir milik Wukir Suryadi. “Tadi pas komposisi ketiga ada ibu-ibu yang pertanya ‘ini musik apa to mas? Kok bikin merinding ya’?” kata Herman Widhi, Kreatif Consult dari Antero yang memfasilitasi Wukir Suryadi pentas di Biennale Anak ini.

Tiga komposisi musik tersebut adalah “Statement of Intution”, “Lebur”, dan “Distorsi Ruang Hampa”. Pada komposisi “Statement of Intuition” Bambang Wukir menghadirkan bunyi gesekan dari Bo (alat gesek) untuk Cello yang memperdengarkan kesakralan namun tetap menghadirkan harapan. Bahwa kita tetap harus berjuang berjuang dalam hidup,” kata Wukir panggilan akrabnya.

Musikalisasi “Distortion Ruang Hampa” adalah komposisi musik tentang emosi, kemarahan, ketakberdayaan, persoalan pribadi, juga tentang keinginan untuk hidup lebih baik. “Siapa yang tidak mau hidup bahagia,” kata musikus berambut panjang ini.

Wukir menerangkan ia telah mengeksplorasi suara-suara yang bisa diambil dari bambu sejak tahun 2008 saat ia berada di Bali. Menurutnya, eksplorasi bambu ini adalah eksplorasi musik yang ke 10 yang pernah ia lakukan selama ini.

“Sebelumnya saya sudah mengeksplorasi gamping, gestek, spring drum juga dari senapan,” ujar Wukir yang datang ke Biennale Anak bersama istrinya Stephani Gendhis Gulo Jawa.

Herman Widhi menamai alat musik bambu item milik  Wukir Suryadi dengan Organologi yang mirip Sasando yang begitu banyak menghadirkan bunyi-bunyi petik dan gesek. Bambu Item ini memiliki panjang hampir satu meter.

Wukir menciptakan dua string senar dan iratan bambu. Ada 11 string senar yang dipasang lengkap dengan alat stemnya. Sementara string iratan bambu berjumlah sembilan. Untuk menghubungkan ke sumber amphlifier, cukup dipasang kabel yang ujungnya disatukan dengan string bambu melalui tutup botol.

Menurut Herman, alat musik ini menghasilkan ritme irama yang kental nuansa perkusinya berasal dari taping string dengan frekuensi yang lengkap, ada yang low, middle dan high. Frekuensi-frekuensi suara itu biasa diciptakan pada alat musik drum. Taping string ini menghasilkan getaran resonator dari iratan-iratan bambu yang beradu dengan batang bambu.

“Frekuensi low hadir melalui suara basnya sangat  kelihatan. Suara middle-nya dari suara rythem elektrik sementara suara highnya hadir melalui ketukan-ketukan tangan Wukir pada sisi atas string iratan bambu,”ujar Herman.

Herman menambahkan kreasi musik yang dihasilkan Wukir ini seperti permainan musik jaman Psikodelik tahun 1970-an di Amerika ketika generasi mudanya yang lebih dikenal dengan flower generation sedang frustasi dengan keharusan mengikuti wajib militer oleh negara.

“Mereka menghasilkan suara-suara seperti itu saat terpengaruh pada narkoba atau sedang minum-minuman keras,” kata Herman yang juga etnomusikolog ini.

Herman menjuluki musik bambu Wukir ini sebagai musik “klenik” yang berarti musik yang tidak wajar, unik karena dengan satu instrumen melalui bambu bisa menghasilkan tiga suara sekaligus. “ Wukir sih ngga setuju kalau disebut musiknya musik klenik tapi bagi saya ini klenik banget, musik yang tidak wajar,”

“Saya pun sampai merinding mendengar musik yang dimainkan Wukir tadi. Ini artinya secara fisika frekuensi suara yang dihasilkan dari bambu ini bisa sampai ke audience,” kata Herman. (The Real Jogja/joe)

1 Tanggapan untuk “Musik bambu yang “klenik” dari Wukir Suryadi”

  1. nanang mengatakan:

    ternyata anak klayatan Malang. tonggo dewe

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau