
Beberapa warga peserta Upacara Tradisi Suran Mbah Demang membawa lentera dan gambar Ki Demang Cokrodikromo melewati Jalan Godean pada Kamis (24/12).
Kamis (24/12) malam itu, ruas jalan Godean macet total. Pengguna jalan raya harus berjalan pelan. Malam itu, masyarakat Desa Banyuraden Kecamatan Gamping Sleman sedang menyelenggarakan Upacara Tradisi Suran Mbah Demang dengan melewati jalan tersebut.
Upacara Tradisi Suran Mbah Demang adalah upacara pengambilan air dari sumur yang berada di makam Mbah Demang di Dusun Guyangan, tidak jauh dari jalan Godean. Pada Kamis malam itu, tradisi yang populer disebut Suran Mbah Demang diikuti ratusan warga dari tiga dukuh di Desa Banyuraden yaitu Sukunan, Cokrowijayan dan Patehan.
Warga berangkat dari Dusun Cokrowijayan menuju makam Mbah Demang terbagi dalam beberapa kelompok dengan dipimpin Ki Murdopuspito dari Sanggar Widyo Permono. Kelompok pertama adalah kelompok prajurit. Setelah itu kelompok Lombok Abang dan Lombok Ijo dan diikuti kelompok kesenian tradisional.
Dua prajurit penunggang kuda menjadi ‘pengarep’yang diikuti oleh beberapa barisan prajurit dengan kostum, senjata serta asesoris berbeda-beda antara satu kelompok prajurit dengan lainnya.

Beberapa anak usia dini menjadi replika hidup prajurit mengikuti kirab budaya sebagai bagian dari Upacara Tradisi Suran Mbah Demang.
Kelompok dibelakang kuda ‘pengarep’ adalah beberapa orang yang membawa lentera kuno dan gambar Mbah Demang yang memakai seragam kebesaranya. Di belakangnya, kelompok prajurit pembawa beberapa bendera bergambar lambang kesatuan prajurit yang dipimpin Mbah Demang. Mereka juga membawa senjata panah. Sementara didepan prajuri pembawa lambang itu berjalan empat prajurit kecil lengkap dengan senjata berupa panah dan pedang.
Rombongan berikutnya adalah adalah kelompok pemusik yang membawa alat musik drum. Dalam rombongan ini juga berjalan anak kecil paling depan.Drum tersebut tak ada hentinya dibunyikan menunju makam Mbah Demang. Di belakangnya rombongan prajurit pembawa senjata tombak, panah dan bendera lambang keprajuritaan.
Berikutnya adalah rombongan yang membawa lombok abang dan lombok ijo. Hasil bumi cabe ini akan diletakkan di luar makam Mbah Demang dan akan diperebutkan oleh peserta kirab segera setelah dilakukan proses tahlilan di makam Mbah Demang selesai.
Setelah itu ada kelompok kesenian tradisional Jathilan Kudho Manunggal dari Dusun Sukunan. Dengan iringan musik dari alat-alat tradisional yang dinaikkan mobil, anggota Jathilan Kuda Manunggal melakukan atraksi khas Jathilan sepanjang jalan menuju makam Mbah Demang.

Seorang bocah dengan pakaian keprajuritan turut berjalan mengikuti kirab budaya Upacara Tradisi Suran Mbah Demang.
Selain beranggotakan orang dewasa, kelompok kesenian tradisional Jathilan Kudho Manungal ini juga banyak diikuti anak-anak laki-laki maupun perempuan.
Sesampai di makam Mbah Demang dilakukan upacara pengambilan air dari sumur yang berada di dekat makam Mbah Demang dengan diawali penyerahan pusaka Mbah Demang oleh Ki Murdopuspito yang didampingi ahli waris Mbah Demang M Abdul Kadir.
Kemudian dilakukan prosesi tahlilan dan doa selamatan yang dilakukan olek keturunan dan kerabat Mbah Demang serta warga yang dituakan di Desa Banyuraden disertai dengan makanan, minuman sesajen yang dulunya sering dimakan Mbah Demang.
Baru setelah itu dilakukan pengambilan air sumur dan dibagikan kepada peserta dengan menggunakan Kendi. “Semua warga bisa mengambil air dari sumur tersebut,” kata Sarjuni, salah satu pengawal upacara.

Lambang kesatuan prajurit yang pernah dipimpin Ki Demang Cokrodikromo juga turut dikirab
Sarjuni menerangkan, air yang diambil dari sumur dekat makam Mbah Demang ini dipercaya masyarakat bisa membawa keberuntungan dalam banyak hal misalnya untuk kesehatan, untuk menyuburkan tanaman dll.
“Ada masyarakat yang berpandangan air sumur tersebut mempunyai berkah bagi mereka. Misalnya untuk mengobati penyakit yang diderita warga,” ujar Sarjuni.
Setelah dirasa cukup, ritual pengambilan air dari sumur bisa diakhiri. Pawai budaya dari warga ketiga dusun inipun bisa kembali dilakukan untuk pulang ke kampung masing-masing Dalam arak-arakan pulang ini, peserta kesenian tradisisonal masih menampilkan musik iringan Jathilan sementara pemain Jathilannya berjalan mengikuti arak-arakan.
Upacara Tradisi Suran Mbah Demang ini dilaksanakan untuk mengenang perjuangan Mbah Demang yang mempunyai nama ‘sakti’ Ki Demang Cokrodikromo. Mbah Demang adalah nama populer dari seorang anak bekel nakal bernama Asrah yang oleh orang tuanya diikutkan Ki Demang Dawangan untuk melakukan laku prihatin.

Kelompok prajurit tombak dengan pakaian seragam lengkap keprajuritan turut melakukan kirab.
Setelah dewasa ia menjadi orang sakti dan menjadi seorang Demang pabrik gula milik orang Belanda karena mampu membasmi kejahatan. Karena kesaktian yang dimilikinya Asrah dewasan mendapatkan nama baru, Ki Demang Cokrodikromo.
Kesaktian Ki Demang Cokrodikromo diperoleh dari perilaku prihatin yang setiap hari ia menjalani antara lain tidak memakan garam, tiap sore melakukan tapa bisu dengan mengelilingi rumahnya. Selain itu ia juga melakukan laku prihatin dengan mandi hanya setahun sekali yaitu pada tanggal 8 sura di sumur dibelakang rumahnya.
Keluarga dan masyarakat lama kelamaan berpandangan kesaktian Ki Demang Cokrodikromo diperoleh dari perilaku prihatin yang selalu ia jalankan itu. Kepribadian Ki Demang Cokrodikromo yang begitu baik terhadap masyarakat dilingkungannya dengan selalu menolong, membantu untuk kepentingan orang banyak itulah yang ingin ditiru masyarakat hingga saat ini dengan mengambil air suci dari sumur yang menjadi air mandi Ki Demang Cokrodikromo.

Prajurit panah melewati jalan Godean dalam kirab budaya sebagai rangkaian Upacara Tradisi Suran Mbah Demang.
Penelitian yang dilakukan Maskhun Fauzi, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memperlihatkan masyarakat Desa Banyuraden memandang Upacara Tradisi Suran Mbah Demang yang selalu dilakukan tersebut dapat membawa perubahan, baik dalam aspek keagamaan dan aspek sosial.
Dalam aspek keagamaan misalnya, masyarakat semakin sadar akan pentingnya pengalaman nilai-nilai keagamaan. Aktivitas keagamaan inilah yang pelan tapi pasti akhirnya mengubah pola pikir masyarakat.
Dalam aspek sosial, kebersamaan dan saling membantu sesama semakin dapat dirasakan, dapat dilihat dengan adanya pengumpulan dana untuk kas desa, digunakan untuk masyarakat yang membutuhkan, misalnya apabila ada masyarakat yang sakit, kematian, atau kebutuhan lainnya. Adapun salah satu cara pengumpulan dana yaitu melalui jimpitan.

Perempuan perempuan remaja anggota kesenian tradisional Jathilan Kudha Manunggal mengikuti kirab budaya dengan menari di sepanjang jalan Godean.
Selain itu, seiring dengan perubahan zaman, upacara tradisi yang dilakukan juga mengalami perkembangan tanpa membuang tata cara upacara yang telah ada. Perkembangan tersebut dilakukan untuk memperkenalkan keberadaan tradisi kepada masyarakat luas.
Upacara tradisi Suran Mbah Demang berfungsi sebagai sarana komunikasi, silaturahmi antar warga Desa Banyuraden dan untuk melestarikan budaya leluhur yang diwariskan secara turun temurun. (The Real Jogja/joe)

Inilah anggota kesenian tradisional Jathilan Kudha Manunggal dari Dusun sukunan yang juga terus menari ala Jathilan selama kirab budaya.









