art

Sejarah, Yogyakarta punyai dewan teater

Dimuat Redaktur Des 26th, 2009 dalam Kategori FEATURES, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Dewan Teater Yogyakarta menyelenggarakan Sarasehan Teater "Dari Yogyakarta Untuk Indonesia" Sabtu (26/12) pagi di Hall Societiet TBY.

Dewan Teater Yogyakarta menyelenggarakan Sarasehan Teater "Dari Yogyakarta Untuk Indonesia" Sabtu (26/12) pagi di Hall Societiet TBY.

Yogyakarta menjadi daerah pertama di tanah air yang melahirkan Dewan Teater Yogyakarta (DTY). Lahirnya DTY ini akan dilaksanakan dalam sebuah acara Inagurasi dan Deklarasi Dewan Teater Yogyakarta pada Sabtu (26/12) malam di Taman Budaya Yogyakarta.

Seniman teater Yogyakarta sekaligus ketua DTY, Agus Prasetiyo mengatakan lahirnya DTY berangkat dari kegelisahan seniman teater Yogyakarta terhadap kenyataan semakin jarangnya pementasan seni teater di Yogyakarta yang terjadi dalam dua dekade terakhir.

“Di Yogyakarta hanya ada beberapa teater seperti Teater Gandrik, Garasi yang intensitas pementasannya sangat kurang.” kata Agus dalam acara Sarasehan Teater sebagai rangkaian Inagurasi dan Deklarasi Dewan Teater Yogyakarta di Hall Societiet TBY Sabtu (26/12).

Agus menerangkan pentas teater yang muncul saat ini lebih sering dilakukan kelompok teater kampus/sekolah yang mempunyai perbedaan mencolok dengan teater sanggar terutama pada kurang fokusnya berteater akibat terbatasnya isi kurikulum yang ada sehingga menghasilkan output yang tidak sehebat teater sanggar.

“Kita akan berupaya menumbuhkan teater dengan semangat sanggar bukan semangat kurikulum instituti,” ujar Agus seraya menambahkan sudah jarang pagelaran teater yang layak jual dan layak tonton. “Kalaupun tampil, pemain teaternya diambil dari kelompok teater yang ada dan pementasannya pun hanya sekali setelah itu berantakan.”

“Saya menyambut baik dibentuknya Dewan Teater Yogyakarta ini karena bisa menjadi saluran komunikasi bagi Dinas Kebudayaan DIY untuk bisa membantu,” kata Kepala Dinas Kebudayaan DIY Joko Dwiyanto.

Joko Dwiyanto menerangkan Dinas Kebudayaan DIY akan membantu DTY dengan membebaskan sewa gedung di TBY bila DTY ingin menggelar pementasan teater. Selain itu, Joko juga juga mempersilakan kepada seniman-seniman teater Yogyakarta untuk menggunakan lingkungan di TBY sebagai tempat latihan teater.

Selain itu, Dinas Kebudayaan DIY juga akan membangun Amphi Teater bersamaan dengan pembangunan gedung Dinas Kebudayaan yang baru. Dengan amphi teater ini bisa menjadi tempat pementasan teater bagi seniman teater Yogyakarta.

Agus Prasetiyo berjanji DTY di masa depan akan menjadi ‘shelter’ bagi seniman teater Yogyakarta untuk mendapatkan tempat pentas yang layak. Selain itu DTY juga diarahkan sebagai tempat untuk membentuk jaringan teater di Yogyakarta.

“ DTY secara periodik juga akan menyelenggarakan “arisan” dimana pada setiap pertemuan ditampilkan pentas teater secara spontan sehingga ke depan bisa dibuat festival teater kampung,” terang Agus.

Sementara itu, sesepuh seniman teater Yogyakarta Fajar Suharno menyambut positif dengan adanya Dewan Teater Yogyakarta ini. Pendiri Teater Dinasti pada tahun 1977 ini, sangat berharap ada sinergi yang bagus dalam DTY termasuk mampu membuat manajemen organisasi yang baik pula.

Fajar Suharto meminta DTY memperhatikan empat hal dalam organisasinya. Empat hal itu adalah penghargaan kepada sesepuh seniman Yogyakarta yang menjadi leluhur dunia teater di Yogyakarta. Selain itu DTY juga harus bisa membina hubungan yang harmonis antar seniman teater. DTY diminta mampu menghasilkan generasi penerus seniman teater serta mampu menyelaraskan teater dengan lingkungan budaya sosial dan lingkungan secara arti sebenarnya.

“ Penghargaan disini dimaksudkan bukan memberikan penghargaan berupa tropi atau piagam tapi sesepuh seniman teater ini juga diajak untuk memperhatikan DTY,” pungkas Fajar. (The Real Jogja/joe)

Categories: FEATURES, THE REAL JOGJA
Tags:

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau