
Marwoto (tengah berpakaian ala Kaisar Haruntala) sedang berakting dengan beberapa pejabat tinggi Muspida Kota Yogyakarta yang menjadi opsir-opsir kerajaan.
Untuk kali kesekian, Kethoprak Eksekutif dan Legislatif (Eksel) diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta. Pentas kethoprak yang dimainkan pejabat eksekutif dan anggota legislatif bersama seniman Kota Yogyakarta yang dipentaskan di Concert Hall TBY, Senin malam (22/12) berlangsung begitu riuh karena hampir sepanjang pementasan berlangsung penuh dengan kelucuan-kelucuan yang ditampilkan para pemain.
Pentas kethoprak yang berjudul ”Koalisi Tiga Negeri” ini langsung diawali dengan joke-joke menghibur dari seniman Den Baguse Ngarso yang memerankan tokoh Bedande Proyadeg saat bercengkerama dengan murid-muridnya.
Cara memanggil murid-murid putrinya dengan nama-nama Jawa yang ’Jawa sekali’ seperti Sarkem, Sarinah dll membuat penonton tertawa. Lalu kostum Bali serba putih yang di pakai Den Baguse Ngarso pun bisa dipakai bahan lawakan.
Saat stagen yang dipakai Den Baguse Ngarso lepas misalnya dan harus dikencangkan kembali para murid wanitanya sehingga mereka harus mencium bau ketiak Den Baguse Ngarso langsung membuat Penonton tertawa.

Adegan saat salah satu murid Bedande Proyadek memperbaiki stagennya yang lepas yang membuat penonton tertawa terpingkal.
Semakin terpingkal saja para penonton ketika Den Baguse Ngarso ikut membau ketiak murid wanitanya itu. “Podo wae ambune,” kata Den Baguse Ngarso setelah membaui ketiak muridnya. Dan penonton pun tambah riuh.
Kelucuan yang mengocok perut penonton juga diperlihatkan Den Baguse Ngarso saat melakukan ramalan menggunakan lampu warna ajaib yang diseting bisa berubah-ubah warna.
Berubah-ubahnya warna dari merah menjadi kuning kemudian menjadi biru itulah membuat joke tentang partai politik berhasil dimunculkan Den Baguse Ngarso dengan baik.
“Iki opo sih kok iso gonta-ganti warnane,” kata Den Baguse Ngarso seraya dengan sengaja ia membuka properti lampu itu sehingga penonton pun bisa melihat lampu tersebut. Penonton pun semakin terbahak tertawa.
Setelah Den Baguse Ngarso tampil, giliran seniman kethoprak handal lainnya, Marwoto Kiwir yang hadir menghibur penonton. Marwoto yang memerankan Kaisar Haruntala, penguasa negeri Ceron berbagi kelucuan dengan opsir kerajaannya yang diperankan pejabat-pejabat penting di Kota Yogyakarta seperti Kapoltabes Yogyakarta AKBP Dofri Anwar yang memerankan opsir Ronaldo, kemudian Komandan Kodim 0734 Yogyakarta Letkol Inf. Arudji Anwar (opsir Del Piero) Kepala PDAM Tirta Marta Kota Yogyakarta Imam Priyono (opsir Roberto Pato)
Marwoto dan beberapa pejabat penting tersebut terlibat dalam plot cerita menerka arti mimpi tentang negeri Ceron yang akan terkena chaos. Marwoto yang tahu benar kalau dia sebagai raja kethoprak dan mempunyai beberapa bawahan yang juga pemimpin ‘asli’ menggunakan kesempatan itu untuk mengerjai bawahan-bawahan itu.yang membuat penonton sontak semakin terbahak tertawa.
Adegan saat Marwoto yang berbalik badan dengan tertawa puas setelah memerintah Kapoltabes atau mengolok sepatu yang dipakai Dandim 0734 Yogyakarta membuat penonton terpingkal tertawa. Apalagi adegan itu beberapa kali diulangi Marwoto. Di tambah Kapoltabes dan Dandim yang menggunakan bahasa Jawa campuran serta Bahasa Indonesia semakin membuat penonton heboh.
“Kapan meneh iso merintah Kapoltabes,” kata Marwoto seraya membalikkan badan setelah memberikan perntah kepada opsir Ronaldo yang diperankan Kapoltabes Yogyakarta. Belum selesai disitu, Marwoto lalu mendekati Dahyang Saelon (diperankan pemilik Mirota Batik, HamzahHS) dan langsung memukul perut gemuk Dahyang Saelon yang malam itu terbuka lebar karena memakai kostum perempuan. Kembali tawa penonton pun pecah.
Adegan ger-geran juga dengan hebatnya dilakukan dua seniman kethoprak Sronto (cantrik Sronto) dan Mbokde Beruk (Mentrik Beruk) serta Walikota Yogyakarta Herry Zudianto (cantrik Timoho). Peran saling bermusuhan antara cantrik Sronto dan Mentrik Beruk) yang diplot sebagai suami istri dengan saling marah, saling cemooh membuat penonton terhibur. Apalagi melihat ternyata alasan saling bermusuhannya dua cantrik itu adalah Herry Zudianto yang menjadi suami ke dua Mentrik Beruk. Penonton jadi semakin terpancing untuk tertawa dan siap dikocok perut dengan adegan berikutnya dari dua seniman dan satu Walikota itu.
Adegan saling bermesraan antara Mentrik Beruk dan Cantrik Timoho yang saling berpegangan tangan dan ditimpali sikap tidak suka Cantrik Sronto melihat kemesraan mereka berdua, membuat penonton tak henti-henti untuk tertawa. Apalagi saat Sronto memanggil nama Herry Zudianto dengan panggilan ‘ri’ karena saking marahnya. Dyah Suminar, istri Walikota pun tak bisa menahan tawa karena adegan Sronto yang memanggil Herry Zudianto dengan ‘ri’.
Media sosialisasi
Selain menghibur dengan adegan yang lucu, Kethoprak Ikon Jogja 2009 “Eksel” ini juga menjadi media sosialisasi kepada masyarakat oleh pejabat publik. Kapoltabes Yogyakarta AKBP Ahmad Dofri misalnya menyampaikan persiapan pengamanan hari Natal 2009 dan Tahun Baru 2010 kepada masyarakat melalui dialog kethoprak yang ia lakukan sebagai opsir Ronaldo dengan Marwoto sebagai Kaisar Haruntala.
“Untuk menghadapi pelaksanaan hari Natal dan Tahun Baru kali ini, kami telah memyiapkan 1300 petugas kepolisian untuk menjaga situasi masyarakat tetap aman,” kata Ahmad Dhofiri kepada Marwoto.
Sementara Letkol Infanteri Arudji Anwar yang berperan sebagai opsir Del Pierro menyampaikan laporan kepada Kaisar Haruntala tentang persiapan pihak TNI menghadapi Natal dan Tahun Baru kali ini dengan mengatakan pihaknya telah melakukan pembinaan teretorial kepada masyarakat dan generasi muda khususnya di Kota Yogyakarta.
“ Dalam rangka Natal dan Tahun Baru ini, TNI telah melakukan pembinaan teritorial kepada lapisan masyarakat terutama kepada generasi muda untuk turut menciptakan keamanan dan kenyamanan pada situasi Natal dan Tahun Baru ini,” jelas Arudji Anwar kepada Marwoto.
Walaupun hanya memerankan peran Cantrik Timoho, Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto begitu dominan muncul dalam adegan-adegan kethoprak Eksel ini dengan menyampaikan pesan-pesan penting mengenai pelaksanaan hukum yang berkeadilan, pentingya menjaga kebersihan dan kesehatan serta tak lupa tentang keberadaan program Segosegawe.
Herri Zudianto misalnya muncul dalam adegan melarang tindak kekerasan yang dilakukan Opsir Abidal (diperankan staf Kejari Yogyakarta) memukul Joko Susilo (diperankan Arif Noor Hartanto, anggota DPRD DIY).
“Jaksa dan hakim tidak boleh melakukan tindakan semena-mena terhadap hukum yang ada ditangan mereka. Demikian pula masyarakat juga harus taat pada aturan hukum yang berlaku,” kata Herry.
Jalan cerita
Kethoprak Ikon Jogja 2009 yang menampilkan lakon “Koalisi Tiga Negeri” ini berkisah tentang pencarian Glatik Putih di tanah Jawa oleh Prabu Kertonegoro dan Kaisar Haruntala untuk menghindari chaos yang diramalkan terjadi melalui mimpin kedua raja tersebut.
Glatih Putih yang dicari-cari dua raja tersebut menjelma menjadi Joko Susilo, murid Begawan Waskito Noto yang berpadepokan di Gunung Semeru. Joko Susilo sempat menyelamatkan Putut Wayan (putri Bedande Proyadek) yang sudah jatuh hati dengan Joko Susilo saat melihatnya lewat lampu ajaib milik ayahnya, saat sedang dipaksa menikah Kaisar Haruntala.
Akhirnya bertemulah Glatik Putih dengan Sang Prabu Kertonegoro dan Kaisar Haruntala, Bedande Proyadek dan Putut Wayan, dan Dewi Latif Banon yang sempat dipaksa menikah oleh Pakhah Bahrun, Patih negeri Celon.
Di saat itulah Putut Wayan dan Dewi Latif Banon menyatakan perasaan cintanya kepada Joko Susilo. Namun Joko Susilo tidak mungkin memiliki putri-putri itu karena dia adalah penjelmaan Glatik Putih. Maka atas usul para cantrik-cantrik kerajaan Kertonegoro, akhirnya dua wanita yang menyenangi Joko Susilo itu menikah dengan para raja yang sedang mencari Glatik Putih.
Putut Wayan akhirnya akan menjadi istri Kaisar Haruntala. Sementara Dewi Latif Banon menjadi istri Prabu Kertonegoro. Begitulah. Akhirnya tiga negara tersebut, Kerajaan Kediri , negeri Ceron wilayah milik Bedande Proyadek, bisa hidup bersama dan bahagia. (The Real Jogja/joe)










Duuhh…emang Jogja itu beda ya? semua bisa aman & tentram, polisi, tentara, birokrat selalu jadi satu dalam event apapun..aku monitor semua event2 Jogja loh? walau dari jauh..ada kuliner kontest,mural, photography kompetisi, biennale, sekaten etc… Semoga jadi contoh diwilayah lainnya, agar permasalahan bangsa ini segera berakhir utk kita bersama mengejar ketertinggalan kita dari negeri tetangga aja deh, gak usah jauh2 tolok ukurnya…