art

Komunitas Suling Bambu, tetap berkarya ditengah banyak kendala

Dimuat Redaktur Des 22nd, 2009 dalam Kategori FEATURES, KIPRAH, KISAH, KIPRAH, GAYA HIDUP. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Komunitas Suling Bambu saat pentas pada penutupan Jogja Spektakuliner 2009 di Plaza Monumen SO 1 Maret 1949, MInggu 20 Desember 2009.

Komunitas Suling Bambu saat pentas pada penutupan Jogja Spektakuliner 2009 di Plaza Monumen SO 1 Maret 1949, MInggu 20 Desember 2009.

Di jaman yang semua serba plastik saat ini, masyarakat sudah melupakan bambu. Padahal jaman dulu hampir semua peralatan yang begitu dekat dengan masyarakat terbuat dari bambu. Namun saat ada anak-anak muda yang tetap mempertahankan keberadaan bambu sebagai alat untuk menunjukkan semangat berkeseniannya, patutlah kiranya masyarakat memberi penghargaan sebesar-besarnya.

Anak-anak muda yang menggunakan bambu sebagai alat berkesenian tersebut tergabung dalam  Komunitas Suling Bambu. Sebuah komunitas yang memainkan suling dari bambu secara swadaya, swakarsa dan independen.

Pada penutupan acara Jogja Spektakuliner, Minggu (20/12) Komunitas Suling Bambu mendapatkan kesempatan untuk memamerkan kemampuan memainkan suling bambu kepada publik Yogyakarta di Plaza Monumen SO 1 Maret 1949.

Meski hanya menampilkan 4-5 lagu, namun Komunitas Suling Bambu yang berslogan “Selamatkan suling bambu untuk Indonesia” ini sudah menunjukkan kepada publik bahwa suling bambu ternyata masih ada  bahkan eksis ditangan anak-anak muda Yogyakarta.

Ketua Komunitas Suling Bambu Agus “Patub” BN menerangkan komunitas yang dijalankan oleh 20-an anak muda berusia 20-25 tahun ini, memulai memainkan musik suling bambu sejak bulan Mei 2004 lalu dengan melakukan kegiatan ngamen suling keliling di seputaran Lembah UGM serta Pasar Beringharjo.

“Kami melihat di sekolah-sekolah yang dipakai adalah suling plastik sehingga suling bambu jadi tidak tersentuh. Kami berfikir gimana caranya suling bambu yang tidak terkenal itu bisa terkenal,” jelas Agus mengenai latar belakang kemunculan komunitas ini. yang tiap bulan sekali ini selalu membeli 20-50 suling bambu ini.

Selain itu, kata Agus, dengan komunitas ini, diharapkan secara ekonomi bisa membantu para pengrajin suling bambu yang keberadaannya kembang kempis. Komunitas ini, setiap bulan sekali selalu membeli 20-50 suling bambu bari dengan harga satu suling bambu sebesar Rp1200-Rp1500.

Keseriusan komunitas ini untuk mempertahankan suling bambu memang patut diacungi jempol. Sejak 2004 hingga saat ini, mereka telah memberikan pelatihan bermain musik dengan suling bambu kepada 1114 siswa sekolah mulai dari SD hingga SMU.

Meski mempunyai niatan baik, komunitas ini harus menghadapi kendala-kendala untuk bisa mendekatkan musik suling bambu kepada peserta didik. Agus menceritakan, justru pihak yang berkompeten terhadap pelestarian suling bambu itu yang mementahkan keinginan komunitas suling bambu untuk memberi pelatihan kepada peserta didik.

“Padahal kita berniat untuk membantu pembelajaran bermusik melalui suling bambu,” ujar Agus seraya mengatakan peristiwa tidak mengenakkan itu terjadi pada tahun 2007 lalu saat ia menemui Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta untuk membantu pelestarian suling bambu kepada peserta didik.

Persoalan lain yang dihadapi Komunitas Suling Bambu ini adalah ada sekolah yang menolak diberi pelatihan suling bambu gratis dengan alasan di sekolah tersebut sudah ada suling plastik/ recorder yang selama ini telah dipakai untuk pendidikan musik dasar dan menengah di Yogyakarta/ Indonesia. Komunitas Suling Bambu ini juga menghadapi kendala dana operasional komunitas sehingga menyebabkan tidak terjaminnya  keberlangsungan komunitas secara terus menerus. Selama ini, operasional komunitas diambil dari dana pribadi anggota komunitas.

Meski menghadapi berbagai kendala, Komunitas Suling Bambu ini tidak patah semangat. Mereka tetap berlatih dan menciptakan aransemen musik melalui suling bambu. Mereka juga tetap melakukan kegiatan pemberian pelatihan kepada peserta didik.

Diterangkan Agus, ia bersama anggota komunitas yang lain berlatih memainkan musik suling bambu seminggu satu kali pada setiap hari Sabtu pukul 15.00 WIB- 17.00 WIB di selasar selatan gedung Taman Budaya Yogyakarta.

Komunitas Suling Bambu ini telah berhasil mengaransemen ulang dengan suling bambu delapan –sepuluh lagu daerah dan lagu yang sudah ada. Lagu-lagu tersebut antara lain Ande-Ande Lumut dan Lir Ilir (Jawa), Yamko Rambe Yamko, Cik-Cik Periok, Cing Cangkeling, Tanduk Majeng, O Inani Keke, Selayang Pandang, Edelweis dan tanah air.

Sebanyak tujuh lagu karya sendiri dengan instrumen suling bambu juga telah berhasil diciptakan Komunitas Suling Bambu ini. Lagu-lagu tersebut antara lain Danzsuling, Kahyangan Mimpi, Romance From Jogja, Laut Mutu Manikam, Pertobatan -1, Pertobatan -2 serta Kau ….

“Susah. Karena harus diperkirakan dengan suara yang dihasilkan suling bambu,” kata Agus mengenai proses aransemen lagu dengan menggunakan suling bambu. Agus menerangkan dibutuhkan dua hari untuk membentuk komposisi dasar lagu baru melalui suling bambu bass, suling bambu suara satu,dua dan tiga  serta suara suling bambu pengalir.

“Dengan dua kali latihan untuk sekali pertemuan dengan waktu dua jam aransemen lagu sudah bisa dimainkan,” kata Agus yang juga komposer lagu-lagu Komunitas Suling Bambu. Aransemen yang dihasilkan selama latihan akan dimainkan di studio rekaman untuk memperoleh aransemen lebih mantap.

Tercatat hingga belasan pementasan, pertunjukkan suling bambu sudah dilakukan Komunitas Suling Bambu. Tahun 2005 lalu misalnya, komunitas ini pernah masuk dalam acara “30 Detik Jadi Bintang” Global TV, Sosialisasi Musik Suling Bambu di UIN, UII dan FE UTY, Konser Keliling Gerakan Anti Narkoba.

Pada tahun 2007, recording komposisi musik yang sudah jadi, konser di Texcraft di JEC, Konser Apresiasi di Festival Kampung Kricak Kidul, Konser 17-an di Tamansari Foodcourt-Ambarukmo Plaza.

Ke depan, beberapa agenda pentas, pelatihan dan audiensi dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X akan dilakukan. Menurut Agus, Komunitas Suling Bambu akan pentas di Plaza Monumen SO 1 Maret 1949 dalam rangka event Jogja Etnik Festival 2009 akhir Desember ini.

Untuk kegiatan pelatihan, komunitas tersebut akan menargetkan 20 sekolah untuk dijadikan tempat pelatihan bermusik dengan suling bambu. “Saat ini kita baru bisa dapat tiga sekolah. Kita akan coba terus untuk memenuhi target,” ujar Agus.

Sedang mengenai audiensi dengan Gubernur DIY, Agus mengatakan, upaya audiensi tersebut dilakukan untuk mendapatkan jawaban dari Gubernur mengenai arah masa depan dari musik suling bambu ini di Yogyakarta.” Kita akan cari tahu bagaimana masa depan musik suling bambu ini dari Gubernur,” jelas Agus. (The Real Jogja/joe)

1 Tanggapan untuk “Komunitas Suling Bambu, tetap berkarya ditengah banyak kendala”

  1. hha mengatakan:

    wah, kerja bagus teman-teman…saatnya mengulang kejayaan indonesia. :D

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau