
Anggota Kelompok Kowemono saat melakukan pameran patung perdana mereka di Bentara Budaya Yogyakarta, 12-20 Desember 2009. Dari Kiri-Kanan: Khusna Haridyanto, Dedy Maryadi, Mardiyanto, Yusuf Dilogo, Duvratz Anggelo, Saptoto K serta Fransgupta.
Telah lahir di jagad keseni rupaan Yogyakarta dengan percaya dirinya kelompok Kowemono. Sebuah kelompok seniman anak muda yang ingin menunjukkan bakat seni rupa mereka ke dalam seni patung.
Kelompok Kowemono baru lahir pada 12 Desember 2009 lalu. Kelompok ini diberanggotakan sembilan seniman muda yang menggeluti seni patung sejak pertama kali menginjakkan kaki di Program Seni Patung Fakultas seni Rupa Institut Seni Yogyakarta.
Ke sembilan anggota Kelompok Kowemono ini antara lain Arif Sulaiman, Duvratz Angelo, Dedy Maryadi, Fransgupta, Khusna Hardiyanto, Mardiyanto, Purwanto, Saptoto dan Yusup Dilogo.
Ada beberapa alasan mengapa kelompok Kowemono ini memilih seni tiga dimensi patung menjadi bentuk eksistensi berkesenian mereka. Pertama, ke sembilan anggota Kowemono ini berasal dari Jurusan seni Patung Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Ada yang sudah lulus dan beberapa yang masih menyelesaikan studinya di jurusan tersebut.
Alasan lain dijelaskan Dedi Maryadi yang mengatakan seni patung adalah seni rupa yang mempunyai tingkat kompetensi yang tinggi karena dengan seni patung telah terjadi timbal balik antara seniman dengan benda-benda yang sebenarnya mati namun bisa diwujudkan dalam bentuk-bentuk patung. (tiga dimensi).
“Dengan seni patung, kita dapat membuat tiga dimensi dengan gaya yang bisa bermacam-macam cara pengungkapannya,” ujar Dedy.
Mengenai nama kelompoknya sendiri, Dedi mengungkapkan kata “Kowemono” sesungguhnya mempunyai banyak arti. Bahkan orang lain pun bisa mengartikan kata tersebut. “Silakan ditulis apapun mengenai arti nama kelompok kita ini. Mau yang baik, yang lucu atau bahkan yang saru sekalipun tak apa-apa,” kata Dedy.
Diceritakan Dedi, kata “Kowemono” muncul secara kebetulan. Ketika itu, kata Dedy, dirinya dan teman-teman satu kelompok sedang berkumpul untuk membahas nama kelompok mereka. Tiba-tiba ada satu anggota yang menelpon salah satu anggota yang sedang berbincang-bincang. Di tengah pembicaraan lewat telpon itu muncul kata-kata “Kowemono” untuk mengomentasi teman yang sedang diajak telpon dimana kebetulan ia sedang membuat patung di studionya.
Sehingga secara harfiah “Kowemono” bisa diartikan menunjuk sosok seniman yang sedang inten berkesenian.
Untuk menjaga eksistensi berkesenian dengan seni patung, kelompok Kowemono telah merencanakan sebuah proses penciptaan seni patung yang unik. Anggota Kelompok Kowemono lainnya, Mardiyanto menerangkan, kelompoknya akan menciptakan patung Estofak yang dibuat dari rongsokan sepeda onthel.
Melalui sepeda onthel itu, satu-satu persatu anggota Kelompok Kowemono akan menciptakan seni patung berdasarkan pengalaman berkesenian yang sudah dijalani masing-masing anggota. Anggota pertama yang akan menciptakan kreasi seni pada sepeda onthel tersebut dihasilkan dari undian yang dilakukan semua anggota Kelompok Kowemono.
“Kita sudah lakukan undiannya dua bulan lalu. Dan Dedy Maryadi yang mendapat kesempatan pertama untuk berkarya dengan sepeda onthel rongsokan itu,” kata Maryanto.
Ditambahkan Mardiyanto, selama proses pembuatan seni atas sepeda onthel itu, anggota kelompok yang lain tidak boleh tahu apa yang dilakukan teman yang sedang membuat karya seni dengan sepeda onthel itu. “Kalau ada teman yang kebetulan datang ke studio, ya sepedanya disembunyiin dulu,” kata Dedi seraya tertawa.
Anggota kelompok yang lain baru bisa tahu karya seni apa yang ditampilkan dalam sepeda onthel tersebut saat di display pada saat dipamerkan. “ Kita tidak akan membatasi tahun 2010 semua kelompok Kowemono bisa memamerkan kreasi seni mereka terhadap sepeda onthel tersebut,” tambah Mardiyanto.
Mengenai persoalan masa depan kelompok ini seiring dengan perjalanan waktu berproses dalam berkesenian, anggota Kelompok Kowemono yang lain, Yusuf Dilogo mengatakan munculnya kelompok Kowemono diantara sembilan orang ini adalah bagian dari proses seni yang akan menuju pada suatu arah.
“Kita sangat berharap karya-karya patung kita bisa diterima publik dulu. Selepas itu tergantung individu-individu anggota kelompok Kowemono,” ujar Yusuf yang semasa di Sekolah Menengah Seni Rupa mendapatkan penghargaan dari Philip Morrist atas kreasi patung yang ia buat.
Lebih Jauh Yusuf memberikan keterangan, persoalan pasar bukan menjadi tujuan saat ini bagi kelompok ini. “Sebab pasar itu mengikuti kita, kalau kita mempunyai daya cipta kuat. Itu pasti,” tegas Yusuf.
Bukan tanpa alasan kalau Yusuf Dilogo mengeluarkan kalimat dengan rasa percaya diri yang besar itu. Yusuf menerangkan beberapa pemahaman yang mampu melahirkan rasa percaya diri itu. Pemahaman tentang pasar yang mempunyai syfat jenuh misalnya yang bisa menjadi celah masuk bagi kelompokk Kowemono masuk dan mengisi kejenuhan pasar itu. “Celah itu bisa kita manfaatkan saat kita punya daya tahan dalam berkarya,” tambah Yusuf.
Selain itu adanya fenomena jual beli karya seni dengan segala hal yang menyertai proses transaksi yang sering dilihat Kelompok Kowemono, menurut Yusuf juga bisa digunakan untuk menyiasai masa depan.
“Ada rasa tumpang tindih yang aneh saat kita melihat fenomena transaksi ekonomis dalam seni,” kata Dedy menambahkan. Yang dimaksud Dedy adalah ada seniman yang sudah bersusah payah bekerja keras menciptakan bentuk seni namun dalam transaksi ekonomisnya kadang tidak jalan. (The Real Jogja/joe)









