art

Hambrgract, ketika seniman-seniman Yogyakarta berkolaborasi merayakan hari HAM se-dunia

Dimuat Redaktur Des 18th, 2009 dalam Kategori FEATURES, FOTO, GALERI, KIPRAH, KISAH, KIPRAH, GAYA HIDUP. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Rolly LoveHateLove berpose bersama karya logo karakter dari street art mural yang ia ciptakan untuk mengisi kegiatan Hambrgract di Temby Contemporary, Kamis (17/12)

Rolly LoveHateLove berpose bersama karya logo karakter dari street art mural yang ia ciptakan untuk mengisi kegiatan Hambrgract di Temby Contemporary, Kamis (17/12)

Hormati hak asasi manusia… Karenan itu fitrah manusia…

Kita semua bebas memilih jalan hidup yang disukai

Tuhanpun tidak memaksakan apa yang hamba-Nya lakukan

Kita bebas untuk melakukan segala-galanya… asal saja tidak bertentangan dengan Pancasila\

(lirik lagu Hak Asasi Manusia-Rhoman Irama)

Hari Hak Asasi Manusia (HAM) se-dunia yang jatuh 10 Desember lalu turut pula dirayakan seniman Yogyakarta. Mereka secara individu maupun kelompok menampilkan beragam proyek kesenian sebagai perlambang dari banyaknya ketidak adilan hak asasi manusia yang dilakukan manusia itu sendiri.

Dengan mengambil tempat pelataran Galeri Tembi Contemporary pada Kamis (17/12) para seniman Yogyakarta ini menampilkan berbagai karya seni seperti art worek, live act mural, tatto workshop, workshop potong rambut, performance act serta music performance.

Bahkan seniman besar Yogyakarta seperti Eddi Hara ikut bergabung dengan para seniman lainnya dengan membuat lukisan mural. Selain Eddi Hara juga berpartisipasi adalah pekerja art work seperti Taring Padi, Atap Alis, Survive Garage, Overtune Zine, Bayu Widodo, Baja Panggabean, Isrol, Rangga dan Santo.

Seorang pengunjung dari mancanegara sedang menyaksikan poster-poster agitatif karya para pekerja art work yang sedang merayakan hari HAM se-dunia di Tembi Contemporary, Kamis (17/12).

Seorang pengunjung dari mancanegara sedang menyaksikan poster-poster agitatif karya para pekerja art work yang sedang merayakan hari HAM se-dunia di Tembi Contemporary, Kamis (17/12).

Sementara itu seniman street art  mural Yogyakarta seperti Dhomas ‘Kampret’, LoveHateLove, Fran ‘Chowrawk’, Bayu Widodo, Sindu Cuter dan Atap Alis bersatu dalam live act mural.

Untuk tattoo workshop dikerjakan oleh Cap Bagong Tattoo dan Mbendol sementara untuk workshop potong rambut dilakukan Andri Kurniawan alias Boy hair style cut.

Komunitas Performance Club Yogyakarta mengisi bagian performance art dimana tampil pada sesi tersebut tampil anggota Performance Club Buyung Mentari serta Djuadi Ahwal.

Buyung Lestari dari Performance Club saat melakukan teatrikal berjudul "Pembantaian Senyap" sebagai wujud kritik seniman terhadap tidak jelasnya kematian beberapa aktivis HAM pada masa lalu.

Buyung Lestari dari Performance Club saat melakukan teatrikal berjudul "Pembantaian Senyap" sebagai wujud kritik seniman terhadap tidak jelasnya kematian beberapa aktivis HAM pada masa lalu.

Beberapa kelompok musik yang oleh masyarakat sering disebut sebagai ‘kelompok kiri’ juga tampil dihadapan penonton. Kelompok musik ini antara lain Teknoshit, dangdut waria, 3some from mars, Tawazun, Dendang Kampungan dan Death Battle.

Koordinatot kegiatan Hambrgract, Rachel Saraswati menerangkan Hambrgract dilakukan untuk memperingati hari Hak Asasi Manusia yang diperingati setiap tanggal 10 Desember. Kegiatan Hambrgract dilakukan tidak sebatas dengan seni visual saja namun dengan kesenian yang beraneka warna sehingga mampu digunakan sebagai alat pergerakan.

“Dengan Hambrgract ini diharapkan agar rakyat menyuarakan hak-hak sebagai rakyat,” ujar Rachel Saraswati yang juga anggota Performance Club.

Rolly dan kawan-kawan yang bergabung dalam kelompok musik Hip-Hop Tawazun saat tampil dalam Hambrgract.

Rolly dan kawan-kawan yang bergabung dalam kelompok musik Hip-Hop Tawazun saat tampil dalam Hambrgract.

Rachel menjelaskan Buyung Lestari akan melakukan teatrikal mengenai terbunuhnya beberapa pejuang Hak Asasi Manusia seperti Munir dalam sebuah performance berjudul “Pembantaian Senyap”

Para pekerja art work seperti Taring Padi, Atap Alis, Survive Garage, Overtune Zine dll menampilkan karya berupa poster, drawing pada kertas, Pin dll yang semuanya menyeruakan pentingnya hak asasi rakyat yang harus dipenuhi dan tidak boleh dihilangkan.

“Poster yang dipamerkan semuanya sangat agitatif yang mempunyai hubungan dengan Hari Hak Asasi Manusia yang kita peringati bersama-sama malam ini,” Kata Rachel.

Anggota Survive Garage, salah satu artist art work yang menampilkan berbagai macam art work seperti pin, kaos, gambar yang mempunyai sisi idealisme cukup kuat tentang  penegakan HAM.

Anggota Survive Garage, salah satu artist art work yang menampilkan berbagai macam art work seperti pin, kaos, gambar yang mempunyai sisi idealisme cukup kuat tentang penegakan HAM.

Persoalan belum jelasnya kematian yang menimpa beberapa aktivis sosial dan HAM yang dimiliki Indonesia juga menjadi perhatian pihak Performance Club dimana, salah satu anggotanya Buyung Lestari akan mempersembahkan teatrikal berjudul “Pembantaian senyap”.

Buyung mengatakan aktivis sosial dan Ham yang meninggal sejak jaman orde baru maupun reformasi hingga saat ini belum jelas keterangannya. Buyung memberi contoh Marsinah, empat mahasiswa Trisakti serta Munir yang semuanya meninggal tanpa keterangan yang jelas hingga saat ini.

“Melalui teatrikal yang saya lakukan ini, ingin menunjukkan perlambang tentang kondisi pelanggaran HAM yang terjadi terhadap para aktivis,” kata Buyung.

Rachel Saraswati dan beberapa anggota Performance Club sedang menampilkan instalasi "Tangan-Tangan kebohongan" di pelataran Tembi Contemporary.

Rachel Saraswati dan beberapa anggota Performance Club sedang menampilkan instalasi "Tangan-Tangan kebohongan" di pelataran Tembi Contemporary.

Sementara itu seniman mural Yogyakarta Rolly mengatakan dirinya berada pada posisi menghargai berkesenian untuk semua. Rolly tidak begitu paham apakah dirinya memasuki sebuah pergerakan atau semacamnya.

“ Kalau saya tidak harus terbawa pada acara apa. Spirit yang saya bawa adalah spirit untuk memberikan gambar-gambar bentuk yang saya anggap indah dengan loyalitas pada seni yang saya kerjakan,” jelas Rolly yang biasa juga dipanggil dengan tambahan nama LoveHateLove.

Pada kesempatan kerja bareng dalam rangka hari HAM se-dunia ini, Rolly menampilkan street art tentang penghilangan hak asasi terhadap pemakai sepeda oleh pemakai kendaraan lain.

Andri Kurniawan aka Boy seorang seniman hair style cut yang berkolaborasi dengan Rismillianti Wijayanti dalam workshop potong rambut.

Andri Kurniawan aka Boy (kanan) seorang seniman hair style cut yang berkolaborasi dengan Rismillianti Wijayanti dalam workshop potong rambut.

“Saya tidak merasa sentimentil dengan pemakai kendaraan lain, tapi banyak terjadi penghilangan hak bersepeda oleh pemakai jalan lain. Ada eksistensi yang telah dirampas dari para pemakai sepeda,” terang Rolly yang malam itu selain melakukan live act mural juga bernyanyi Hip-Hop dengan beberapa kawannya yang bersatu dalam kelompok Tawazun.

Rismilliana Wijayanti, pengelola Galeri Tembi Contemporary mengatakan pihaknya memang diajak pihak Performance Club untuk menyelenggarakan acara Hambrgract ini di Tembi Contemporary. Kegiatan Hambrgeract ini memakai pelataran Tembi Contemporary dan tidak mengganggu jadwal yang pihaknya galeri.

“Prinsipnya sih kami terbuka aja dengan teman-teman seniman yang ingin melakukan kegiatan kesenian di Tembi Contemporary,”kata Rismilliana. (The Real Jogja/joe)

"The Happy Victim", mural karya salah satu seniman lukis internasional milik Yogyakarta Eddi Hara yang menyempatkan waktu mengunjungi Tembi Contemporary selama kepesertaannya dalam Biennale Jogja X-2009.

"The Happy Victim", mural karya salah satu seniman lukis internasional milik Yogyakarta Eddi Hara yang menyempatkan waktu mengunjungi Tembi Contemporary selama kepesertaannya dalam Biennale Jogja X-2009.

Music Performance dalam rangkaian kegiatan Hambrgract juga menampilkan Dangdut Waria. Beberapa waria bernyanyi dangdut memperlihatkan eksistensi hak mereka atas kehidupan ini.

Music Performance dalam rangkaian kegiatan Hambrgract juga menampilkan Dangdut Waria. Beberapa waria bernyanyi dangdut memperlihatkan eksistensi hak mereka atas kehidupan ini.

Lukisan mural karya Eddi Hara bersama-sama seniman street art mural Yogyakarta antara lain LoveHateLove, Atap Alis, Dhomas 'Kampret' dll.

Lukisan mural karya Eddi Hara bersama-sama seniman street art mural Yogyakarta antara lain LoveHateLove, Atap Alis, Dhomas 'Kampret' dll.

1 Tanggapan untuk “Hambrgract, ketika seniman-seniman Yogyakarta berkolaborasi merayakan hari HAM se-dunia”

  1. Rachel Saraswati mengatakan:

    Mas ada sedikit ralat nih… Kemarin performer kedua yang tampil di acara Performance Klub untuk memperingati hari HAM: Djuadi Ahwal dari Taring Padi (performancenya keren sekali ya!). Juga instalasi – instalasi berupa tangan, kepala, & kaki, adalah karya dari Samuel Indratma yang kami respon (dg ijin tentunya) dan diberi tajuk ulang, sesuai dg tema yang kami angkat. Untuk workshop tatto-nya, tidak jd kami adakan karena ternyata jadwal kami berbenturan dg agenda mereka. Revisi poster yang fix ada di Facebook: Performance Klub dab! & Blogspot Performance Klub. Untuk liputannya kami mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya. Kapan-kapan gabung lagi ya, mas! Sukses selalu untuk JOGJANEWS.com!

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau