art

Menjadikan 100% DeKaVe Indonesia

Dimuat Redaktur Des 10th, 2009 dalam Kategori WACANA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Poster "2012" karya Dosen ISI Yogyakarta Indra Maharsi yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, 4-8 Desember 2009.

Poster "2012" karya Dosen ISI Yogyakarta Indra Maharsi yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, 4-8 Desember 2009.

Program Studi Desain Komunikasi Visual FSE ISI Yogyakarta, 4-8 Desember 2009 lalu menyelenggarakan pameran karya desain komunikasi visual (DeKaVe) dengan tajuk “Diskomplet”. Pamern DeKaVe ini adalah usaha ISI untuk menyosialisasikan wacana desain komunikasi visual dalam bentuk karya DeKaVe yang riil dan diakrabi masyarakat.

Sumbo Tinarbuko, Konsultan Desain, Dosen Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Program Pascasarjana ISI Yogyakarta memberikan perspektif tentang persoalan yang terjadi dibalik perayaan karya DeKaVe civitas akademikia Program Studi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta. Berikut pemahaman tentang persoalan miskin kreativitas yang ditulis Sumbo Tinarbuka dalam katalog pameran ‘Diskomplet’ itu:

Sesuatu yang membanggakan ketika Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa (FSR) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta secara resmi menyelenggarakan pameran karya desain komunikasi visual (DeKaVe) dengan tajuk “Diskomplet”. Gelaran karya DeKaVe tersebut dipamerkan kepada masyarakat luas di Bentara Budaya Yogyakarta, 4-8 Desember 2009.

Menurut panitia, pameran ini dibabtis jejuluk “Diskomplet’sebagai penggambaran komplitnya program studi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta yang termanifestasikan dalam idiom visual jamu tradisional yang notabene mampu menyehatkan, orisinal dalam konten dan konteks, berolah rasa dalam proses pembuatan, parennialis-ekletik-progresif dan sekaligus bernuansa lokal.

Terkait lokalitas yang ditawarkan dalam pameran “Diskomplet” ini, maka  seyogyianya kita membaca karya DeKaVe yang dibuat civitas akademika PRodi Desain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta sebagai bagian dari produk kebudayaan massa.

Untuk itu, tugas sosial kita sekarang adalah bagaimana caranya agar DeKaVe dapat berfungsi sebagai penanda visual atas kebudayaan bangsa Indonesia dalam konteks peradaban modern.

Tugas sosial semacam itu penting didukung bersama mengingat karya-karya DeKaVe yang dapat menjadi penanda visual atas eksistensi kebudayaan bangsa Indonesia yang memiliki ciri antara lain: pertama, karya DeKaVe mampu tampil secara atraktif, komunikatif,efektif, persuasif dan kontekstual.

Ke dua, karya DeKaVe harus dapat mencerdaskan masyarakat terkait pesan yang ingin disampailan. Ketiga, keberadaannya bisa diterima masyarakat luas. Keempat, taat mengikuti perilaku adat-istiadat yang berlaku, menjunjung tinggi moralitas, mengedepankan kearifan budaya lokal.

Ke empat ciri  tersebut, sesungguhnya bukan sesuatu yang baru dan sulit bagi lingkungan Prodi Desain Komunikasi Visual dan industri kreatif DeKave untuk diwujudkan dalam kehidupan nyata ditengah-tengah masyarakat luas.

Pertanyaannya kemudian, kalau hal itu tidak sulit untuk diejawantahkan, kenapa karya DeKaVe Indonesia ditengarai miskin dalam hal kreativitas, gaya dan daya ungkap komunikasi visual?

Padahal dalam hal ide, karya DeKaVe Indonesia tidak kalah dengan negara tetangg. Katanya, kreator karya DeKaVe Indonesia  hanya beda tipis dari sisi komunikasi dan skill craftmanship. Tetapi, justru hal inilah yang menyebabkana kita belum mampu menyejajarkan diri dalam percaturan kreatifitas karya DeKaVe Indonesia di tingkat internasional.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi tingkat kemiskinan kreativitas ini? Yang paling gampang kita harus berpaling pada budaya lokal bangsa Indonesia. Dan pada titik inilah kekuatan karya DeKaVe Indonesia dipertaruhkan.

Dengan mengedepankan budaya lokal, akan menumbuhkan keberagaman sudut pandang komunikasi visual dan berujung pada outcome ide dalam balutan craftmanship yang berkualitas. Artinya, dalam rangka mencari dan menjadikan 100% karya DeKaVe Indonesia perlu kiranya kita memberi perhatian khusus aspek kearifan budaya lokal, adat istiadat serta moralitas.

Mengapa demikian? Sebab dengan mengikuti perilaku adat istiadat yang berlaku, dengan menjunjung tinggi moralitas, dan mengdepankan kearifan budaya lokal untuk kemudian diangkat menjadi inspirasi, sumber ide, dan gagasan, serta sebagai perangkat lunak untuk mengomunikasikan beragam persan komersial, sosial, atau pun moral kepada sasaran khalayak yang dibidik, maka berbagai karya DeKaVe yang dihasilkan tangan-tangan kreatif yang senantiasa mengedepankan kearifan budaya lokal Indonesia akan menjadi penanda cukup kuat.

Dengan demikian, keberadaan sebuah karya DeKaVe akan memberikan aksentuasi perikehidupan masyarakat, ujung-ujungnya diharapkan mampu mencerahkan pemikiran dan perasaan umat manusia yang hidup dan  mengisi kehidupannya sesuai dengan talenta masing-masing.

Di sisi lain, parameter keberhasilan sebuah proses kreatif dan inovatif di lingkungan pendidikan tinggi desain komunikasi visual (DeKaVe) bis dilihat manakala para peserta didik mempunyai kepekaan tinggi terhadap pemecahan masalah komunikasi (verbal dan visual), lancar dan orisinal dalam berfikir kreatif, fleksibel dan konseptual, cepat mendefinisikan dan mengelaborasi berbagai macam persoalan yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat di segala lini kehidupan ini.

Untuk itu, dalam menjalankan aktivitas DeKaVe dengan memanfaatkan berbagai media komunikasi (visual, audio visual) tidak hanya berupaya menghasilkan karya DeKaVe yang bagus saja, tetapi ia harus mampu melahirkan karya DeKaVe yang bisa bicara secara dialogis dan komunikatif.

Keberadaannya diharapkan memiliki gerakan yang mampu menghadirkan daya ganggu cukup signifikan. Dengan demikian, karya DeKaVe tersebut akan cukup lama terekam dan bertengger dalam otak target sasarannya. (The Real Jogja/joe)

Categories: WACANA
Tags:

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau