
Tiga mobil tangki air penyiram taman Kota Yogyakarta dilukis menjadi penuh warna oleh seniman peserta Biennale Jogja X-2009.
Biennale Jogja X-2009 tinggal sesaat lagi. Aktifitas seni rupa sebagai rangkaian dari Biennale ini mulai menggeliat. Contohnya adalah kegiatan beberapa seniman baik berkelompok maupun individu melukis pada mobil tanki air.
Tiga buah kendaraan tangki air milik Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta seakan menjadi korban kreatifitas seniman Yogyakarta dengan menjadi tempat melukis, menggantikan kanvas yang biasanya mereka gunakan.
“Rencananya ada 4 mobil yangb akan di©’painting’. Selain mobil tangki air, kita juga akan melakukan ‘painting’ pada mobil toilet umum” kata Kumbo Adiguno, Pendamping Kurator untuk ‘mobile art’
Biennale Jogjakarta X-2009, Senin (07/12).
Fajar Kunthing dan Didik bersemangat pada tangki air melukis walau terik sinar matahari menyerang.
Kumbo mengatakan, melukis tangki ini dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda jika warga melihat mobil tangki yang biasanya digunakan untuk menyiram tanaman di taman-taman Kota Yogyakarta.
“Karena biasanya, yang sudah diketahui umum warna mobil tangki air milik DLH Kota ini seragam dan terlihat kaku, “ ujarnya.
Sulung Widya Prasetya tetap bersemangat melukis warna-warna membentuk bidang dalam tangki air ditengah panas matahari yang cukup menyengat.
Sindikat Mural Merdeka, Sulung Widya Prasetya, Ledek Sukadi, Didit dan Adi adalah kelompok dan individu yang berperan menciptakan lukisan-lukisan menarik pada mobil-mobil tangki air ini.
Mereka membawa konsep mengarsip sebagaimana tema Biennale Jogja X-2009 ini. Komunitas Mural Merdeka misalnya mereka menggunakan cat akrilik serta pensil menampilkan seniman-seniman besar jaman revolusi seperti Affandi dan Basuki Abdullah.

Kelompok Selaras yang terdiri dari Leak Sukadi, Didik dan Adi sedang melukis corak batik Carang Bubrah sebagai motif batik khas Jogja pada tangki air mobil milik Pemkot Yogyakarta.
Komunitas ini memberi improve pada tangki air ini dengan melukis bentuk wayang Buto Cakil yang tertawa terbahak dan Buto Cakil yang menebangi pohon serta celeng yang menyatu dalam sebuah gunungan wayang.
“Itu (Buto Cakil dan Celeng) improve saja, menggambarkan godaan dunia,” kata Fajar Kunthing yang melukis bersama rekannya Didik.
Anggota Sindikat Mural Merdeka merubah tangki mobil suram milik Pemkot Yogyakarta menjadi lebih berarti dengan mural-mural penuh pesan mereka.
Sementara Sulung Widya Prasetya menghadirkan permainan bidang dan warna pada tangki mobil lainnya. Sepuluh warna cat akrilik seperti bitu, merah muda, kuning, ungu dan beberapa warna lain ditampilkan Sulung.
Sulung sedang membuat lukisan ala seniman Amerika Piet Mondrea yang sangat terkenal dengan lukisan dalam bentuk permainan bidang dan warna. “ Dikomposisikan sesuai dengan besar kecil bidang dan juga mempermainkan warna cat yang tersedia,” kata mahasiswa Fakultas Seni dan Bahasa UNY jurusan seni rupa ini.
Sulung tidak sedang memberikan pesan apapun dalam lukisannya. Namun ia berharap engan apa yang telah ia lukis dalam mobil tangki air ini, Pemkot Yogyakarta sebagai pemilik mobil ini memperhatikan kondisi mobil dengan merawatnya.

Sulung yang hampir selesai melukis mobil tangki air.
Mobil terakhir yang menjadi ‘korban’ kreatifitas seniman-seniman Yogyakarta dirubah penampilannya dengan menampilkan motif batik Parang oleh Leak Sukadi, Didik dan Adi.
Seniman-seniman yang tergabung dalam kelomppok selaras ini ni mengarsip motif batik carang bubrah sebagai sebuah motif batik khas Yogyakarta dengan menggunakan cat akrilik sebagai materi pewarnanya. (The Real Jogja/joe)

Fajar menaiki mobil tangki air untuk menyelesaikan lukisan mural berjudul "Migunani Tumraping Liyan".










wuoooo… jadi kangen jogja!!!
saiiikkkk buuaaangeeeeeeeettttttttttttt…?!?!?!? pengen deh ikut nge’bomb’ jogja hehe tapi saya warga ungaran, bisa gak yah????
Jogja memang penuh kreativitas,,,,, aku rindu suasana Jogja.