Anggota LAB LT dari kini kekanan Ambarwati Sri Lestari, Lashita Situmorang, Lenny Ratnasari Weichert, Theresia Agustina Sitompul dan Bonita Margaret.
Lima perupa wanita Yogyakarta yang tergabung LAB LT akan memamerkan karya seni rupa mereka di Tembi Contemporary pada 8-25 Desember 2009 mendatang. Dalam pameran perdana mereka, LAB LT yang terdiri dari Lenny Ratnasari Weichert, Ambarwati Sri Lestari, Bonita Margaret, Lashita Situmorang serta Theresia Agustina Sitompul.
LAB LT akan mengusung tema pameran “Vote Notes from LAB LT ” sebagai bentuk semangat retrospektif atas peristiwa besar Pemilu 2008 yang telah berlangsung di Indonesia. Bagi LAB LT, di balik perhelatan besar ada berbagai catatan kritis ( vote notes) yang bisa dimunculkan melalui banyak karya lukisan, grafis dan obyek.
LAB LT merasa gelisah karena berbagai hal yang tidak sesuai dengan kesan dan hasil Pemilu yang memproduksi bermacam janji. Kurator Pameran Votes Notes from LAB LT, Sudjud Dartanto mengatakan Sekilas karya mereka berbau politis, tapi kalau kita luangkan waktu untuk mencermatinya, kita seolah dipaksa untuk berkaca pada kenyataan hasil perilaku, perbuatan dan pilihan-pilihan yang kita buat.

Lenny Ratnawati Weichert didepan karyanya "Buta Politik"
“Sangat mudah untuk mengeluhkan kondisi yang tidak kondusif sekarang ini, dan kita sepertinya lupa bahwa sedikit banyak, kita semua ikut menyumbang pada ketidaknyamanan yang kita rasakan sekarang” ujar Sujud.
Lenny menghadirkan karya instalasi dari fiberglass membentuk sejumlah papan huruf Braille berjudul “Buta Politik”. Melalui karya itu, Lenny ingin mengingatkan kita pada pendidikan politik di tanah air yang masih terasa elitis dan kurang memasyarakat. Masyarakat umum kita masih terbata-bata untuk mengeja dan memahami prosedur aturan aturan main yang dikelola oleh negara dalam mengatur kehidupan kewargaan dan politik.
Pada “Wishing Table”, Lenny membuat seri figur-figur Presiden dan Wakil Presiden yang menghadirkan sosok SBY-Boediono, Megawati-Prabowo, Jusuf Kalla-Wiranto. Ada pula stainless steel yang dibentuk menjadi “Bar Chart”, atau simbol contreng raksasa. Tentu kita tidak meragukan lagi mengenai tanda satu ini.

Ambarwati Sri Lestari bersama karyanya "Cukup Lima Menit Saja"
Sementata Ambarwati Sri Lestari menampilkan simbol sejumlah bibir yang diberi judul “Theater of Lips 1” serta “Theater of Lips 2” yang membawa pesan tentang janji-janji kosong yang diucapkan tokoh politik. Dua lukisan Ambar itu hadir dengan citra surealistik. Kita akan menjumpai sosok ganjil dengan latar belakang suasana yang pekat dengan warna dan simbol-simbol surealis.
Ada pula karya obyek berjudul “Cukup Lima Menit Saja” yang menghadirkan obyek jam diatas perahu. Karya ini secara tegas memperlihatkan momen lima menit saat pencontrengan yang sangat menentukan nasib masyarakat.
Bonita Margaret menghadirkan sejumlah ikon lolipop di atas meja catur dan memberinya judul “”Parade Mulut Manis”. Ikon lolipop ini mengingatkan kita pada banyak kisah percaturan politik yang penuh berbagai intrik dan strategi.

Bonita Margaret didepan karyanya "Sekali Pakai"
Bonita juga menampilkan simbol burung Garuda Pancasila yang ia beri judul “Sekedar Membuntut”. Dibelakang simbol negara itu disematkan pula dua pigura kosong yang berisi simbol figur kepala presiden dan wakilnya. Melalui karya itu, Bonita bermaksud ingin melakukan kritik atas indoktrinasi yang tertanam sejak sekolah dasar, sebagaimana yang ia alami.
Kemudian pada karya yang berjudul “Sekali Pakai”, Bonita menghadirkan karya objek berbentuk tempat tisu, pada tisu itu tampak berbagai pose pas foto para caleg. Kita bisa membayangkan arti simbolis dari karya Bonita ini.
Anggota kelompok LAB LT selanjutnya adalah Lashita Situmorang yang membuat gagang telepon raksasa dari fiberglass dan diberi judul “Long Distance Direct Connection”. Bagi Lashita, ikon telpon ini menyimbolkan komunikasi konspiratif kalangan elit politik dimana keputusan yang dicapai melalui komunikasi tersebut amat menentukan nasib rakyat.

Lashita Situmorang berdiri disamping karyanya "Long Distance Direct Connection"
Sementara pada karya berjudul “The Invisible Political Views”, Lashita menampilan sosok figur berpayung. Melalui karya itu, lashita mengingatkan para penguasa untuk tidak mengabaikan arti penting suara perempuan dalam pengambilan kebijakan dan keputusan yang berkaitan dengan spublik.
Kemudian Theresia Agustina Sitompul menampakkan sosok ironi yang tengah mengonsumsi dirinya sendiri dalam karya “Oral Habit. Karya Theresia secara metaforis membicarakan kekuasaan yang begitu serakah. Keserakan itu melumat apa saja, bahkan hingga pada dirinya sendiri.
Melalui karya “Oral Orbit” ini, Theresia ingin menyampaikan pesan bahwa kekuasaan tidak selamanya negatif ketika dijalankan dengan mempertimbangkan etika. Namun sebaliknya, kekuasaan menjadi rakus dan korup manakala ia menafikkan etika dan tidak berpihak pada masyarakat.

Theresia Agustina Sitompul bersama karyanya "Oral Habit".
Pameran “Vote Notes from LAB LT” adalah pameran pertama LAB LT dalam merefleksikan pengalaman superego.Tentu hal itu menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi mereka ketika mereka keluar dari zona ego.
Sebab anggota LAB LT bukan pelaku politik praktis, tetapi sebagai aktor estetis, mereka menyatakan kritisisme mereka dengan berbagai pertimbangan olah bentuk, teknik dan ide untuk menghasilkan metafor yang pas.
Saat ingatan orang atas peristiwa besar PEMILU kian memudar, maka inilah saatnya para seniman berperang melawan lupa dengan menggelar pameran “Vote Notes” ini. (The Real Jogja/joe)

Karya berjudul " Wishing Table" karya Lenny Ratnasari Weichert.










Amazing! Always sucess for my cousin
oya laen kali klo poto ajak2 dong numpang nge top dikit gpp kan?hehehe
my lovely Lenny Gud idea en creative,,,get more the creat dear….en the others..so gud en exellent tanlent..dengan kata laen neh..aye bangga bener bisa kenal kalian yg ternyata wanita terhebat yg berkarya dibidangnya..ini wujud dari sebagian kecil kebanggaan bangsa Indo yg perduli akan bgs nye …anak2 bangsa gt dech…eh cum 1 yg blm aye kenal..Theresia Agustina Sitompul lam kenal ya eda….
always sukses selalu ya Len…
good and exellent,bravo pour madame lenny ratnasari weichert
satu kata dariku:kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen abis and bravo untuk lenny ratna sari weichert.sebagai penggagas ide
ketika permpuan Indonesia dah mulai bangkit dari kesadaran berimajinasi…tak akan ada dinding yang tak roboh oleh sebuah kebersamaan…lahir dari sebuah kehidupan tradisi di dapur di kasur dan di sumur maka saya salud luar biasa….“Vote Notes from LAB LT” met berkarya…sukses selalu buat semua…
mantap kali kalian berlima, ah! bangga. Selamat berpameran perempuan2 perkasa. Grace Siregar-UK
dear Lenny,
my congratulation to your exhibition!
all the bst and many greetings
Vlado