art

Pameran Fotografi “Yogyakarta Yang Terlupakan”, anak-anak muda yang belajar sejarah melalui foto

Dimuat Redaktur Nov 26th, 2009 dalam Kategori FEATURES, GALERI, PAMERAN DAN FESTIVAL, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Syevira Citra Hebrina, salah satu peserta Pameran Fotografi "Yogyakarta Yang Terlupakan"

Syevira Citra Hebrina, salah satu peserta Pameran Fotografi "Yogyakarta Yang Terlupakan"

Delapan fotografer dari beberapa komunitas fotografer di Yogyakarta menampilkan karya-karya fotografinya dalam pameran yang bertajuk “Yogyakarta yang terlupakan” di galeri Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta.

Delapan fotografer yang memamerkan puluhan karya foto mereka ini adalah peserta Workshop Fotografi bersama fotografer terkenal Perancis, Ferrante Ferranti yang dilaksanakan 7-9 November lalu di LIP.

Menurut Humas LIP Yogyakarta Enno Dewanti, karya foto yang diciptakan 10 fotografer muda Yogyakarta ini diharapkan dapat mengajak masyarakat mengingat, mengenang dan menemukan kembali sejarah serta petinggalan sosia-kultural situs-situs bersejarah yang menjadi obyek jepretan  para fotografer.

Sigid Kurniawan (kanan) dan Joko Yulianto (kiri)  berfoto bersama didepan foto-foto karya Sigid yang bercerita tentang bangunan tua khas China peninggalan leluhur Joko Yulianto di daerah Ketandan.

Sigid Kurniawan (kanan) dan Joko Yulianto (kiri) berfoto bersama didepan foto-foto karya Sigid yang bercerita tentang bangunan tua khas China peninggalan leluhur Joko Yulianto di daerah Ketandan.

“Dalam tataran lebih luas, mambangkitkan situs-situs penting yang terlupakan mampu menjadi alternatif obyek wisata budaya serta sejarah dimana pada akhirnya memperkaya identitas karakter Yogyakarta,” kata Enno.

Sebanyak sepuluh tempat bersejarah yang menjadi obyek fotografi anak-anak muda Yogyakarta pecinta dunia seni fotogragi itu adalah pesanggrahan Ambarukmo yang terletak di Jalan Laksda Adi Sucipto, Pesanggrahan Warungboto di Jalan Veteran, Museum Bank Indonesia, Jogja National Museum, Museum TNI AD-Sasmita Loka, SMAN 3 Yogyakarta, Bioskop Permata, Tempat Ibadah Tri Dharma Kwan Tee Kiong, Pecinan jalan Ketandan, dan Bioskop Mataram.

Ketua Heritage Society Yogyakarta, Laretna Adishakti mengatakan melalui pameran fotografi “Yogyakarta Yang Terlupakan” ini merupakan salah satu cara efektif untuk memberi tahu kepada orang lain sehingga mereka menjadi lebih paham mengingat dalam pameran ini, tempat-tempat bersejarah yang dipamerkan mempunyai cerita-cerita.

Dua karya foto Syevira "Limited Access Only" serta A Romances Behind the Wall"

Dua karya foto Syevira "Limited Access Only" serta A Romances Behind the Wall"

Namun Laretna juga menilai, pameran ini belum menggambarkan Yogyakarta secara keseluruhan karena jumlah tempat bersejarah yang ditampilkan masih sedikit. “Padahal di Yogyakarta masih banyak tempat bersejarah yang tidak dipandang orang atau telah ditinggalkan,” katanya.

Bagi Laretna, tempat-tempat yang tidak begitu dikenal itu memiliki sisi penting tidak hanya bangunannya tapi isi bangunannya yang memiliki cerita sejarah. “Kebanyakan tempat-tempat itu tidak terdaftar dalam data cagar budaya Pemkot bahkan tidak mendapat pengelolaan,” ujarnya

Sepuluh peserta pameran “Yogyakarta Yang Terlupakan” berasal dari 10 kelompok fotografi yang tersebar di kampus-kampus di Yogyakarta. Mereka memamerkan lima sampai delapan karya individu mereka hasil dari undian untuk memilih 10 tempat bersejarah di Kota Yogyakarta.

Foto karya Yudanto Adinugroho berjudul "Terteduh" yang berisi pohon-pohon besar peneduh Jogja Nasional Museum beserta cerita masa lalunya.

Foto karya Yudanto Adinugroho berjudul "Terteduh" yang berisi pohon-pohon besar peneduh Jogja Nasional Museum beserta cerita masa lalunya.

Para peserta  pameran tersebut adalah Syevira Citra Hebrina dari FOTKOM 401 UPN, Benedictus Yoga dari DWPH, Haryo Rachmantyo W dari FJK FISIP UAJY, Agung Supriyanto dari RPC UMY, Audy Bramara yang mewakili Lensclub, Heny Kusworo dari SERUFO UNY, Sigid Kurniawan dari Komunikasi UPN, Anouk Tourliêre mewakili Media Rekam ISI, Yudanto Ajinugroho dari MATA MSD, dan Ferry Arwiz mewakili Titik Api, DKV ISI.

Para peserta pameran menyatakan kepuasannya mengikuti Workshop Fotografi bersama Ferrante-Ferranti, fotografer terkenal dengan karya fotografi yang mampu memberi nafas baru pada tempat-tempat peninggalan bersejarah di seluruh dunia.

Syevira Citra Hebrina misalnya mendapatkan pelajaran berharga mengenai kesabaran, konsistensi dalam mendapatkan sudut obyek foto sesuai yang diharapkan dari Ferante Ferranti. Syevira yang mendapat undian untuk mengambil obyek foto Museum BI ini, memperoleh banyak pelajaran tentang mendapatkan komposisi obyek foto (bergerak atau statis).

Anak-anak muda pecinta fotografi nampak serius memperhatikan karya foto hasil jepretan peserta pameran.

Anak-anak muda pecinta fotografi nampak serius memperhatikan karya foto hasil jepretan peserta pameran.

“Dulu aku orangnya tidak sabaran kalau memotret kalau ikut Ferrante Firranti harus sabar,” ujar anggota komunitas komunitas fotgrafi FOTKOM 401 UPN ini. Syevira memamerkan delapan karya fotografi tentang sudut ruangan lantai I Museum BI, pagar pintu jendela, simbol dalam brankas penyimpan uang jaman Belanda, tangki air yang dipasang di museum.

Syevira berupaya menampilkan kesan Museum BI yang tampak angkuh dan sombong dengan akses masuk yang tidak mudah pula. Dalam foto “Limited Acces Only”, Syevira menampilkan kunci pintu masuk museum lengkap dengan rantainya. There is a space between us and building, tulis Syevira.

Syevira juga ingin menampilkan sisi romantis dari gedung museum BI ini dengan memotret jendela museum dan ditampilkan dalam judul “ A Romance Behind The Wall”. Sisi Romantis itu coba diraih melalui refleksi cahaya yang muncul dari ornamen-ornamen jendela museum yang bergaya klasik eropa.

Salah seorang pengunjung mancanegara serius mengamati foto karya Benedictus Yogya berjudul "Sisa Kejayaan Masa Lampau" yang berisi potret Pesanggarahan Warung Boto dimana didalam pesanggrahan ini ada taman air yang dibangun sejak  abad 19.

Salah seorang pengunjung mancanegara serius mengamati foto karya Benedictus Yogya berjudul "Sisa Kejayaan Masa Lampau" yang berisi potret Pesanggarahan Warung Boto dimana didalam pesanggrahan ini ada taman air yang dibangun sejak abad 19.

“Ternyata di dalam museum sangat menarik sekali. Ada sisi romantisme tersendiri,” kata mahasiswi jurusan komunikasi UPN ini sembari menerangkan pengambilan foto yang ia lakukan agak mengalami kesulitan dalam menciptakan eksplorasi representasi obyek yang ada.

Peserta lain, Sigid Kurniawan mendapatkan pemahaman baru mengenai betapa luasnya ilmu fotografi dari Ferrante Ferranti dan tidak hanya tentang fotografi jurnalistik seperti yang ia jalani selama ini. Dalam memotret arsitektur misalnya, Sigid mendapatkan pelajaran berharga tentang simbol-simbol serta hubungan antar obyek yang ada pada bangunan arsitektur.

“Ternyata dunia fotografi itu luas. (fotografi) arsitektur banyak berbicara simbol serta hubungan antar obyek yang didalamnya harus disentuh agar mempunyai pesan pada penikmat foto,” kata mahasiswa jurusan komunikasi UPN ini.

Beberapa pengunjung tampak serius mendiskusikan foto karya Sigid Kurniawan

Beberapa pengunjung tampak serius mendiskusikan foto karya Sigid Kurniawan

Sigid menampilkan karya-karya foto rumah-rumah berusia puluhan tahun milik warga keturunan China di daerah Ketandan. Sigid merasa tertantang untuk mengungkap cerita-cerita dibalik rumah peninggalan jaman kuno itu dengan menampilkan sisi-sisi “tua” dari rumah-rumah itu seperti dalam foto berjudul “Ventilasi Giok’

Dalam foto ini, Sigid menampilkan beberapa ventilasi yang mempunyai gaya arsitektu khas dengan bahan dasar ventilasi ini yang berasal dari giok atau keramik. “teknisnya sederhana, saya berfikir untuk bisa membuat foto saya mampu bercerita,” tandas Sigid.

“Saya merasa senang bisa membantu anak-anak muda ini supaya terus sukses, dan bukan agar saya terkenal,” kata Joko Yulianto pemilik banguna belanda dengan arsitektur China buatan tahun 1918 yang menjadi obyek potret Siid Kurniawan. (The Real Jogja/joe)

Penonton yang datang tidak hanya dari anak-anak muda pecinta fotografi tapi juga warga negara asing sama-sama serius memperhatikan karya-karya foto yang dipamerkan para peserta.

Penonton yang datang tidak hanya dari anak-anak muda pecinta fotografi tapi juga warga negara asing sama-sama serius memperhatikan karya-karya foto yang dipamerkan para peserta.

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau