art

Pameran Fotografi Outside-In, wajah-wajah wanita berpengaruh Yogyakarta dalam foto

Dimuat Redaktur Nov 25th, 2009 dalam Kategori FEATURES, FOTO, GALERI, PAMERAN DAN FESTIVAL, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Dyah Anggraini menikmati beberapa foto rekan-rekan wanitanya.

Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Dyah Anggraini menikmati beberapa foto rekan-rekan wanitanya.

Apa yang Anda rasakan jika melihat wanita-wanita yang populer, terhormat, berpengaruh menjadi obyek foto dalam ukuran yang nyaris setengah badan dan terlihat bahu tanpa sehelai benang pakaian pun?

Rasanya bisa sangat beraneka macam jika melihat wanita-wanita yang oleh publik begitu dihormati bahkan mereka mempunyai pengaruh besar terhadap lingkungannya masing-masing, harus terlihat dengan bahu terbuka pada foto-foto yang dipamerkan kepada publik.

Itulah “rasa” yang bisa muncul ketika menyaksikan pameran fotografi Mie Cornoedus berjudul “Outside-In” yang dipamerkan di Mess 56. Mie Cornoedus yang kelahiran Swedia ini menampilkan 27 wanita populer dan berpengaruh di Yogyakarta menjadi obyek karya fotografinya.

Potret istri Walikota Yogyakarta Dyah Suminar yang dimunculkan Mie Cornoedus bercampur dengan seragam resmi Walikota Yogyakarta Herry Zudianto.

Potret istri Walikota Yogyakarta Dyah Suminar yang dimunculkan Mie Cornoedus bercampur dengan wajah yang dibentuk setengah dan seragam resmi Walikota Yogyakarta Herry Zudianto.

Wanita-wanita terhormat itu antara lain Dyah Suminar, GKR Pembayun, Anggi Minarni, Dian Anggraini Rais, Farah Wardani, Larasati Suliantoro Sulaiman, Kartika Affandi, Marrie Le Sourd, Nita Azhar, Noor Sudiyati dll belasan wanita hebat lainnya.

Wanita-wanita berpengaruh ini hadir dalam bentuk foto yang hampir setengah badan dengan bahu yang terbuka. Nah dari bahu keatas inilah aneka ragam identitas, simbol tentang bidang-bidang yang wanita-wanita populer itu geluti dimunculkan Mie Cornoedus.

Anggi Minarni misalnya, oleh Mie Cornoedus dimunculkan bersama bunga tulip yang diletakkan di kepala dan digigit Anggi Minarni. Bunga tulip adalah simbol dari negara Belanda, dan Anggi Minarni adalah Direktur Karta Pustaka, Lembaga Kebudayaan Belanda di Yogyakarta.

Potret Direktur Utama Karta Pustaka, Lembaga Kebudayaan Belanda di Yogyakarta, Anggi Minarni yang sedang menggigit bunga tulip serta menyunggi bunga tulip.

Potret Direktur Utama Karta Pustaka, Lembaga Kebudayaan Belanda di Yogyakarta, Anggi Minarni yang sedang menggigit bunga tulip serta menyunggi bunga tulip.

Apa kata Anggi Minarni? “Aku menaklukan Belanda dengan gigitanku,” kelakar wanita 56 tahun ini. Anggi menjelaskan ia mau ikut dalam proyek kesenian Mie Cornoedus karena sama-sama berkecimpung dalam kesenian dan kebudayaan seperti Mie Cornoedus.

“Karena saya bekerja di lembaga kebudayaan dan berhubungan dengan apa yang dikerjakan Mie Cornoedus maka saya mau bekerjasama,” ungkap Anggi.

“Saya korban aja,” kata Larasari Suliantoro Sulaiman, ketua komunitas pecinta batik Sekarjagad yang sebelumnya berkecimpung dalam dunia bunga. Wanita 75 tahun ini bercerita tiba-tiba saja Mie Cornoedus datang ke rumahnya dan saya tidak bisa menolak ketika Mie memintanya untuk menjadi peraga.

Potret pecinta bunga Larasita Suliantoro Sulaiman yang dikerubungi bunga anggrek sekitar wajahnya.

Potret pecinta bunga Larasita Suliantoro Sulaiman yang dikerubungi bunga anggrek sekitar wajahnya.

“Saya sangat menghargai pemotretan (yang dilakukan Mie) dan hasilnya pun bagus sekali,” puji Larasati. Pada foto yang dipamerkan kepada publik tersebut, Larasati dipenuhi kerubungan bunga anggrek pada bagian bahu dan dada namun tetap terlihat senyum wanita sepuh yang masih tampak sehat ini.

Perempuan dengan posisi tersendiri

Semua karya-karya fotografi Mie Cornoedus dibuat dalam posisi  hampir setengah badan dengan kedua bahu tubuh yang terbuka. “Karena telanjang ngga bisa,” kelakar Mie Cornoedus saat dimintai komentarnya tentang bentuk obyek fotonya.

Wanita pemilik Via-Via Cafe ini menerangkan membuat foto dengan ukuran hampir setengah badan ini adalah tantangan besar karena tetap harus membangun cerita mengenai sosok yang menjadi obyek foto.

Potret Marrie Le Sourd bersama segelas anggur, simbol negaranya Perancis.

Potret Marrie Le Sourd bersama segelas anggur, simbol negaranya Perancis.

Ide pameran ini adalah tentang sosial-budaya pada kontek perempuan. Di Yogyakarta ini, banyak sekali perempuan yang mempunyai pengaruh besar namun sayang masih luput dari media. Mie ingin mempunyai karya seni dari perempuan terkenal karena apa yang telah mereka lakukan sekaligus juga mencoba menghilangkan stereotip-stereotip negatif yang masih melekat pada sosok perempuan berpengaruh di Yogyakarta.

Mie Cornoedus menyontohkan foto Dyah Suminar, istri Walikota Yogyakarta Herry Zudianto yang mempunyai banyak aktifitas namun semua masih saja tetap dipanggil dengan Ibu Herry. Itu terlihat dari foto Dyah Suminar yang oleh Mie hanya diperlihatkan bagian hidung ke atas sementara kebawahnya ditampilkan seragam resmi suaminya.

Proses kreatif yang dijalani Mie Cornoedus cukup panjang. Bertahun-tahun wanita berkacamata ini melakukan penelitian tentang infrastruktur dunia seni dan budaya di Yogyakarta selama ini yang didominasi laki-laki di barisan depan sebagai pelaku (aktor).

Dyah Anggraini Rais dimunculkan oleh Mie Cornoedus dalam bentuk kepala yang berisi taman dan kapal kertas sebagai simbol dari karya lukis yang pernah dibuat wanita berkacamata ini.

Dyah Anggraini Rais dimunculkan oleh Mie Cornoedus dalam bentuk kepala yang berisi taman dan kapal kertas sebagai simbol dari karya lukis yang pernah dibuat wanita berkacamata ini.

Ternyata Mie menemukan hampir semua “wilayah” seni dan budaya yang memegang posisi kunci adalah perempuan lengkap dengan dukungan manajerial, akademisi ataupun operasionalnya.

Mie Cornoedus menambahkan instalasi kecil yang berisi puluhan-puluhan gelas kecil berisi foto-foto perempuan yang menjadi obyek foto Mie. Mie mengatakan di dalam gelas-gelas kecil itulah wajah-wajah asli diperlihatkan.

Bagi Farah Wardani, menghilangkan stereotip perempuan yang masih dibawah laki-laki ini mengalami situasi paling berat justru ketika peran Ibu digabungkan dengan peran inisiator. Menurut Farah konstruksi sosial terbiasa melihat ‘sang Ibu’sebagai pendukung bukan si penggagas, pencetus ide yang masih diakui sebagai wilayah ‘sang Ayah’.

Mia Cornoedus dan beberapa teman kompatriotnya sedang mendiskusikan instalasi kecil dari gelas yang berisi foto-foto wajah wanita-wanita yang menjadi obyek foto Mie Cornoedus.

Mia Cornoedus dan beberapa teman kompatriotnya sedang mendiskusikan instalasi kecil dari gelas yang berisi foto-foto wajah wanita-wanita yang menjadi obyek foto Mie Cornoedus.

“Laki-laki sebenarnya juga mencari pengakuan dari laki-laki. Dan perempuan selama ini juga kebanyakan terseret dalam tendensi maskulin, mencari pengakuan dari laki-laki,menurut kriteria atau mata laki-laki,” kata Farah.

Farah yang dalam obyek foto yang dipamerkan Mie Cornoedus ditampilkan dengan membawa laptop, menambahkan karya-karya foto Mie Cornoedus adalah contoh dimana perempuan mengakui atau memvalidasi keberadaan perempuan lainnya.

“(Di buat) dengan cara menyenangkan ala perempuan di pesta piyama penuh dengan adegan-adegan manusiawi sebagai perempuan.

“Yang pasti saya senang di foto Mie. It was fun. Kinky sekali,” kata Farah. (The Real Jogja/joe)

Wajah asli Marrie Le Sourd yang diletakkan didalam gelas kecil dimana bersama puluhan gelas kecil berisi foto-foto para wanita yang difoto Mie Cornoedus yang dibangun menjadi sebuah instalasi kecil.

Wajah asli Marrie Le Sourd yang diletakkan didalam gelas kecil dimana bersama puluhan gelas kecil berisi foto-foto para wanita yang difoto Mie Cornoedus yang dibangun menjadi sebuah instalasi kecil.

Mie Cornoedus berpose didekat foto Noor Sudiyati, seniman patung dari ISI Yogyakarta yang merupakan foto favorit Mie Cornoedus dalam malam pembukaan pamerannya, Senin (23/11).

Mie Cornoedus berpose didekat foto Noor Sudiyati, seniman patung dari ISI Yogyakarta yang merupakan foto favorit Mie Cornoedus dalam malam pembukaan pamerannya, Senin (23/11).

2 Tanggapan untuk “Pameran Fotografi Outside-In, wajah-wajah wanita berpengaruh Yogyakarta dalam foto”

  1. ika mengatakan:

    Hmm… cool. Berharap punya kesempatan untuk bisa melakukan pameran tunggal juga..

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau