
Salah seorang pengunjung pameran mengabadikan karya Agus Putu Sunyadnya berjudul "Ekstase Mode On#, Ketagihan Makan Fastfood"
Kelompok seni rupa Pilar 03 untuk kali ketiga di tahun ini menggelar pameran karya seni rupa mereka. Bentara Budaya Yogyakarta yang beberapa waktu ini vakum dengan kegiatan seni-budaya menjadi tempat pameran para pelukis muda dari Bali tersebut yang akan berlangsung 3-11 November 2009 mendatang.
Ke lima anak muda anggota kelompok seni Pilar03 ini adalah I Putu Aan Juniartha, Agus Putu Suyadnya, Ida Bagus Komang Sindu Putra, I Nyoman Agus Wijaya, Widhi Kertiya Semadi dan Ida Wayan Wisnu. Kelompok seni rupa Pilar03 sendiri adalah sub bagian dari Sanggar Dewata Indonesia (SDI) Yogyakarta yang telah menjalankan eksistensi berkesenian sejak 39 tahun lalu.
Tema pameran kelompok Pilar03 ini adalah “Local Warming”. Tema ini bisa dianalogikan dengan semangat yang dimiliki seniman-seniman lokal (kelompok Pilar03) sebagai pijakan bagi langkah-langkah mereka berikutnya menghadapi isu-isu global termasuk juga isu global warming.

Karya seni 3 dimensi (patung) karya I Nyoman Agus Wijaya berjudul "Bermain"
Dan kelima anak muda Bali ini membawa nilai-nilai kehidupan masyarakat lokal Bali yang disebut Tri Hita Karana sebagai sarana mengukuhkan spirit positif menghadapi situali lingkungan global. Tri Hita Karana mempunyai makna “Tri” adalah tiga, “Hita” adalah kemulyaan dan “Karana” mekanisme hukum sebab akibat. Artinya nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali selalu berhubungan secara harmonis dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan alam semesta. Itulah spirit positif yang dimaksud.
Karya seni rupa yang muncul seperti dalam bentuk lukisan, patung, instalas dan art video seperti yang ditulis Rain Rosidi dalam catatan pameran ini, menggunakan semangat bermain namun mengesankan sikap serius terhadap budaya dan nilai-nilai lokal yang mereka jalani seperti keseimbangan, penghormatan terhadap lingkungan, kritik terhadap budaya konsumtif dan sejenisnya.
Kesemuanya itu dihadirkan dengan memunculkan kekuatan-kekuatan dalam seni lukis atau patung seperti penciptaan karakteristik proporsi tubuh dengan gelap terang sapuan kuas, penggunaan ritme garis dalam menyusun bentuk, arsiran arang (charcoal) dan penyusunan titik kecil seperti dalam teknis pointilis.

Beberapa pengunjung sedang memperhatikan lukisan berjudul "Pandangan Menggoda karya Agus Putu Sunyadnya
Seperti beberapa lukisan yang ditampilkan Ida Bagus Komang Sindu Putra yang mengolah teknis menggambar dengan arang (charcoal) yang menghasilkan kesan kertas yang teremas-remas. Melalui teknik ini, mahasiswa ISI Yogyakarta ini menciptakan ruang untuk memunculkan pandangan filosofisnya tentang alam dan kearifan lokal dalam menghadapinya.
Kertas dalam pandangan Sindu (biasa ia dipanggil) adalah bagian dari hasil eksplorasi lingkungan yang perlu diperhatikan pemakaiannya, termasuk juga dalam pemakaian kertas bekas.
Dalam lukisan berjudul “Don’t be Afraid! I Come To Paint Starry Night In 2009”, Sindu menampilkan goresan arang membentuk tengkorak nenek bertopi serta lukisan wajah wanita yang menonjol ditengah-tengah dominasi goresan arang Sindu. Bila dilihat, goresan tengkorak nenek bertopi itu mengesankan berasal dari remasan-remasan kertas yang membentuk obyek.
Karya seni berupa goresan arang (charcoal) berjudul "Don't Be a Fraid! I Come to Paint Starry Night in 2009" yang diciptakan Ida Bagus Komang Sindu Putra
Lukisan ini terinspirasi lukisan Vincent Van Gogh (1893) dimana pada waktu itu Van Gogh begitu tergila-gila selalu ingin menggambar bintang,” kata Sindu. Sementara wajah wanita yang muncul dalam lukisan Sindu ini menunjukkan kehidupan pribadi Van Gogh yang sering berganti-ganti teman dekat wanita.
Terhadap judulnya yang menyimpan ungkapan tentang “bintang yang bersinar terang pada malam hari di tahun 2009”, Sindu ingin menyampaikan pesan tentang keinginannya untuk melihat masih indahnya sinar terang bulan pada tahun 2009 dan tahun berikutnya ditengah persoalan lingkungan bumi saat ini.
Anggota Pilar03 lain, Widhi Kertika Semadi memamerkan rakitan obyek-obyek kecil secara ritmis untuk menggantikan titik-titik untuk membentuk gambar ikon dunia populer. Dalam karya berjudul “Ada Dan Telah Tiada # Super Star Series 2009” misalnya, ribuan mata boneka sebagai obyek-obyek tiga dimensi yang dipasang Widhi menciptakan asosiasi makna kuat untuk munculnya citra model Michael Jackson. Bagi Widhi, titik-titik yang muncul saat melihat karyanya mempunyai filosofi yang dalam, bahwa titik adalah awal, adalah akhir adalah bentuk itu sendiri.

"Ada Dan Telah Tiada# Super Star Series" diciptakan dari ribuan mata boneka membentuk karakter Michael Jackson karya Widhi Kertiya Sumardi
Kesan bermain-main namun serius muncul dalam beberapa lukisan Agus Putu Suyadnya. Dalam lukisan “New Generation” atau “Relaxes His Mind”, pria asli Denpasar ini seperti sedang menampilkan hal-hal lucu ketika karakter wayang sebagai tokoh sentral lukisannya, Gathotkaca yang dimunculkan lengkap dengan kostum kepahlawanannya sedang memainkan tuts-tuts playstation serta kelelahan setelah bermain play station.
Namun, sebenarnya, bentuk-bentuk lukisan karikatural yang ditampilkan Agus Putu Suyadnya ini telah membentuk problematika manusia kontemporer: tentang hilangnya nilai-nilai spiritual manusia yang ditukar nafsu kebendaan yang memuja kenikmatan serta melupakan dampak yang akan dihadapi.
Lain lagi dengan karya I Putu Aan Juniartha, yang menampilkan goresan akrilik dalam lukisan “Play Of Dream” misalnya. Permainan teknis melukis yang ia lakukan berhasil menampilkan kesan seakan sedang membuat karya seni kolase dalam lukisannya ini.

Lukisan mirip seni kolase berjudul "Play Dream" karya I Putu Aan Juniartha
“Saya ingin menampilkan sesuatu yang baru. Soal temanya saya hanya menampilkan sesuatu yang sangat personal buat saya,” kata pria berusia 25 tahun ini. Kata regret yang artinya menyesal ini oleh Juniartha dimaksudkan sebagai keinginan dirinya bertobat saat melakukan kesalahan.
“Saya inginnya tobat saat melakukan kesalahan tapi ternyata saya tetap saja melakukan kesalahan dan melakukan lagi,” jujur Juniartha.
Sementara karya seni tiga dimensi (patung) dihadirkan I Nyoman A Wijaya dengan menampilkan karakter hewan anjing, hewan yang banyak dipelihara masyarakat Bali, yang terbuat dari bahan lempengan plat bekas tubuh CPU komputer. Kesan rumit muncul pada karya “Bermain”, “Dalmation”, atau “Guard” mengingat pria kelahiran 1983 ini harus mampu melekuk-lekukan bahan plat yang amat keras.

Lukisan berjudul "New Generation yang diciptakan Agus Sunyadnya
Namun kerumitan-kerumitan dalam karya tiga dimensi pria kelahiran 1983 ini, sangat jelas memiliki pesan begitu kuat dan idealis. Pemilihan bahan daur ulang dari bekas barang elektronik yang dilakukan I Nyoman A Wijaya tentu membawa pesan tentang persoalan masa kini dunia: semakin banyaknya limbah dari industri modern.
Seperti apa yang ditulis Rain Rosidi, pameran kelompok Sanggar Dewata Indonesia Yogyakarta ini memang menyampaikan banyak sekali pesan namun tidak berarti menjadi pesan kaku. Karena pameran ini mengeluarkan harapan, kerinduan dan ajakan pada keseimbangan diri dengan cara ringan, humoris, sindiran serta renungan-renungan sarat makna. (The Real Jogja/joe)

Puluhan penonton memadati ruang pamer Bentara Budaya Yogyakarta setelah beberapa lama vakum dari kegiatan pameran









