art

Membaca masyarakat Wamena melalui si beliau Nancy Imelda Nahuway

Dimuat Redaktur Nov 2nd, 2009 dalam Kategori FEATURES, FOTO, GALERI, PAMERAN DAN FESTIVAL, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Nancy Imelda Nahuway berpose bersama lukisan " Metropolitan Brain"

Nancy Imelda Nahuway berpose bersama lukisan " Metropolitan Brain"

Dari 31 Oktober- 5 November 2009, publik Yogyakarta disuguhi tentang realitas kehidupan dari satu daerah di Provinsi Papua, Wamena dalam bentuk karya lukis dan  instalasi yang diciptakan Nancy Imelda Nahuway. Pecinta, penikmat seni Yogyakarta bisa menjumpai karya-karya si belia Nancy  yang masih menjadi mahasiswa semester lima Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Seni dan Bahasa Universitas Negeri Yogyakarta ini di Coral Art Gallery Yogyakarta.

Nancy (nama akrab gadis berdarah Ambon-Banyuwangi ini) menghadirkan tema lukisan-lukisannya “An Meke”, sebentuk bahasa asli Wamena yang berarti “saya punya” bermakna pula bahwa Nancy sedang memamerkan karya lukis ekspresi dirinya sendiri.

Nancy menghadirkan 20 karya seni rupa dengan 17 karya seni rupa berbentuk lukisan dan tiga seni instalasi. Empat diantara 17 karya lukis yang dipamerkan Nancy adalah karya lukis milik Papanya (begitu Nancy biasa memanggil ayahnya), Pieter Fredrerick Nahuway, seorang pelukis gereja di Wamena. Gadis belia berumur 19 tahun ini menggunakan beberapa media untuk mengekspresikan karya lukisnya. Bersama Papanya, Nancy menghadirkan dua lukisan dengan media kulit pohon.

"Underwear Useless"

"Underwear Useless"

Pada media kulit pohon, kanvas serta instalasi yang ia buat, Nancy berusaha untuk memperkenalkan keseharian kehidupan  masyarakat Wamena seperti cara berpakaian, asesoris dan alat kerja. Tiga instalasi yang diciptakan Nancy misalnya menampilkan jenis-jenis pakaian adat masyarakat Wamena seperti Koteka untuk laki-laki yang terbuat dari buah labu yang dikeringkan dan Sali untuk perempuan yang terbuat dari sejenis enceng gondok yang dikeringkan juga. Ada pula tas untuk menggendong bayi pada masyarakat Wamena yang disebut Noken. Nancy juga menghadirkan asesories asli Wamena seperti sisir, gelang dan alat kerja berupa kapak kecil.

Lukisan-lukisan pada kulit pohon yang diciptakan Nancy juga menceritakan tentang masyarakat Wamena. Lukisan dengan judul “Nopase” atau bapak misalnya dimunculkan dalam goresan yang menciptakan sosok bapak-bapak dari Wamena yang berpakaian koteka dengan tindik di tengah tulang hidung berupa kerang khas Papua dengan membawa alat kerja berupa kapak kecil dalam  Ada lagi lukisan milik Papanya tulang sedang membawa alat kerja berupa kapak kecil.

"Sa Anak Indonesia"

"Sa Anak Indonesia"

“Lebih susah di kayu (untuk membuat lukisan), teksturnya sangat berbeda dengan melukis di kanvas. Penekaran saat menggunakan alat melukis harus lebih kuat untuk mendapatkan lukisan yang sesuai. Kalau di kanvas biasanya lebih halus,” ujar Nancy yang mulai mempersiapkan pameran tunggalnya di Coral Art Gallery ini setelah mendapatkan kiriman lukisan kayu dari Papanya awal tahun 2008 lalu.

Seperti yang ditulis kurator pameran tunggal Nancy Imelda Nahuway ini, Dhidhik Danardhono,karya seni rupa yang dipamerkan Nancy hendak mengungkapkan bahwasannya tanah Papua adalah bagian dari Indonesia yang seharusnya juga dimiliki oleh bangsa Indonesia dan  bukan hanya orang Papua.

Lukisan "Spirit Carries On" menceritakan tradisi masyarakat Wamena yang memotong jari tangan orang yang meninggal dan dikuburkan bersama orang meninggal tersebut

Lukisan "Spirit Carries On" menceritakan tradisi masyarakat Wamena yang memotong jari tangan orang yang meninggal dan dikuburkan bersama orang meninggal tersebut

Persoalan identitas banyak mengemuka dalam konsep karya seninya dan kemudian Nancy mulai mengidentifikasikan dirinya sebagai anak adat Papua dimana ia memandang Papua telah mengalir dalam darahnya, catata Dhidhik.

Gadis belia yang aktif berpameran bersama seniman-seniman muda Yogyakarta lainnya ini, selain memunculkan sisi masyarakat Papua (Wamena) dalam perspektif “lebih ringan”, juga menghadirkan karya lukis “berat” dengan dimunculkannya beberapa lukisan yang bercerita tentang, seperti yang dikatakan Nancy, benturan tradisionalitas dan modernitas masyarakat Papua (Wamena). Atau cerita tentang kesenjangan pembangunan antara Papua dengan wilayah lain di tanah air.

Lukisan "Nopase" karya Nancy dengan media kulit pohon

Lukisan "Nopase" karya Nancy dengan media kulit pohon

Lukisan dengan judul “Metropolitan Brain” misalnya, oleh Nancy disebut sebagai kritik dia terhadap anggapan banyak pihak di luar Papua yang berfikir orang-orang Papua belum berfikir luas tentang perkembangan jaman. Bahwa Papua susah untuk modern, cara berfikirnya tidak seperti masyarakat di luar Papua.

Kritik Nancy tersebut dihadirkan dalam goresan akrilik dalam kanvas membentuk sosok orang Papua lengkap dengan tindik tulang binatang di hidung dengan diatasnya ada gumpalan otak yang berisi gedung-gedung tinggi sebagai simbol jaman modern. Ada pula beberapa tangga yang ditampilkan dalam lukisan tersebut. “Tangga-tangga tersebut adalah simbol untuk mencapai tujuan. Orang-orang Papua pun sebenarnya mempunyai tujuan hidup yang tinggi,” ujar Nancy.

Lukisan "Main Mind"

Lukisan "Main Mind"

Benturan tradisionalitas dan modernitas juga dimunculkan Nancy pada lukisan berjudul “Underwear Useless”. Lukisan ini sepertnya lebih terbangun dari mixed media dan tidak hanya dari cat akrilik karena Nancy menghadirkan sebuah pembalut dalam lukisan berukuran 150 x 120 cm ini.

Dalam lukisan ini, ada seorang Nahosa (ibu-ibu) yang sedang memanggul anaknya dengan memakai Sali dari produk pembalut modern. Bersama Nahosa itu, Nancy menempatkan gambar-gambar berbagai macam produk pembalut yang dikenal masyarakat modern serta goresan-goresan cat akrilik membentuk pulau Papua disertai tulisan angka 2009 pada gambar pulau itu.

Berbagai kebudayaan Wamena dipamerkan Nancy dalam pameran tunggal perdananya ini

Berbagai kebudayaan Wamena dipamerkan Nancy dalam pameran tunggal perdananya ini

“Masyarakat Wamena masih sedikit mengenal produk benda yang sangat pribadi. Bahkan ada yang sama sekali belum memakainya. Padahal ini (produk-produk bersyfat pribadi ini) menyangkut hal yang sangat pribadi buat mereka,” kata Nancy. Masyarakat Wamena pedalaman, menurut Nancy secara turun temurun menjalankan tradisi bila ada anak gadisnya sedang datang bulan harus diungsikan ke suatu honai (rumah adat Wamena) hingga masa datang bulannya selesai.

Goresan pulau Papua dengan angka 2009 ditengahnya ini, adalah cara Nancy memperlihatkan kepada publik tentang kehidupan jaman sekarang di pulau Papua: modernitas versus tradisionalitas.

Pesan tentang kesenjangan pembangunan yang terjadi di Papua dibandingkan wilayah Jawa muncul dalam lukian Nancy berjudul “Sa Anak Indonesia “ atau berarti “saya juga anak Indonesia”. Lukisan anak Papua dengan buku bahasa Indonesia ditangan dan pencil yang menulis bait pertama lagu Indonesia Raya adalah cara Nancy untuk mengkritik tidak meratanya pembangunan pendidikan tanah air.

Rumah adat masyarakat Wamena Honai juga dipamerkan Nancy

Rumah adat masyarakat Wamena Honai juga dipamerkan Nancy

“Pemerintah hanya memfokuskan daerah Jawa. Tetapi untuk Papua kurang sekali. Banyak fasilitas pendidikan di Papua yang tidak memadai seperti pakaian seragam yang tidak dipunyai semua anak  sekolah, gedung sekolah yang digunakan bergantian pagi sore. Satu minggu saja belum tentu anak-anak Papua bisa masuk sekolah terus,”ungkap Nancy.

Dhidhik Danardhono menyampaikan pertanyaan dalam catatannya, apakah untuk menjadi modern harus berkiblat pada pembangunan fisik dan menafikan yang tradisional?Entah harus dijawab atau tidak karena Nancy sepertinya juga masih mencarinya sendiri dalam lukisan-lukisannya serta proses berkesenian Nancy berikut-berikutnya.

Deviasi dan friksi yang muncul dari “persoalan kehidupan yang ada” menjadi tidak relevan untuk dipersoalkan lebih lanjut mengingat si belia Nancy yang anak adat itu telah memberikan suaranya. (The Real Jogja/joe)


6 Tanggapan untuk “Membaca masyarakat Wamena melalui si beliau Nancy Imelda Nahuway”

  1. yeskiel yan mengatakan:

    wa..wa..wa smoga sukses slalu dengan karya-karyanya maju rtussssssssssssss

  2. gomez mengatakan:

    bravo…bravo…
    dalam pencapaian gagasan mantap sekali untuk memvisualisasikanX dalam lukisan,,, mbak sangat cerdas dalam mengambil konsep yang akhirnya mbak tuangkan dalam lukisan.
    saya pribadi langsung mengena apa yang mbak maksud dalam lukisan mbak….

  3. Fathury mengatakan:

    semangat terus buat sahabatku nancy,,SUKSES SELALU NEN MANIZ..^.^

  4. Rolland mengatakan:

    a picture can told a thousand words

    I Proud to you,

    Yogotak Hubuluk Motok Hanorogo, Hari esok lebih baik dari hari ini

    Wa..wa..wa..

  5. johan nahuway mengatakan:

    oke ade…. kakak banga ama km, semoga tambah sukses dan maju terus….
    salam buat semua di jogja.

  6. IWAN mengatakan:

    AKU SUNGGUH BANGGA SM NENCI,,TERUTAMA DENGAN KARYA-KARYANYA YANG UNIK PENUH NUANSA TRADISIONAL..
    HAYOO…MAJU TERUS….

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau