art

Sejarah wayang Ukur telah ditinggal penciptanya

Dimuat Redaktur Okt 29th, 2009 dalam Kategori FEATURES, FOTO, GALERI, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Dua rekan berkesenian Sigit Sukarman mencoba melihat wajah Sigit untuk terakhir kalinya

Dua rekan berkesenian Sigit Sukarman mencoba melihat wajah Sigit untuk terakhir kalinya

Bagi seniman yang mengenal Sigit Sukarman, tentu saja kabar meninggalnya pencipta wayang ukur adalah sebuah kehilangan besar bagi dunia seni di Yogyakarta khususnya dan Indonesia umumnya.  Ya. Pria yang selama lebih dari separuh hidupnya memperjuangkan idealisme wayang yang ia anggap benar itu telah meninggal Kamis (29/10) akibat paru-paru dan jantungnya yang sudah rusak di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Ia pergi pada usia ke-73 tahun.

Sigit Sukarman pergi meninggalkan sejarah berkesenian yang tidak bisa diukur dengan apapun karena dengan keberanian, kesetiaan dan kerja kerasnya melahirkan pemikiran idealis yang berbeda dari kebanyakan orang tentang wayang terutama bentuknya yang mewujud dalam bentuk wayang ukur seperti yang dikenal masyarakat kita saat ini.

Proses melahirkan wayang ukur dilalui Sigit Sukarman dengan penuh tantangan. Cemoohan, kemarahan datang silih berganti menghampiri Sigit saat memperkenalkan wayang ciptaannya itu kepada orang lain. Guru wayang di Abiranda (lembaga pendidikan pedalangan kraton) memarahinya habis-habisan saat ia memperkenalkan wayang kreasi baru yang sama sekali lain dengan bentuk wayang klasik.

Relief  wayang kreasi Sigit Sukarman yang terpajang rapi di rumahnya

Relief wayang kreasi Sigit Sukarman yang terpajang rapi di rumahnya

Wartawan Koran Tempo Yogyakarta, Heru CN yang menemui Sigit Sukarman dirumahnya di Mergangsan Yogyakarta beberapa waktu lalu, menulis walaupun dimarahi gurunya, Sigit Sukasman tak patah semangat dan terus membuat gambar wayang kreasi barunya. Bahkan ia mulai berani membuat kreasi wayang dengan bahan kulit kerbau dengan menciptakan tokoh punakawan yaitu Gareng dan Petruk.yang berbeda dari wayang pakem karena ia menciptakan karakter Gareng dan Petruk dengan lebih menonjolkan karakter dan ciri khas kedua tokoh punakawan itu seperti mata, tangan dan kaki Gareng.

Berkat kegigihan dan kerja kerasnya tersebut tidak hanya ia lakukan dilingkungan ia tinggal, namun juag ia bawa ke dunia internasional seperti saat mengikuti semacam kegiatan kunjungan kesenian di negara Belanda.  Sigit Sukarman tidak mau pulang seperti teman-temannya yang lain seusai kegiatan kunjungan kesenian tersebut. Maka dimulailah pengembaraannya “menggelandang” di negeri kincir angin itu dengan bekal semangat  untuk membuat kreasi baru wayang. Susahnya hidup di negeri orang ia hadapi dengan terus menggambar wayang  kreasi baru dan menjualnya kepada masyarakat Belanda.

“Ia (Sigit Sukarman) bahkan tak peduli harus menjadi buruh cuci piring di restoran untuk sekadar bertahan hidup dan membeli peralatan gambar,” tulis Heru. Sebelum hidup “menggelandang” itu,, sebenarnya Sigit Sukarman telah berhasil membawa wayang ukur kreasinya ditampilkan pada event World Fair di New York.

Salah satu bentuk wayag dari kulit kreasi Sigit Sukarman

Salah satu bentuk wayag dari kulit kreasi Sigit Sukarman

Kepergian Sigit Sukarman pada usia 73 tahun hari ini, meninggalkan banyak cerita hidup bagi orang-orang terdekatnya dan juga bagi kawan berkeseniannya. Seniman pantomim Jemek Supardi misalnya mengenal Sigit Sukarman sebagai sosok yang kaku nan ekstrim. Kaku artinya orang lain dipaksa untuk menerima ide Sigit. Jemek menceritakan dulu pada tahun 1988 atau 1989, Sigit pernah memberikan naskah cerita teater untuk dipentaskan Teater Dinasti. Naskah tersebut sebenarnya bagus tapi cukup vulgar misalnya tentang tokoh perempuan dalam cerita teater tersebut yang tidak memakai baju.

“Nah waktu itu, oleh sutradara pementasan teaterl, naskah tersebut ingin diperbaiki, namun oleh Sigit naskah tersebut diambil dan langsung disobek-sobek. Itu terjadi tahun 19888 atau 1989 ya saya sudah lupa,” cerita Jemek.

Sementara bagi Yoyok Adiwahyono, pekerja media yang menemani hari-hari terakhir Sigit Sukarman saat di rumah sakit, Sigit Sukarman adalah the maestro dengan karya-karya masterpiece. Sigit mempunyai skill luar biasa karena mampu membentuk wayang dalam bentuk seni rupa dengan spesifikasi tertentu seperti dari kulit, fiberglass, atau berbentuk relief dan patung.

Salah satu bentuk karakter wayang yang dibuat Sigit Sukarman ini juga tersimpan rapi dirumahnya

Salah satu bentuk karakter wayang yang dibuat Sigit Sukarman ini juga tersimpan rapi dirumahnya

“Dia bisa menciptakan wayang dengan bentuk-bentuk baru dengan menggunakan media apapun tanpa ada persoalan. Sigit juga bisa membuat wayang berkarakter Solo, Yogyakarta dan Kedu baik secara klasik maupun dengan kreasi baru,” ujar Yoyok.

Sigit Sukarman toh juga manusia biasa yang bisa sakit hati juga kala mendapat cemoohan. Tapi pria dari ibu keterunan Hamengkubuwono I ini tetap menghibur diri.” Toh banyak orang lain yang mendapatkan perlakuan lebih buruk. Paling tidak saya tidak pernah dilempar telur busuk saat pertunjukan,” kata Sigit kepada Heru.

Selamat Jalan Sigit Sukarman. Selamat jalan pejuang kesenian. Karya besar seni rupa yang telah Anda kerjakan tak kan pernah tersia-siakan. (The Real Jogja/joe)

Di kamar pribadinya, Sigit Sukarman menuliskan catatan pribadinya tentang segala pemahaman soal berkesenian yang ada dalam dirinya. Banyak diantaranya ditulis pada almari pakaiannya

Di kamar pribadinya, Sigit Sukarman menuliskan catatan pribadinya tentang segala pemahaman soal berkesenian yang ada dalam dirinya. Banyak diantaranya ditulis pada almari pakaiannya

Tulisan-tulisan pribadi Sigit Sukarman juga ia tuangkan di pintu-pintu kamarn

Tulisan-tulisan pribadi Sigit Sukarman juga ia tuangkan di pintu-pintu kamarn

5 Tanggapan untuk “Sejarah wayang Ukur telah ditinggal penciptanya”

  1. eko Nuryono mengatakan:

    kapan tho ki sukasman meninggalnya?

  2. sukancil mengatakan:

    hampir 100 hr sejak meninggalnya mbah kasman tapi kok pondok seni wayang ukur masih tetap adem ayem ya?cuma banyak omongnya tp nggak ada kesimpulannya…yang jelas kok tidak ada gregetnya…apakah wayang ukur akan mati setelah ditinggal oleh maestronya??tragis sekali…kok nasibnya seniman Indonesia harus begitu semua….ckckckckckcckkkk

  3. ismoyo mengatakan:

    maaf sekedar koreksi saja, nama bukan SIGIT SUKA”R”MAN tapi SIGIT SUKA”S”MAN atau lebih populer SUKASMAN.

    Demikian koreksinya. Terima kasih

  4. rudi bagong (jogja) mengatakan:

    wayang ukur harus tetap dilestari kan.,dan penerus dari mbaH git tetap menjaga.

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau