art

Pameran Tunggal Anis Ekowindu: Keintiman Anis dengan lingkungan terdekatnya

Dimuat Redaktur Okt 21st, 2009 dalam Kategori FEATURES, FOTO, GALERI, PAMERAN DAN FESTIVAL, THE REAL JOGJA. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Anis Ekowindu berpose bersama lukisannya berjudul"Need to Right White"

Anis Ekowindu berpose bersama lukisannya berjudul"Need to Right White"

Seorang laki-laki gemuk tampak menggunakan celana pendek hitam dengan sekujur tubuh di cat warna merah berselang-seling dengan warna putih kulitnya kecuali wajah dan tangannya. Wajah laki-laki gemuk ini dimunculkan dengan tersenyum. Sementara telunjuk ke dua tangannya mengarah ke kanan. Namun liukan badannya menuju arah kiri.

Itulah salah satu lukisan berjudul “Need to Right White” karya Anies Ekowindu yang dipamerkan bersama 13 lukisan lainnya dalam pameran tunggalnya bertajuk “The Theater of Fray” di galeri Tembi Contemporary yang akan berlangsung 20 Oktober -13 November 2009 mendatang.

"It's OK Mom", lukisan karya Anis Ekowindu dari akrilik dalam kanvas

"It's OK Mom", lukisan karya Anis Ekowindu dari akrilik dalam kanvas

Lukisan “Need to Right White” menggambarkan proses pencarian diri manusia yang selalu tidak tetap walaupun ia sudah mengarahkan dirinya untuk ke arah kanan namun ia mengambil jalan ke arah kiri. Hidup manusia kelihatannya sudah baik namun sebenarnya belum total.

Ada lagi lukisan “It’s OK Mom” yang diciptakan Anis Ekowindu dengan menggunakan anaknya sebagai model anak kecil yang mulutnya penuh dengan cairan es krim seraya anak kecil itu berkata ‘ndak pa pa toh mas…!? Sementara tangan kanannya memegang es krim besar. Anis Ekowindu dalam lukisan ini sedang mengkritik perilaku orang tua yang sering kali melarang perbuatan anaknya yang mereka anggap salah, seperti makan es krim.

"Idealism vs Stomach, Akrililk pada kanvas

"Idealism vs Stomach, Akrililk pada kanvas

“Padahal dengan melarang anak dengan apa yang ia lakukan berarti orang tua telah menghilangkan eksplorasi rasa dari es krim yang ingin dirasakan anaknya,” kata pelukis kelahiran Yogyakarta, 7 Februari 1978 ini.

Pameran tunggal Anis Ekowindu yang merupakan pameran tunggal keduanya setelah sebelumnya ia lakukan di Cafe Kampung Yogyakarta tahun 2003 dengan tema “Wayang Pengilon” ini, menurut penulis pameran ini, Rain Rasidi  menampakkan langgam karya lukis yang menampakkan citra yang mudah untuk dikenali baik dari gerak, ekspresi ataupun kostum serta asesoris yang serba verbal dari para model lukisan itu.

"Crown More Blink-Blink than Peanut (Puppet vs Director Series #3), akrilik pada kanvas

"Puppet vs Director Series #4 (Hitthe Red) akrilik pada kanvas

Anis menggunakan model orang-orang yang dekat dengan kesehariannnya seperti anaknya, tetangganya dan terutama adiknya. Bagi ini, apa yang ia lakukan adalah persoalan kepraktisan dan kesepahaman antara dirinya dengan model guna mendapatkan keinginan yang sama dimana adiknyalah, Arya Ma’ruf yang sering ia ajak bekerjasama. Sang adik dipandang mampu membaca keinginan sang kakak untuk berperan sebagai model dengan berbagai macam pose dan gerak teatrikal. Penonton karya lukis Anis Ekowindu bisa menyaksikan gerakan teatrikal Arya Ma’ruf dalam lukisan berjudul “Need to the Right White” atau anaknya sendiri dalam lukisan “It’s OK Mom”.

Anis Ekowindu merekayasa adegan para tokoh itu sesuai dengan apa yang hendak disampaikannya. Seniman lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa tahun 1997 ini misalnya, menghadirkan tiga sosok figur yang sebenarnya berasal dari seorang model yang sama dalam lukisan berjudul “Crown More Blink-Blink than Peanut”. Lukisan ini menampialan salah satu sosok menjadi dalang untuk sosok lain. Dua sosok yang digerakkan sang dalang justru melakukan sesuatu terhadap dalang. Yang satu terlihat sedang memberi sang dalang mahkota sementara yang satu sedang memegang sebutir kacang ditangannya.

lukisan dari cat krillik pada kanvas ini berjudul "All About the Kitchen"

lukisan dari cat krillik pada kanvas ini berjudul "All About the Kitchen"

“ Karya ini adalah sebuah komentar sinis Anis terhadap harapan sosial dalam masyarakat yang terbentur dengan gagasan idealnya mengenai laku pribadi ataupun laku keseniannya,’kata Rain Rosidi seraya menerangkan  akan selalu terjadi benturan untuk bertindak mengikuti harapan lingkungan sosial (dengan tuntutan pada tercapainya simbol-simbol kemakmuran yang digambarkan dengan mahkota), yang berhadapan dengan keinginan memelihara mimpi idealisme seklaku seniman dan anggota masyarakat (yang digambarkan dalam bentuk kacang).

Karya-karya Anis memberikan tawaran pemaknaan seperti konsep “prihatin” yang ia maknai kembali sebagai bekerja keras. Seperti dalam lukisan “Idealism versus Stomach” yang memperlihatkan seorang ibu meneriakkan sesuatu dengan menggendong anaknya sambil membawa sepiring makanan. Ada teks yang melayang bertuliskan,”Oalah Pakne..Pakne. Kata-kata ini muncul untuk mengomentasi sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya tapi tidak bermaksud mengubahnya. Seakan-akan kalimat pasrah yang dalam menghadapi sesuatu yang tidak sesuai harapannya.

Cara Anis menciptakan karya lukisnya dengan bekerjasama orang-orang terdekatnya itu adalah salah satu sisi. Sisi lain adalah Anis harus berhadapan dengan khalayak yang bukan berada disekitarnya yang mungkin akan mengonsumsi atau melihatnya di galeri. Dan Anis berhasil menangkap sisi tersebut dengan memilih visualisasi yang cenderung umum dengan menampilkan gesture yang atraktif, pakaian putih, rambat yang diberi warna berbeda-beda, beberapa teks dan ekspresi yang begitu tentara. (The Real Jogja/Joe)

Salah seorang pengunjung sedang memperhatikan lukisan karya Anis Ekowindu berjudul "Crowb More Blink-Blink than Peanut"

Salah seorang pengunjung sedang memperhatikan lukisan karya Anis Ekowindu berjudul "Crowb More Blink-Blink than Peanut"

"A Man With 7 Pink Ladies"

"A Man With 7 Pink Ladies"

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau