Enam kelompok seni pertunjukan dari manca negara akan tampil dalam pergelaran “Jogja International Performing Arts Festival (JIPA) 2009″ pada 6-7 Oktober 2009 di Gedung Sositet Taman Budaya Yogyakarta. Pada hari pertama akan tampil Nam Jeong Ho (Korsel), Andrea K Schlehwein (Austria), Kazco Takemoto (Jepang) dan hari kedua Bimo Dance Theater (Jepang), Veronique Delarche (Perancis), Buto-sha Tenkei dan Broadway Dance Center (Jepang).
Press release yang diterima Jogajanews.com dari Jaran Productions,.pelaksana pergelaran tersebut, menyebutkan JIPA Fest 2009 mengambil tema Arts for Peace yang merupakan representasi dari keprihatinan situasi dunia yang dipenuhi teror dan barbarisme. “Untuk persoalan kampanye damai, Yogyakarta adalah tempat yang tepat,” kata Bambang Paningron dari Jaran Productions.
Selain kelompok seni pertunjukan dari luar negeri, JIPA Fest 2009 akan menampilkan Bimo Dance Theatre (hari kedua), yang baru saja pulang dari Jepang setelah mengikuti Asia Tri Japan 2009 – Echigo Tsumari di Niigata, Jepang.
Pertunjukan hari pertama akan dimulai pukul 19.30 WIB dengan pembukaan melalui performing art oleh Jemek Supardi dan Kinanthi Sekar Rahina di Lobby TBY. Tiket seharga Rp 20.000 bisa diperoleh di tempat pertunjukan, atau melalui Reservasi di Jaran productions, telp. 0274 – 885 001.
Menurut Bambang Paningron, acara yang dilaksanakan Jaran Productions ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, antara lain Taman Budaya Yogyakarta, Tembi Rumah Budaya, ISI Yogyakarta, Japan Foundation, BURO AKES Germany dan KNUA, Korea.
JAF berganti nama jadi JIPA Fest
Bambang menjelaskan, mulai tahun ini JAF akan didesain sebagai sebuah festival seni pertunjukan tahunan (sebelumnya dua tahunan ) dan berganti nama menjadi Jogja International Performing Arts Festival atau JIPA Fest. Perubahan ini dilakukan untuk lebih memfokuskan diri pada seni pertunjukan (tari, teater dan musik ) di samping untuk menghindari bias nama festival di Jogjakarta yang memakai nama JAF atau mirip JAF (Jogja Art Fair dan Jogja Asian Film Festival).
Pada mulanya JAF dibentuk Bambang Paningron pada tahun 2003, saat ia menjadi Ketua FKY 2003-2004, sebagai sebuah festival internasional di berbagai bidang seni pertunjukan dan diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Sejak awal, festival ini diselenggarakan secara mandiri oleh Jaran Productions, tanpa bantuan dari pemerintah. “Meski sudah beberapa kali kami mengusahakan untuk bisa diadopsi oleh pemerintah daerah baik Pemkot maupun Pemprov,” kata Bambang.
Hingga kali keempat di tahun 2009 ini, JAF/JIPA diharapkan bisa menjadi media komunikasi seni budaya yang terbuka terhadap partisipasi dari berbagai seniman di dunia di samping sangat bermanfaat untuk mengembangkan apresiasi seniman dan masyarakat Indonesia, khususnya Yogyakarta.
JAF/JIPA juga diharapkan mampu memberi imbas positif bagi pariwisata di Yogyakarta mengingat festival ini selain membawa citra Yogyakarta di kalangan seniman internasional juga menjadi agenda wisata tersendiri yang memperkaya khasanah seni pertunjukan dan pariwisata Yogyakarta.
JAF sejak tahun 2003 hingga kini sudah di hadiri olen lusinan group kesenian mancanegara antara lain dari Jepang, Korea, Belanda, Australia, Yunani, Singapura, Perancis, Austria. Di samping itu, seniman Indonesia juga selalu ditampilkan dalam setiap penyelenggaraannya. Pernah tampil dalam festival ini antara lain Ida Manutranggana, Setyastuti, Lena Guslena, Mugiono, S Pamardi, Bagus, Jemek Supardi, Besar Widodo, Yoko Nomura dan Hariyanto, serta Pamulangan Beksa Sasmintomardawa.
Jemek dan Anak
Sementara itu dalam catatan yang dibuat di facebook.com, Jemek menyebutkan dia akan tampil dalam JIPA Fest bersama anaknya, Kinanthi Sekar Rahina. Kali ini Jemek akan mengusung tema Dialog Cahaya.
Sedangkan tema garapannya kali ini berangkat dari kehidupan laron-laron. Menurut Jemek, kehidupan laron yang berlangsung sesaat seakan memberi banyak tamsil kehidupan yang begitu dalam. Laron yang lahirnya langusng terbang, dan ia selalu menuju cahaya, kemudin membenturkannya, sebelum akhir menemukan kesempurnaaan hidupnya; yakni kematian. (The Real Jogja/dsc)
Foto-foto: Jaran Productions












