Kerajinan Agel:Gebang pisang menuju kerajinan kelas dunia

August 28th, 2009 | 17:05

Produk tikar dari gebang pisang buatan pengrajin kelompok Kharisma Handycraft

Produk tikar dari gebang pisang buatan pengrajin kelompok Kharisma Handycraft

Gebang pisang biasa digunakan untuk tempat menancapkan tokoh wayang pada pakeliran. Bagi masyarakat yang tinggal dekat kawasan sungai, gebang pisang dipakai untuk alat bantu berenang anak-anak. Namun jika ada pihak yang mampu membuat gebang pisang menjadi produk yang bisa diminati masyarakat internasional, tentu harus mendapat acungan jempol.

Hal itulah yang sudah dilakukan para pengrajin yang tergabung dalam kelompok Kharisma Handycraft yang berada di Sentolo, Kulonprogo, gebang pisang bisa dijadikan produk kerajinan berkualitas dunia. Bagaimana hal tersebut bisa diwujudkan?

Ketua kelompok Kharisma Handycraft Tekad (41), menceritakan kerajinan agel atau gebang pisang ini muncul pada tahun 1986 di beberapa kampung yang berada di Desa Salamrejo Kecamatan Sentolo Kulonprogo., Yogyakarta. Di gunakannya gebang pisang sebagai bahan baku kerajinan agel mengingat di desa Salamrejo banyak tersedia pohon pisang yang ditanam masyarakat. Pembuatan kerajinan agel muncul juga atas bimbingan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kulonprogo. Namun pada tahun-tahun tersebut keberadaan kerajinan Agel ini seperti hidup segan mati tak mau.

Sejak tahun 1991-1992, kerajian agel menggeliat setelah beberapa pedagang lokal dan beberapa perusahaan mitra pengrajin kembali menggairahkan kerajinan Agel ini. Tekad mengatakan beberapa perusahaan yang waktu itu mempunyai andil besar untuk menghidupkan kerajinan Agel ini adalah PT Rumindo Pratama serta PT Indifan Geni Lestari.

Cara membuat

Membuat kerajinan agel memerlukan beberapa langkah pembuatan bentuk kerajinan yang diharapkan bisa jadi. Langkah pertama adalah mempersiapkan bahan baku berupa gebang yang dibelah dan direndam 1 hari penuh kemudian dilakukan proses pemepesan atau pemisahan antara agel dan gajih dan setelah itu dikeringkan. Setelah kering, agel dan gajih direbus dengan soda api (H2O2).

Produk beupa tas dari gebang pisang ini banyak diminati pembeli kerajinan agel

Produk beupa tas dari gebang pisang ini banyak diminati pembeli kerajinan agel

Untuk mendapatkan warna agel yang berbeda-beda maka dilakukan pewarnaan alami dengan cara direndam bersama pewarna tersebut setelah itu dikeringkan kembali. Setelah kering dan berwarna maka segera dilakukan proses pembuatan kerajinan agel dengan cara merajut/ menyongket menjadi berbagai macam produk kerajinan sesuai dengan model yang diinginkan atau dipesan.


Share on Facebook

Category : HEADLINE, HOBI | 1,465 views

One Response to “Kerajinan Agel:Gebang pisang menuju kerajinan kelas dunia”

  1. Saya ikut merasa senang dengan adanya hasil kerajinan tangan dari daerah ini (tempat kelahiran saya), tetapi sangat prihatin karena segi pemasarannya sangat sulit menembus pasaran di Jakarta (Jabotabeg) karena tersaing dengan produk yang berasal dari Bandung dan Bogor.

    Produk Bandung dan Bogor dari segi kualitas bahan baku lebih baik karena dari bahan kulit binatang maka dengan sendirinya lebih tahan lama dan lebih elite.

    Saran saya sebagai berikut.

    1. Coba kembangkan kualitas bahan baku yang tahan lama dan tidak rusak jika basah (kehujanan).
    2. Kalau kualitas model sudah oke dan tidak kalah dengan daerah lain, jadi pertahankan.

    Semoga sukses, terima kasih.
    P. Sumaryo (asli Salamrejo, dukuh blog V, Kidulan).

Leave a Reply