Produk tikar dari gebang pisang buatan pengrajin kelompok Kharisma Handycraft
Gebang pisang biasa digunakan untuk tempat menancapkan tokoh wayang pada pakeliran. Bagi masyarakat yang tinggal dekat kawasan sungai, gebang pisang dipakai untuk alat bantu berenang anak-anak. Namun jika ada pihak yang mampu membuat gebang pisang menjadi produk yang bisa diminati masyarakat internasional, tentu harus mendapat acungan jempol.
Hal itulah yang sudah dilakukan para pengrajin yang tergabung dalam kelompok Kharisma Handycraft yang berada di Sentolo, Kulonprogo, gebang pisang bisa dijadikan produk kerajinan berkualitas dunia. Bagaimana hal tersebut bisa diwujudkan?
Ketua kelompok Kharisma Handycraft Tekad (41), menceritakan kerajinan agel atau gebang pisang ini muncul pada tahun 1986 di beberapa kampung yang berada di Desa Salamrejo Kecamatan Sentolo Kulonprogo., Yogyakarta. Di gunakannya gebang pisang sebagai bahan baku kerajinan agel mengingat di desa Salamrejo banyak tersedia pohon pisang yang ditanam masyarakat. Pembuatan kerajinan agel muncul juga atas bimbingan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kulonprogo. Namun pada tahun-tahun tersebut keberadaan kerajinan Agel ini seperti hidup segan mati tak mau.
Sejak tahun 1991-1992, kerajian agel menggeliat setelah beberapa pedagang lokal dan beberapa perusahaan mitra pengrajin kembali menggairahkan kerajinan Agel ini. Tekad mengatakan beberapa perusahaan yang waktu itu mempunyai andil besar untuk menghidupkan kerajinan Agel ini adalah PT Rumindo Pratama serta PT Indifan Geni Lestari.
Cara membuat
Membuat kerajinan agel memerlukan beberapa langkah pembuatan bentuk kerajinan yang diharapkan bisa jadi. Langkah pertama adalah mempersiapkan bahan baku berupa gebang yang dibelah dan direndam 1 hari penuh kemudian dilakukan proses pemepesan atau pemisahan antara agel dan gajih dan setelah itu dikeringkan. Setelah kering, agel dan gajih direbus dengan soda api (H2O2).
Produk beupa tas dari gebang pisang ini banyak diminati pembeli kerajinan agel
Untuk mendapatkan warna agel yang berbeda-beda maka dilakukan pewarnaan alami dengan cara direndam bersama pewarna tersebut setelah itu dikeringkan kembali. Setelah kering dan berwarna maka segera dilakukan proses pembuatan kerajinan agel dengan cara merajut/ menyongket menjadi berbagai macam produk kerajinan sesuai dengan model yang diinginkan atau dipesan.
“Jenis kerajinan agel yang dibuat dari gebang pisang antara lain tas, dompet, tikar, place mat, keranjang, bantal dan topi,” kata Tekad saat ditemui pada pameran tekstil dan kerajinnan Indonesia di JEC beberapa waktu lalu. Usaha kerajian alami sari serat agel ini membuat produk dengan menyesuaikan pemesanan yang masuk. Selain itu pengrajin juga melakukan proses penjualan serta membuat contoh produk kerajinan baru sebagai penawaran produk baru.
“Dengan cara membuat contoh produk tersebut diharapkan calon pembeli bisa melihat-lihat, memilih dan akhirnya membeli contoh produk kerajinan yang dibuat pengrajin, “ ujar pria berputra dua ini.
Kapasitas produksi para pengrajin agel di Desa Salamrejo ini cukup tinggi mencapai 2000 pieces per bulan per produk. Namun pembuatan produk kerajinan agel ini sangat tergantung pada pemesanan produk yang dilakukan pembeli. Jumlah pengrajin agel yang masuk menjadi anggota Kharisma Handycraft mencapai 297 orang tersebar di delapan kampung yang berada di wilayah Desa Salamrejo.
“Biasanya untuk produk berupa kotak (box) kita bisa menyelesaikannya dalam waktu 3 hari untuk pembuatan satu kotaknya,” jelas Tekad.
Omset penjualan
Sebagai sebuah kelompok yang sudah berkembang, Kharisma Handycraft mempunyaia omset penjualan yang bisa dikatakan besar. Tekad menyebutkan tiap bulannya omset penjualan yang didapat bisa mencapai Rp110 juta perbulan. Jumlah tersebut sangat jauh sekali jumlahnya bila dibandingkan omset pada awal-awal kerajinan agel ini muncul yang hanya berkisar Rp5 juta-Rp10 juta perbulan.
Produk topi dari gebang pisang yang dibuat pengrajin kelompok Kharisma Handycratf
Produk yang dominan dibeli pembeli adalah produk berbentuk box dan tas Untuk satu produk tas dari agel dijual dengan harga Rp10 ribu-Rp75 ribu. Sedang untuk harga dompet berkisar Rp5 ribu-Rp25 ribu. Untuk produk berupa kotakan dihargai dengan harga Rp110 ribu-Rp230 ribu.
Sementara untuk produk yang tergolong lumayan mahal adalah tikar. Tikar termahal mencapai Rp1,5juta-Rp2 juta untuk ukuran yang sangat besar dan luas. Namun jika menginginkan harga miring Anda bisa mendapatkan harga Rp350 ribu dengan ukuran tikar yang lebih kecil. Pasangan produk tikar yaitu bantal bisa dimiliki dengan harga Rp210 ribu.
Sebagai usaha yang sudah berkembang, kerajinan agel yang diproduksi kelompok Kharisma Handicratf ini selain diminati dan dibeli pembeli dalam negeri juga mampu menembus pasar internasional. Pembeli dari dalam negeri berasal dari kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Bali selain tentu saja wilayah Yogyakarta. Sementara untuk pasar internasional, produk kerajinan agel ini sampai ke negara-negara Eropa seperti Swedia dan Amerika walaupun masih harus melalui bantuan perantara.
“Untuk pembeli lokal, biasanya mereka sangat menyukai produk tas dan kotakan. Untuk tas biasanya digunakan pembeli untuk perlengkapan sehari-hari sementara untuk kotakan banyak dibeli hotel-hotel tempat pakaian yang akan dicuci (loundry),” jelas Tekad.
Harga produk tikar dan bantal ini llumayan mahal. Produk tikar yang paling besar berharga Rp1,5 juta-Rp2 juta. Sementara produk bantal mencapai Rp210 ribu
Mengingat semakin berkembangnya usaha kerajinan agel yang telah menjangkau seluruh kampung yang ada di Desa Salamrejo, kelompok Kharisma Handicraft yang mempunyai anggota ratusan pengrajin ini ke depan akan berencana merubah Desa Salamrejo menjadi desa wisata. Untuk mewujudkan harapan itu, menurut Tekad, pihaknya sudah bersiap membangun gapura masuk ke desa Salamrejo dengan memberi tulisan desa wisata pada gapura tersebut. Selain itu sudah direncanakan pula pembuatan tempat pamer (show room) produk kerajinan agel serta pembentukan koperasi pengrajin agel.
“Kita sudah berencana untuk membuat show room produk kerajinan agel dan juga sudah muncul pemikiran untuk membuat koperasi pengrajin agel,” tandas Tekad.
Anda tertarik untuk membuat kerajinan agel ini atau tertarik bekerjasama dalam banyak hal dengan kelompok Kharisma Handycraft yang sangat menguasai kerajinan agel ini, silakan mengunjungi kelompok Kharisma Handicratf yang beralamat Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Atau silakan menghubungi Bapak Tekad pada nomor 085868199045.(The Real Jogja/joe)
Harga produk tas dari gebang pisang ini berharga Rp10 ribu-Rp75 ribu










Saya ikut merasa senang dengan adanya hasil kerajinan tangan dari daerah ini (tempat kelahiran saya), tetapi sangat prihatin karena segi pemasarannya sangat sulit menembus pasaran di Jakarta (Jabotabeg) karena tersaing dengan produk yang berasal dari Bandung dan Bogor.
Produk Bandung dan Bogor dari segi kualitas bahan baku lebih baik karena dari bahan kulit binatang maka dengan sendirinya lebih tahan lama dan lebih elite.
Saran saya sebagai berikut.
1. Coba kembangkan kualitas bahan baku yang tahan lama dan tidak rusak jika basah (kehujanan).
2. Kalau kualitas model sudah oke dan tidak kalah dengan daerah lain, jadi pertahankan.
Semoga sukses, terima kasih.
P. Sumaryo (asli Salamrejo, dukuh blog V, Kidulan).