Kearifan lokal atasi kesenjangan
August 14th, 2009 | 00:10
Sebanyak 19 dari 25 perguruan tinggi di Indonesia menghadiri upacara peluncuran “World Conference on Science, Education and Cultural 2010″ yang bertujuan menggali kearifan lokal untuk mengatasi berbagai masalah kesenjangan yang ada di dunia.
“Masalah kesenjangan, adalah masalah paling besar yang kini dihadapi di dunia, yaitu kesenjangan antara manusia dengan manusia ataupun antara manusia dengan alam,” kata Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Soedjarwadi, di Yogyakarta, Rabu(12/8).
Menurut Sudjarwadi, nilai-nilai kearifan lokal di Indonesia sangat beragam dan untuk bisa menjadi solusi bagi berbagai permasalahan dunia, maka nilai-nilai kearifan lokal tersebut juga harus disinergikan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang juga dimiliki oleh penduduk dunia.
Ia mencontohkan, salah satu kearifan lokal yang bisa ditemukan di masyarakat Indonesia untuk memperkecil kesenjangan antara manusia dengan lingkungan alam adalah perkiraan dan juga jenis tanaman yang akan ditanam oleh petani.
Petani, lanjut dia, memiliki perhitungan sendiri berdasarkan kearifan lokal menyangkut waktu tanam sekaligus jenis tanaman yang cocok ditanam pada saat musim-musim tertentu.
Atau nilai-nilai kearifan lokal yang diterapkan oleh masyarakat Yogyakarta untuk melakukan pemulihan pasca gempa bumi yang terjadi pada Mei 2006.
“Masyarakat Yogyakarta mampu melakukan pemulihan yang cepat dan bisa dikatakan paling cepat dibanding masyarakat lain yang terkena gempa karena menerapkan nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong,” lanjutnya.
“Dan melalui acara ini, Indonesia diharapkan bisa memiliki kontribusi yang besar melalui kearifan lokal yang dimilikinya untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh dunia,” katanya.
Sementara itu, Rektor Universitas Mulawarman yang mewakili perguruan tinggi datang dalam acara peluncuran tersebut menyambut baik diadakannya acara tersebut.
“Banyak pihak yang saat ini hanya memikirkan permasalahan global saja, tetapi meninggalkan permasalahan lokal yang tidak kalah banyak,” katanya.
Ia menyatakan, di Kalimantan Timur atau wilayah Indonesia Timur pada umumnya, mengalami masalah kesenjangan dalam bidang pembangunan dengan wilayah Indonesia Barat.
“Padahal, sumber daya alam di Indonesia Timur sangat berlimpah, tetapi ketinggalan dalam pembangunan. Inilah yang membuat adanya pemikiran macam-macam,” katanya.
Oleh karenanya, lanjut dia, permasalahan-permasalahan tersebut memerlukan penyelesaikan dan salah satunya adalah dengan mengedepankan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat setempat.
“Pertumbuhan ekonomi tetap dipacu, tetapi kualitas sumber daya alamnya juga tetap harus terpelihara. Aspek pembangunan ekonomi tidak boleh terpisahkan dari aspek pembangunan lingkungan,” ujarnya.(The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : BERITA JOGJA, HEADLINE, budaya | 1,325 views
Tags : kearifan lokal










