Sukamto (bawah memakai batik) sedang melayani pembeli luar negeri yang membeli kerajinan buah catur miliknya
Ada banyak contoh kondisi orang penyandang cacat (penca) yang terjadi pada seseorang malah membuat orang tersebut menjadi sosok yang mampu bekerja tidak kalah dengan orang yang bukan penca. Bahkan bisa jadi penca tersebut punya kemampuan lebih. Salah satu orang tersebut adalah Sukamto (41), penca yang “harus” cacat terlebih dahulu untuk bisa seperti saat ini, menjadi pengrajin kerajinan kayu yang mampu mengekspor kerajinan kayu sampai ke Eropa dan Amerika.
Awal mula menjadi pengrajin handycraft
“Awalnya dulu saya ingin mengubah nasib dari keluarga pengrajin kayu. Tak tahunya ketika bekerja di tempat pembuatan roti kala itu, nasib saya akhirnya benar-benar “berubah” juga,” seloroh Sukamto bercerita tentang kecacatan yang membawa dirinya berubah menjadi pengrajin kayu hingga saat ini.
Peristiwa yang mengubah warna hidup Sukamto tersebut terjadi pada awal 1988. Setelah kejadian tersebut, Sukamto kembali ke pekerjaan yang sejak kecil ia senangi yaitu membuat kusen kayu. Kemudian pada tahun 1994 Sukamto merintis pekerjaan membuat mebel bersama-sama dengan beberapa temannya. Saat itu, Sukamto bekerja di bagian finishing mebel sementara teman-temannya dibagian pengerjaan bentuk mebel.
Pada tahun 1997, Sukamto masuk ke Yakkum Craft, sebuah yayasan rehabilitasi penyandang cacat. Di tempat inilah Sukamto mendapatkan pelatihan mengenai kerajinan kayu sehingga pengetahuannya meningkat. Berkat kepandaiannya, Sukamto akhirnya diberi jabatan sebagai manajer produksi di Yakkum Craft hingga beberapa tahun lamanya. Dari proses panjang menjadi manajer produksi kerajinan kayu tersebut telah memunculkan pemikiran serta keputusan pada diri Sukamto untuk membuka usaha produk kayu secara mandiri. Keputusan membuka usaha kerajinan kayu tersebut ia lakukan pada tahun 2001.
Kerajinan buah catur milik Sukamto yang berharga hingga Rp.4 juta
Maka pada tahun tersebut, petualangan baru Sukamto sebagai pembuat produk kayu dimulai dengan memberi nama usaha perkayuan dengan nama Wahana, yang diambil dari nama kecil dirinya. Sejak saat itu, Sukamto tidak hanya mengerjakan kusen namun juga pintu, dan mebel sambil aktif di Yakkum Craft dengan mengerjakan apa saja yang bisa ia lakukan.
Perjalanan usaha perkayuan Sukamto terus berjalan, hingga pada tahun 2007 akhir, Sukamto memutuskan mengganti nama usahanya dari Usaha Dagang Wahono menjadi AFTA Craft. Nama AFTA ini berasal dari gabungan nama anak pertama dan keduanya. Sejak saat itu pula, Sukamto mema suki dunia kerajinan (handycraft) kayu serta permainan pendidikan (education toys). Karena harus berkonsentrasi pada pekerjaan barunya, Sukamto memutuskan untuk melepas jabatannya sebagai manajer produksi di Yakkum Craft. Oleh yayasan Sukamto diperbolehkan melepas jabatannya namun tidak boleh keluar dari Yakkum Craft.
“Di Yakkum Craft saya kadang bekerja sebagai petugas maintenance atau juga kadang menjadi pemberi pengarahan membuat barang-barang produksi kayu kepada anggota yayasan,” kata pria berperawakan kurus ini.
Pengerjaan kerajinan kayu
Untuk membuat kerajinan kayu miliknya, Sukamto mencari bahan baku kayu berupa Mahoni, Jati serta Sonokeling dari wilayah Wonosari. “Saya hampir tidak menemui kendala untuk mendapatkan bahan baku kayu untuk membuat kerajinan di rumah,” kata Sukamto yang ditemui saat mengikuti pameran Invesda Expo di JEC beberapa hari lalu.
Kerajinan tempat buah milik Sukamto yang sudah di pesan buyer dari Denmark
Bahan baku yang dibeli Sukamto biasanya sudah berupa blandongan dan papan. Selain itu ia juga membeli kayu-kayu limbah yang nyaris tidak terpakai. Di terangkan harga paling mahal yang harus ia beli adalah kayu Jati berbentuk blandongan dengan harga mencapai Rp.800 ribu hingga Rp.3 juta. Sementara yang bentuk papan bisa mencapai Rp.5 juta sedang kayu bentuk papan dari Mahoni seharga Rp.2,5 juta.
“Selain itu saya juga membeli kayu-kayu kecil yang sudah tidak terpakai. Biasanya kayu-kayu limbah tersebut saya buat untuk tempat buah,” kata Sukamto.
Dalam membuat kerajinan kayu ini, kerajinan yang paling susah dibuat adalah membuat buah catur berukuran besar serta bentuk kuda karena bentuk dari dua kerajinan ini yang sangat memerlukan ketelitian dan kemampuan tinggi dalam membuatnya.
Harga produk kerajinan
Tentang harga jual kerajinan kayu yang dibuatnya, Sukamto menerangkan, ada hasil kerajinan yang berharga murah ada pula yang mahal harganya. Produk yang murah misalnya kerajinan puzzle misalnya ia akan menjual dengan harga Rp.10.000,00 saja. Harga lebih mahal lagi adalah kerajinan tempat buah yang ia jual dengan harga Rp.45.000,00. Sementara itu, harga paling mahal yang ia berikan kepada pembeli adalah untuk harga produk kuda berukuran besar yang ia patok harganya sebesar Rp.5 juta. Ada lagi kerajinan buah catur yang ia jual seharga Rp.350.000,00 hingga Rp.4.000.000,00 sudah dengan papan caturnya. Namun jika ada pembeli yang ingin membeli buah catur tanpa papan, mereka bisa membayar lebih murah sebesar Rp. 2.500.000,00.
“Kerajinan kayu berupa tempat buah itu sudah dipesan oleh buyer dari Denmark. Dua minggu lagi akan datang uang pangkalnya sehingga saat ini saya harus bersiap-siap,” kata Sukamto sambil memperlihatkan kerajinan tempat buah yang terbuat dari kayu-kayu kecil sisa (kayu limbah).
Begitulah. Ternyata pembeli produk kerajinan kayu milik Sukamto sudah sampai ke negara-negara Eropa. Bukti lain juga langsung terlihat oleh Jogjanews saat melihat ada wisatawan dari Amerika Serikat membeli kerajinan buah catur milik Sukamto di event Invesda Expo 2009 di JEC beberapa waktu lalu.
“Saya membeli buah catur ini untuk oleh-oleh keponakan saya di Amerika sana. Bentuknya bagus dan murah. Kalau di Amerika juga ada namun harganya mahal karena sudah buatan pabrik,” kata Piper, wanita wisatawan dari Amerika dengan bahasa Indonesia yang fasih saat Jogjanews bertanya. Saat itu, Piper mengeluarkan uang Rp.350.000,00 untuk membeli buah catur milik Sukamto.
Produk lain yang sering di pesan pihak buyer luar adalah kerajinan buah catur lengkap dengan papannya. Sementara untuk pembeli lokal kebanyakan adalah ritailer kerajinan dari wilayah Yogyakarta dan kota-kota sekitarnya. Biasanya mereka membeli kerajinan-kerajinan yang bentuknya kecil-kecil seperti tempat buah, atau almari sebagai hiasan rumah.
“Omset saya sebulan bisa mencapai Rp.30 juta,” ungkap Sukamto saat ditanya omset penjualan yang ia dapatkan dalam sebulannya. Dalam satu bulannya ia bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp.2-3 juta. Cukup kecil memang namun hal tersebut tidak menjadi persoalan bagi Sukamto karena bagi warga Bokoharjo, Prambanan, Sleman ini. Bagi Sukamto yang terpenting saat ini bisa memberikan pekerjaan kepada teman-temannya yang berjumlah 13orang.
Anda tertari ingin belajar kerajinan kayu, atau ingin memesan kerajinan kayu di AFTA Craft milik Sukamto? Silakan datang ke tempat pengerjaan kusen, pintu, mebel, handycraft, dan education toys AFTA Craft yang berada di Jalan Prambanan-Piyungan Km 3. Perum Boko Permata Asri C 1 No 1 Rt 5/30, Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Atau Anda bisa telpon ke (0274) 4398752.(The Real Jogja/joe)
Kerajinan berbentuk kuda ini harganya mencaoai Rp. 5 juta










JATI GLONDONG PENDEMAN…UMUR 100th Lebih, telah ditemukan!!! ada 2 Glondong.panjang 2 m. diameter 1,5. hub. john 081234058776
SIAPA CEPAT DIA DAPAT…MAAF AGAK MAHAL. KHUSUS KOLEKTOR ONLY!!!!!
saya pumya kebun jati banyaknya skitar 650 pohon lebih bwrumur 15 tahun rata2 diameter 70-80 cm, jika berminat hubungi saya di no 085659556654
saya mau supply kayu mahoni.dengan siapa yg bisa saya hubungi.ini nomer saya 081383988808