art

Perak 2009, upaya seniman gali potensi terpendam Kotagede

Dimuat Editor Agu 10th, 2009 dalam Kategori FEATURES, FOTO, PAMERAN DAN FESTIVAL. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa melewati bab ini dan langsung meninggalkan komentar. Ping tidak diijinkan.

Joglo klasik sebagai cagar budaya di Gang Kerukunan 9 yang jadi obyek lukisan pelukis
Joglo klasik; cagar budaya di Gang Kerukunan 9, jadi obyek lukisan pelukis

Meski Bulan Puasa masih dalam hitungan pekan, pemerhati seni serta seniman Jogjakarta sudah lama bersiap ber-“Marhaban ya Ramadhan”. Ini terlihat misalnya dari kiprah seniman dan pemerhati seni di Omah Ropingen, Pandeyan, Kotagede. Di sana mereka menggelar Pekan Ramadhan Kotagede 2009 atau disingkat Perak.
Selain untuk menyambut datangnya Ramadhan, Perak juga untuk memperingati 422 tahun Jumenengan Panembahan Senopati sebagai Raja Islam pertama di Mataram. Selain itu, kegiatan ini dimaksudkan untuk ikut serta menemukan dan mengembangkan bagian-bagian dari dunia kepariwisataan Kota Jogjakarta pada uumunya, dan khususnya dunia pariwisata Kotagede yang kaya ragam seni, budaya, kuliner, religi, dan obyek wisata.
Perak yang dimulai 2 Agustus dan akan berakhir 7 Oktober 2009 itu mengambil tempat di sejumlah situs heritage Kotagede, seperti makam raja-raja Mataram, lorong-lorong perkampungan di Kotagede yang mempunyai situs heritage seperti rumah joglo, musik tradisional serta masjid.
Kegiatan awal Perak adalah pendokumentasian kawasan cagar budaya Kotagede. Hal itu dimulai para seniman dengan melukis tempat makam raja-raja Mataram pada 2 Agustus. Sedangkan pada Minggu 9 Agustus, sebanyak 50 pelukis melanjutkan kegiatan serupa dengan melukiskan lorong-lorong Gang Kerukunan 9 di Kampung Alun-Alun Pandeyan Kotagede.

Kesenian Thek-Thek Nano-Nano di lorong Gang Kerukunan 9; obyek lukisan

Kesenian Thek-Thek Nano-Nano di lorong Gang Kerukunan 9; obyek lukisan

Koordinator “melukis bersama” dalam acara Perak 2009, Godod Sutejo, mengatakan kegiatan melukis situs heritage Gang Kerukunan 9 dimaksudkan untuk menampilkan potensi seni dan budaya yang dipunyai kawasan Kotagede. Dengan adanya media massa yang memberitakan potensi seni dan budaya yang ada di Gang Kerukunan 9, diharapkan masyarakat di luar Kotagede tidak hanya mengenal Kotagede sebagai pusat kerajinan perak.
“Dengan melukis situs heritage di lorong-lorong kampung seperti ini, dan diberitakan media massa , maka orang luar Kotagede tidak hanya mengetahui kerajinan perak saja tapi juga tahu banyak seni dan budaya terpendam yang perlu juga dimunculkan,” kata Godod Suteja.

Pengrajin tembaga, aset Kotagede, juga jadi obyek gambar.

Pengrajin tembaga, aset Kotagede, juga jadi obyek gambar.

Menurut Godod, lorong-lorong di Gang Kerukunan 9 memiliki banyak situs budaya dan seni yang sangat perlu ditampilkan ke permukaan seperti rumah joglo dan masjid klasik, kerajinan tembaga, perak, sungu, dan kesenian thek-thek nano-nano.
“Banyaknya situs budaya dan seni ini perlu diekspos agar ruh Kotagede sebagai bisa terangkat sehingga warga Kotagede tidak menjual situs peninggalan jaman dulu mereka,” tambah Godod Suteja.
Goresan Joglo dari tangan Titin Sidin, anak pelukis Tino Sidin. Dengan semangat itulah maka para pelukis dari beberapa aliran seperti Godod Suteja, Titik Sidin, Totok Basuki, Trimakno, Suwaji, M Dwi Maianto, Lahendra, Djoko Sarjono, Dewobroto, Ledek Sukadi dan empat siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jogjakarta yaitu Andi, Hoggi, Herry dan Fandy tampak serius melukis beberapa situs seni dan budaya yang ada di Gang Kerukunan di Kampung Alun-Alun. Obyeknya antara lain pengrajin tembaga yang sedang bekerja, kelompok seni thek-thek nano-nano, serta bangunan joglo serta masjid klasik.
Para pelukis menggunakan media kertas HVS dengan pensil, bolpen dan spidol serta cat lukis air. Mereka melukis beberapa kali dengan mengambil berbagai sudut pandang yang berbeda.
“Susah sih. Obyek gambarnya rumit,” kata Andi yang diiyakan Hoggi, dua siswa SMSR Yogyakarta mengomentarai obyek lukisan yang sedang mereka lukis.
Andi, Hoggi, serta dua temannya Herry dan Fandy mengaku mengikuti kegiatan melukis bersama-sama pelukis senior dalam rangka untuk mendapatkan pengalaman.
Kegiatan pendokumentasian situs-situs heritage di Kotagede masih akan berlangsung 16 Agustus mendatang dengan mengambil obyek lukisan Pasar Kotagede dengan segala aktivitasnya.
Godod Suteja mengatakan hasil karya para pelukis nantinya akan dipamerkan di Omah Ropingien di Jalan Pandean No.858 Kotagede Jogjakarta (sebelah timur Pasar Kotagede) pada 7 September hingga 7 Oktober 2009.
“Karya para pelukis tersebut akan dibuatkan katalognya agar bisa dilihat masyarakat luar Kotagede sehingga mereka bisa tahu banyaknya potensi seni dan budaya yang terpendam di Kotagede,” kata Godod.
Rangkaian acara selanjutnya nanti adalah Bazar Perak yang mengetengahkan pameran kuliner berupa makanan dan minuman tradisional khas Kotagede. Bazar kuliner ini akan dilakukan sejak awal Puasa yaitu 21 Agustus sampai 20 September dari pukul 14.30-18.30 WIB di depan Masjid Besar Mataram. (The Real Jogja/joe)

Mereka serius menuangkan lorong Gang Kerukunan 9 dalam gambar.

Mereka serius menuangkan lorong Gang Kerukunan 9 dalam gambar.

1 Tanggapan untuk “Perak 2009, upaya seniman gali potensi terpendam Kotagede”

  1. andhika rhaiditya mengatakan:

    coba tengok Indonesia Sketchers……

Tinggalkan Komentar

Pariwara

250x250

Galeri Foto

120x600

Masuk log / The Real Jogja Powered by Om Kicau