Anda penggemar makanan atau jananan tradisional? Jika demikian, pasti pernah makan atau minimal mendengar nama “kipo”. Ya, kipo adalah salah satu jajanan tradisional yang bisa ditemukan di Jogjakarta.
Salah satu pembuat dan penjual kipo yang popular di Jogja adalah Bu Surepti yang menjual penganan itu di kios yang diberi nama sesuai panggilan sehari-hari pemiliknya “Bu Surepti”.
Kekhasan kipo Bu Surepti adalah aroma harum yang berasal dari daun pisang yang terbakar dalam proses pembuatannya dan aroma nangka sebagai salah satu bahan adonan di dalam panganan tersebut.
Meski sehari-hari bergelut dalam pembuatan kipo, Bu Surepti sendiri sendiri mengaku tidak tahu mengapa jajanan ini disebut kipo. Konon, menurut cerita dari orang tuanya, nama itu muncul dari pertanyaan orang kepada pembuat pertama kue itu dengan kalimat Tanya, “Iki apa? (iki opo atau ini apa?)” Soal benar tidaknya, tidak ada yang bisa memastikannya. Menurut Ny Surepti, selain dirinya, ada beberapa kerabatnya yang juga berjualan kue kipo di seputaran Kecamatan Kotagede.
Ditemui JogjaNews.Com di kios miliknya yang terletak di sisi barat Pasar Kotagede, Bu Surepti menjelaskan kipo dibuat dari bahan ketan sebagai bahan luarnya serta adonan nangka, kelapa dan gula merah untuk bagian dalam. Nangka adalah satu-satunya buah yang dipakai sebagai isi kipo sejak kali pertama kipo dibuat di keluarga Bu Surepti.
Pembuatan kipo dimulai dari pemilihan beras ketan yang baik yang kemudian dibuat tepung dan dijadikan adonan. Adonan ketan untuk kipo diberi perwarna alami kayu saju dan katu sehingga terlihat kehijau-hijauan.
Sebagai bahan dalamnya, dibuat adonan yang merupakan campuran nangka yang diiris kecil-kecil, kelapa serta gula merah yang kemudian direbus. Perebusan adonan pada pembuatan kipo di tempat Bu Surepti memakan waktu sampai 8 jam karena jumlahnya memang relatif banyak.
Proses selanjutnya adalah membungkus adonan nangka plus kelapa dengan adonan ketan. Setelah dibungkus dengan daun pisang, kemudian dibakar di atas lempengan tembaga sampai matang dan siap saji.
Saat ini di tempat Bu Surepti pembakaran dilakukan di atas nyala api kompor gas. Pada awalnya dulu, pembakaran dilakukan di atas bara arang dengan tatakan terbuat dari cobek tanah. Dengan cara lama tersebut memang dihasilkan kipo yang aroma harumnya lebih menyengat namun sekarang dilakukan di atas bara kompor gas agar lebih efisien.
Setelah melalui proses pembakaran, bungkusan kipo yang dibuat kecil-kecil diletakkan di daun pisang yang dibentuk segi empat. Tiap lima kue kipo ditempatkan di atas selembar daun pisang. Per paket bungkusan tersebut oleh Bu Surepti dijual seharga Rp.1.000.
Dalam sehari, Bu Surepti mengaku menghabiskan ketan 4 kilogram untuk 300 kue kipo dengan omset penjualan sekitar Rp.300.000. Ingin coba? (The Real Jogja/joe)















Baru tau…iki opo..Kipo…perlu dicoba……