Untuk kali kesekian pemain pantomim kenamaan Jogjakarta, Jemek Supardi, menggelar pentas. Jemek kali ini tidak hanya berakting untuk kaum seniman namun juga untuk masyarakat umum yang berada di Taman Seni Gabusan Bantul.
Sebab tujuan pentas dia, sebagaimana dijelaskannya sebelum manggung, merupakan rangkaian pertunjukan kesenian yang diharapkan bisa membantu keberadaan Pasar Seni Gabusan Bantul yang dirasakan belum optimal.
Sebagaimana dimuat JogjaNews.Com sebelumnya, Jemek malam itu berkolaborasi dengan Kelompok Angon Naga dari Kelurahan Patangpuluhan bertutur tentang pertarungan antara nilai-nilai tradisional dengan kekuatan ekonomi-sosial-politik besar yang akan menguasai dunia dengan menerkam apa saja yang menghalangi langkahnya termasuk nilai-nilai tradisional di Indonesia.
Jemek sukses membuat simbol nilai-nilai tradisionalisme dengan asesoris beragam peralatan dapur seperti serok, sonthil, kukusan, enthong, bambu, besek caping dan lain-lain. Simbol-simbol tradisional inilah yang kemudian dijadikan “teman dialog ” Jemek begitu membuka pentas “Jemek Melawan Naga”.
Sebagaimana digambarkan dalam pentas, Jemek harus tertatih-tatih dan tertindih ketika melawan kekuatan Naga.
Menurut Jemek Supardi, penggunaan properti alat dapur dari kayu dan bambu adalah penggambaran alat produksi memasak secara tradisional jaman dulu sebagai simbol kekuatan ekonomi sekaligus kesadaran akan penghijauan. Namun saat ini masyarakat sudah mengganti alat dapur tradisional tersebut dengan bahan plastik yang mempunyai persoalan lingkungan sangat serius.
“Sekarang ini seperti wilayah Kotagedhe atau Gabusan sendiri sudah dipernuhi barang-barang dari Cina walaupun orang Cina dilarang masuk,” kata Jemek menegaskan.
Pada pertunjukan yang berdurasi kurang lebih 30 menit tersebut, Jemek memulai adegan dengan berdialog beragam peralatan tradisional. Di tengah dirinya tekun berinteraksi dengan alat-alat tersebut, dia terusik dengan kedatangan naga yang menari-menari yang tak urung membuat Jemek ketakutan. Sebab, sang naga tiba-tiba mendekat, mengepung dan menyerang Jemek yang tak kuasa membendung serangan tersebut.
Dengan simbol-simbol yang dibawakannya, Jemek malam itu berhasil menggambarkan pertarungan dua kekuatan yang bertolak belakang.
Tanpa embel-embel idealisme muluk-muluk, Jemek akhirnya menyodorkan realita. Sebagaimana digambarkan dalam pentas malam itu, Jemek harus mengakui dirinya tergulung oleh gelombang kekuatan luar yang dahsyat. Sang Naga sukses melilit dirinya yang menjadikanya lemas tak berdaya.
“Pada akhirnya kita memang kalah melawan kekuatan global yang saat ini gencar menyerbu Tanah Air,” kata Jemek.
Tentang pentas itu sendiri, Jemek mengaku hanya menyiapkan secara intens selama 2-3 hari.
Jemek malam itu juga terlihat sukses mengarahkan detil gerak Kelompok Angon Naga Patangpuluhan yang beranggota 19 orang. Kerja sama antara Jemek, perancang produksi Eko Nuryono dan artistik Gendon Tohyora, pantas mendapat acungan jempol mengingat persiapan pentas yang sangat minim namun telah mampu mengejewantahkan misi pentas dan mendapat aplaus puas dari pemerisanya. (The Real Jogja/joe)
Foto-foto The Real Jogja/Pujoko Joe














