Vegetarian belum menjadi gaya hidup

July 9th, 2009 | 07:31

Konon menjadi vegetarian merupakan gaya hidup. Benarkah demikian? Di Indonesia belum. Minimal begitulah pandangan Prasasto Satwiko, Koordinator Pusat Studi Energi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY).
Menurut Prasasto, vegetarian banyak dianggap berkaitan dengan ajaran agama tertentu. Belum dipandang sebagai gaya hidup. Memang, alasan utama menjadi vegetarian biasanya demi kesehatan. Di sejumlah negara maju, alasan itu telah bergeser menjadi demi lingkungan dan etika.
Kaum vegetarian baru di negara-negara maju sekarang menempatkan lingkungan dan etika sebagai alasan, ujarnya Kamis (10/7). Lingkungan dipakai sebagai alasan karena pemakaian energi untuk menghasilkan daging teramat mahal dan merusak alam.
Sementara etika berhubungan dengan manusia yang mestinya menghargai binatang sebagai sesama. Dalam bingkai perikemanusiaan, binatang jangan diperlakukan semena-mena. Sikap semena-mena, termasuk membunuh binatang secara keji, akan berimbas ke perilaku.
Gaya hidup itu bukan tentang orang yang smakan sayur dan buah karena tak suka mengonsumsi atau membeli daging. “Tapi tentang orang yang memakan sayur dan buah karena mereka suka dan mendapat manfaat,” kata Prasasto yang juga vegetarian ini.
Proses membunuh hewan dan keterbiasaan manusia melihat penderitaan hewan-apalagi hewan konsumsi-sedikit banyak berdampak pada perilaku. Kenyataan membuktikan kaum vegetarian lebih bisa menjaga kestabilan emosi ketimbang orang yang mengonsumsi daging.
Gaya hidup vegetarian, kata Prasasto yang dikutip kompas.com, dalam beberapa tahun terakhir sudah menjadi tren di negara maju seperti Inggris dan Selandia Baru. Namun uniknya, Selandia Baru adalah negara pengekspor daging ke banyak negara, termasuk Indonesia. (The Real Jogja/joe)


Share on Facebook

Category : BERITA JOGJA | 117 views
Tags : , ,

Leave a Reply