Dinas Kesehatan Provinsi DIY mengakui dari tahun ke tahun kasus HIV/AIDS di DIY meningkat cukup tajam. Banyak kasus HIV/AIDS muncul disebabkan penggunaan Narkoba suntik.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DIY dr Bondan Agus Suryanto memberikan data pada bulan Juni hingga awal Juli ini, dari pelaksanaan uji HIV/AIDS kepada 100 orang yang dilakukan Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito melalui program Provider Initiated HIV Testing dan Counceling (PITC), didapatkan sebanyak 89 orang yang positif HIV/AIDS.
Bondan Agus Suryanto menerangkan pihaknya terus berkoordinasi dengan banyak pihak untuk peningkatan penanggulangan HIV/AIDS termasuk mendorong komisi penanggulangan HIV/AIDS kabupaten/kota untuk tetap bekerja dalam penanggulangan HIV/AIDS. Setidaknya hampir seluruh komisi penanggulangan HIV/AISD di Provinsi DIY terus melakukan kegiatan penanggulangan seperti KPA Yogyakarta, Bantul, Sleman dan Kulon Progo.
Selain itu mendorong dinas/instansi terkait seperti dinas pendidikan, dinas agama, dan lain-lain untuk lebih meningkatkan perannya sesuai dengan wewenangnya.
Di samping itu, ditambahkan Bondan, untuk pencegahan di tingkat wilayah kecamatan dinas kesehatan propinsi terus mengkoordinasikan dengan Puskesmas melalui banyak program seperti program VCT (Voluntary Counseling and Testing), program PMTCT (Prevention of Mother-to-Child Transmission) untuk pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak, CST (Care Support and Treatment) dari rumah sakit dan Puskesmas, pemeriksaan dan pemberian obat ARV (Antiretroviral virus).
“Dinas Kesehatan Provinsi DIY juga menyediakan anggaran untuk kegiatan pencegahan HIV/AIDS melalui kerja sama dengan Global Fund seperti pengadaan ARV dan kegiatan VCT untuk tahun 2010 dengan anggaran minimal Rp 1 miliar,“ ungkap Bondan.
Dinas Kesehatan Provinsi DIY juga bekerja sama dengan LSM-LSM yang bergerak di bidang HIV/AIDS dan Narkoba untuk memaksimalkan penanggulangan HIV/AIDS agar lebih intensif.
Selain itu, pada tahun ini juga program Harm Reduction bagi pecandu narkoba yang telah dijalin antara Dinas Kesehatan Provinsi DIY dengan RSUP Dr Sardjito, akan diperluas lagi dengan mengikutsertakan RS Jiwa Grhasia Pakem, Sleman. Hal ini dilakukan agar pecandu narkoba lebih aman tidak terlihat oleh masyarakat pada saat mereka akan memeriksakan diri. Untuk penyediaan jarus suntik obat Metadon bagi pecandu narkoba, rencananya Dinkes akan bekerja sama dengan LSM yang didirikan oleh para bekas pencandu narkoba.
“Anggaran untuk pengadaan Metadon akan disediakan Departemen Kesehatan dengan menyesuaikan kebutuhan,” ungkap Bondan.
Pada bagian lain, terkait adanya darah PMI yang sudah terinfeksi HIV/AISD, Bondan berharap agar pemeriksaan darah di PMI lebih bisa meningkat baik dalam ketelitian pemeriksaan maupun kualitas pemeriksanaanya. Menanggapi tentang adanya darah PMI yang terinfeksi HIV/AIDS Bondan mengharapkan agar pemeriksaan darah di PMI harus lebih ditingkatkan kualitas dan ketelitiannya. (The Real Jogja/joe)









