Walikota bereaksi keras atas keluhan sekolah pada siswa ber-KMS
July 6th, 2009 | 21:50
Munculnya keluhan dari guru sekolah negeri yang merasa akan mengalami kesulitan untuk mengajar siswa dari orang tua pemilik KMS mendapatkan reaksi keras dari Walikota Yogyakarta Herry Zudianto.
Senin(6/7) Herry Zudianto mengatakan kekecewaannya dengan adanya keluhan dari guru-guru sekolah tersebut. “Saya sangat kecewa saat mendengar ada guru-guru di sekolah negeri mengeluh akan mengalami kesulitan dalam mengajar siswa dari keluarga ber-KMS. Para guru tersebut tidak mengetahui tugas pokok guru yang harus mampau mengoptimalkan potensi siswa ,” kata Herry Zudianto kepada wartawan di Balaikota.
Menurut Herry Zudianto, jika ada siswa dari keluarga ber-KMS sekolah di sekolah negeri yang dianggap favorit oleh masyarakat maka akan membuat guru semakin tertantang untuk memperlihatkan dalam memberi pelajaran apabila sekarang guru juga sudah mempunyai sertifikat mengajar yang harus dibuktikan dalam mengajar siswa dari warga peserta KMS.
“Karena sudah bersertifikat maka mereka akan mendapatkan ujian mengajar. Lagi pula jika siswanya sudah pintar, bilung pun kalau jadi guru pasti bisa,” kata Walikota.
Herry Zudianto menerangkan, prestasi guru dan sekolah akan diukur apabila mampu menghasilkan siswa yang berkualitas meski sebelumnya guru atau sekolah tersebut memiliki kemampuan yang tidak terlalu tinggi. Dengan kuota pendidikan khusus siswa dari warga ber-KMS bisa masuk ke sekolah negeri, akan dapat diketahui apakah sekolah yang selama ini difavoritkan menjadi sekolah berkualitas atau hanya karena siswa yang masuk sekolah tersebut sudah berkualitas.
Selain itu, menurut Herry Zudianto, terkait kemungkinan akan tertinggal siswa ber-KMS dalam hal pelajaran akademik dibanding siswa lainnya, Pemkot Yogyakarta akan bertanggung jawab dengan membiayai tambahan belajar kepada siswa dari warga ber-KMs tersebut.
“Saya akan bertanggung jawab tidak hanya memasukkan siswa ke negeri tetapi juga menjaga agar mereka mampu berkompetisi. Nanti para siswa tersebut bisa dimasukkan dalam les khusus,” ungkap Herry Zudianto.
Bagi Herry, kurangnya kemampuan akademik siswa keluarga KMS lebih disebabkan karena siswa tersebut tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan tambahan belajar melalui berbagai macam les di luar sekolah.
“Beda dengan siswa dari keluarga mampu yang bisa dengan mudah mengikuti berbagai macam les, sehingga kemampuannya lebih baik,” katanya.
Terkait belum terpenuhinya kuota kursi siswa ber-KMS di beberapa sekolah favorit di Kota Yogyakarta, baik dari jenjang SMP dan SMA, Herry mengatakan orang tua siswa ber-KMS tersebut takut jika anaknya nanti tidak mampu mengikuti gaya hidup di lingkungan sekolah sehingga mereka memilih untuk tidak menyekolahkan anaknya di sekolah favorit.
“Namun dengan dikeluarkannya kuota siswa ber-KMS ini diharapkan mampu melahirkan kualitas pemerataan pendiikan di banyak bidang seperti kurikulum dan sarana prasarana,” ujar Herry. (The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : BERITA JOGJA | 195 views
Tags : KMS, PENDIDIKAN, penerimaan siswa baru, Yogyakarta










