Pemkot Yogyakarta merasa percaya diri untuk bisa mendapatkan penghargaan Swasti Sabha Wistara, untuk kali kedua setelah tahun 2007 lalu. Optimisme Pemkot tersebut ditunjukkan dengan beberapa inovasi agar terlihat tidak sama saja dengan 2 tahun yang lalu sehingga bisa mempertahankan penghargaan Swasti Sabha Wistara sebagai penghargaan tertinggi bagi kota sehat se-Indonesia.
“Kami telah mengembangkan inovasi baru di tujuh bidang tatanan kesehatan yang dinilai,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Choirul Anwar, di Yogyakarta, Jumat (3/7).
Diterangkan Choirul, inovasi yang telah dilakukan di antaranya dalam pengembangan bidang transportasi dengan diadakannya moda transportasi umum baru, yaitu Trans Jogja. Selain itu di bidang kesehatan, juga telah direncanakan pelayanan asuransi kesehatan semesta (universal coverage).
Saat ini pun, menurut Choirul, Pemkot Yogyakarta tengah mempersiapkan peraturan walikota (Perwal) tentang sertifikasi makanan sehat yang dijual oleh PKL. Persiapan Perwal tersebut saat ini sedang dalam pembahasan oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) tentang sertifikasi makanan sehat yang dijual oleh pedagang kaki lima (PKL).
Pelayanan kesehatan tanggap darurat atau Yogya Emergency Services (YES) 118, juga merupakan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Terkait penilaian lomba Kota Sehat ini, Ketua Tim Verifikasi Penilai Kabupaten/Kota Sehat 2009, Ir Biskar, menyatakan pihaknya akan membandingkan kondisi Kota Yogyakarta pada saat menerima penghargaan Wistara pada 2007 dengan kondisi tahun ini.
“Mempertahankan predikat sebagai kota sehat tentunya lebih sulit dibanding saat meraihnya. Sehingga kami sebagai tim penilai hanya akan membandingkan kondisinya,” kata Biskar.
Menurut Biskar, kondisi Kota Yogyakarta pada saat ini sudah mengalami perbaikan dan peningkatan dibanding 2007, terutama dalam tujuh indikator yang dinilai. (The Real Jogja/joe)









