Saat ini banyak tersedia lowongan pekerjaan menjadi perawat di beberapa negara Asia dan Amerika seperti Jepang, Korea, Timur Tengah, Kuwait, Arab dan Amerika Serikat. Namun kendala penguasaan bahasa asing sebagai tuntutan kelancaran berkomunikasi masih menjadi persoalan yang dihadapi para perawat yang hendak bekerja di luar negeri guna mengisi lowongan kerja yang ada tersebut.
“Pada akhirnya banyak perawat yang tidak berhasil bekerja ke luar negeri karena terkendala pada kompetensi bahasa terutama bahasa Inggris,” ungkap Ketua Persatuan Perawat Nasional (PPNI) DIY, Kirnantoro, Jum’at (3/7).
Kirnantoro menerangkan pada tahun 2009 ini saja Jepang menyediakan 1.000 pekerjaan bagi perawat, tapi hanya 104 perawat yang bisa lolos kompetensi bahasa Inggrisnya. Belum negara lain seperti Korea, Timur Tengah dan paling banyak Amerika.
“TOEFL perawat kita kadang belum bisa mencukupi,” terangnya.
Selain persoalan bahasa, menurut Kirnantoro persoalan budaya juga mempengaruhi minat para perawat untuk bekerja di luar negeri. Sekitar 80% perawat adalah perempuan, dan ketika akan keluar daerah atau keluar negeri biasanya dilarang oleh keluarga dan orang tua mereka masing-masing.
“Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, perawat–perawat kita sekarang harus mengikuti uji kompetensi agar kompeten di bidangnya terkait tentang keterampilan perawat baik untuk perawat lulusan D3, maupun S1 yang dinilai oleh assesor tingkat nasional,” kata Kirnantoro.
Terkait persoalan perawat, Kirnantoro meminta pemerintah segera mengesahkan RUU keperawatan menjadi UU agar bisa melindungi keberadaan perawat lokal di Tanah Air maupun saat bekerja di luar negeri mengingat pada tahun 2010 mendatang perawat dari luar negeri diperbolehkan bekerja di Indonesia.
Diakui saat ini sudah ada payung hukum yang melindungi perawat yakni Kepmenkes 1293/2001 tentang registrasi dan praktek perawat. “Namun kalau RUU disahkan menjadi UU maka payung hukumnya akan lebih tinggi sehingga perawat dapat terlindungi dan bekerja baik di dalam negeri maupun luar negeri juga terjamin,” kata Kirnantoro.
Sementara itu Sri Rahayu, pejabat Humas PPNI DIY mengatakan berbagai latihan dan ketrampilan berbahasa Inggris telah dilakukan guna membekali para perawat.
“Pada 2010 nanti direncanakan 15 ribu perawat asing akan datang ke Indonesia. Maka kita juga harus mempersiapkan bahasa Inggris, selain tentunya ilmu pengetahuan dan kemampuan perawat,” kata Sri Rahayu. (The Real Jogja/joe)









