Eksploitasi air tanah sudah berlebihan
June 28th, 2009 | 03:38
Dewasa ini telah terjadi eksploitasi air tanah secara berlebihan di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Denpasar. Hal tersebut berdampak pada penurunan permukaan tanah atau “land subsidience” yang selanjutnya berpengaruh pada posisi infrastruktur yang ada sehingga perlu tindakan pencegahan lanjutan.
Pernyataan tersebut dikemukakan Menteri Pekerjaan Umum Dr Djoko Kirmanto dalam peresmian stasiun aktif Global Positioning System/Global Navigation Satelite System Jurusan Teknik Geodesi Fakultas Teknik UGM Yogyakarta, Sabtu(27/6).
Menurut Djoko Kirmanto, penurunan permukaan tanah di bantaran banjir pada alur sungai akan memperparah dampak banjir yaitu akan semakin dalam dan semakian luasnya daerah genangan seperti yang terjadi di Jakarta Utara, Bandung dan Semarang.
“Selain itu penurunan permukaan tanah juga berdampak pada infrastruktur lain seperti penurunan jalur rel kereta api di Kota Semarang, turunnya beberapa bangunan gedung di Jakarta yang mengakibatkanya beberapa gedung bangunan mengalami keretakan dan miring (condong),” kata Ketua Umum Kagama tersebut.
Djoko menerangkan sedimentasi pada alur-alur sungai khususnya pada sungai-sungai besar menjadi persoalan besar di bidang sumber daya air.
“Sedimentasi ini berakibat pada pendangkalan alur sungai atau agradasi dasar sungai yang akhirnyua menimbulkan bencana banjir pada musim hujan dan sulit dilaluinya alur sungai tersebut oleh kapal-kapal besar pada musim kemarau. Padahal untuk mengetahui laju gradasi sungai pada setiap lokasi yang potensial perlui dilakukan topografi atau dengan bathimetri yang tidak mudah dilakukan,” kata Djoko Kirmanto.
Ditambahkannya,masalah sedimentasi juga terjadi pada danau serta waduk yang berfungsi untuk penyediaan air baku serta pengendalian banjir. Oleh sebab itu hilangnya sebagian atau seluruh tampungan waduk oleh endapan sedimen akan mengurangi atau menghilangkan fungsi waduk.
Dengan banyaknya sungai, danau dan waduk di seluruh wilayah Indonesia, tentu akan sangat sulit untuk melakukan pemantauan secara terus menerus setiap tahun dengan titik referensi pengukuran yang akurat.
“Dengan teknologi stasiun aktif global positioning sistem atau global navigation satelite sistem, pekerjaan pemantauan secara terukur dan akurat akan bisa dilakukan lebih mudah,” ungkap Djoko. (The Real Jogja/joe)
Share on Facebook
Tweet
Category : BERITA JOGJA | 388 views
Tags : banjir, eksploitasi air, PENDIDIKAN, UGM, Yogyakarta










