Gus Mus: Umat Islam Bertanggungjawab Pada Kondisi Indonesia
May 31st, 2009 | 02:30
Umat Islam merupakan mayoritas bangsa Indonesia sehingga mereka yang paling bertanggung jawab pada baik-buruknya negeri ini, kata pengasuh Pondok Pesantren Taman Pelajar Rembang, Jawa Tengah KH Ahmad Mustofa Bisri.
“Umat Islam yang mayoritas, dapat membuat Indonesia indah atau jelek, tergantung pada seberapa jauh pemahaman dan penghayatan mereka tentang keindahan Islam,” katanya di Yogyakarta, Sabtu.
Islam yang indah, menurut dia, dalam pidato penganugerahan Doctor Honoris Causa (HC) bidang kebudayaan Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, pasti dan seharusnya dapat menjaga atau mengembalikan keindahan Indonesia.
Ia mengatakan, Islam datang membawa cahaya melawan kegelapan, membawa ilmu dan kearifan melawan kejahiliyahan, menyempurnakan budi pekerti, dan membangun peradaban.
“Allah yang Maha Indah menyintai keindahan dan menciptakan alam semesta yang indah, menurunkan kitab suci ALquran yang indah kepada Rasul yang berpribadi sangat indah, merahmati sekalian alam dengan keindahan,” kata pria yang akrab dipanggil Gus Mus.
Menurut dia, keindahan Alquran diejawantahkan oleh Rasulullah SAW dalam perilaku dan tatanan kehidupan yang indah. Peradaban Islam yang menghargai manusia dengan seluruh potensinya, baik jasmani maupun rohani.
Selain itu, menjunjung tinggi martabat kemanusiaan yang dimuliakan Allah, peradaban yang mengagungkan keadilan dan kebajikan, penegakan hukum, dan persamaan hak.
“Peradaban Islam adalah peradaban yang indah yang merupakan rahmat bagi sekalian alam,” kata dai yang juga seniman dan kolomnis media massa itu.
Semua keindahan itu lambat laun terutama belakangan dipertanyakan. Bahkan, di negeri yang mayoritas beragama Islam ini keindahan Islam bukan saja tidak tampak, tetapi dalam banyak hal malah menampakkan kebalikannya.
Keindahan Islam seolah tinggal tampak dalam asas-asas atau sila-sila Pancasila tanpa mewujud dalam kehidupan. Asa Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, yang seharusnya mampu memerdekakan manusia, tidak mampu lagi membuat manusia melepaskan diri dari belenggu perbudakan materi, kepentingan, dan diri sendiri.
“Oleh karena itu, jika kita ingin mengembalikan keindahan Islam dan sekaligus mengembalikan keindahan Indonesia, kita sungguh perlu
mereformasi keberagamaan kita dengan mengawali mengkaji ulang apa yang selama ini kita anggap sudah benar dengan berpedoman pada dua pusaka yang ditinggalkan Nabi Muhammad saw, yakni Alquran dan Sunnah Rasul saw,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tim Promotor Prof Dr Machasin MA mengatakan, berbagai karya pikir dan aktivitas Gus Mus telah menjadi inspirasi bagi segenap sivitas akademika UIN SUnan Kalijaga untuk lebih konsisten dengan visi dan misinya ikut mengembangkan Islam budaya dalam masyarakat bangsa yang plural.
Berdasarkan pertimbangan itu sudah selayaknya jika UIN Sunan
Kalijaga sebagai lembaga penididkan tinggi Islam memberikan apresiasi pada segala karya yang telah dihasilkan Gus Mus.
“Pemberian gelar Doctor HC kepada Gus Mus adalah wujud dari apresiasi tersebut, mengingat sumbangsih Gus Mus yang tidak ternilai bagi umat Islam khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya,” katanya.
Hadir dalam acara itu antara lain Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin. (Mitra JogjaNews.Com)
Share on Facebook
Tweet
Category : BERITA JOGJA | 183 views
Tags : anugerah doktor, Gus Mus, umat Islam










